Followers

Google
 

Meraih Untung dengan Mengolah Kaleng Bekas

Monday, April 18, 2011

Dengan kreativitas, kaleng minuman bekas pun bisa diolah menjadi benda bernilai jual tinggi. Kaleng-kaleng bekas softdrink diubah menjadi miniatur sepeda motor atau binatang untuk pajangan.

Seorang perajinnya bisa meraup omzet lebih dari Rp 10 juta per bulan.

Kaleng jelas bukan termasuk sampah yang mudah terurai oleh alam. Padahal, saban hari ada begitu banyak kaleng bekas, khususnya yang berasal dari minuman softdrink menyesaki tempat-tempat pembuangan sampah. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada bumi kalau pembuangan kaleng bekas ini terus berlangsung.

Gifson Harianja pun menemukan cara unik memanfaatkan limbah kaleng-kaleng. Pria yang bermukim di Jatiwaringin, Bekasi, ini berhasil "menyulap" kaleng-kaleng bekas menjadi benda yang bernilai jual tinggi.

Awalnya dia melihat banyak kaleng bekas yang terbuang. "Saya berpikir kenapa tidak mencoba untuk merakit sebuah karya seni dari kaleng bekas itu," cerita Harianja.

Ia pun membawa kaleng-kaleng bekas ke tokonya. Sembari menunggui barang dagangan di tokonya, Harianja mengutak-atik kaleng yang dikumpulkan menjadi miniatur seorang pemulung. Tak disangka, tiba-tiba ada seorang yang melewati tokonya dan menawar hasil karyanya itu dengan harga Rp 25.000.

Sekarang, Harianja pun berkonsentrasi pada pembuatan miniatur dari kaleng bekas. Ia membuat miniatur vespa, patung tugu pancoran, motor Harley Davidson dan pesawat. Harga jualnya berkisar Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per unit.

Selain miniatur single, Harianja juga merancang miniatur kehidupan, seperti seorang pemulung atau orang tua yang sedang berjualan. Meski terlihat lebih rumit, harga jual miniatur kehidupan ini cukup murah, yakni Rp 80.000 per unit.

Proses pengerjaan produk miniatur kaleng bekas pun cukup sederhana. Harianja hanya menggunakan tang dan gunting pada proses produksi. Dia sendiri yang berperan mendesain model berbagai karyanya.

Ia pun membatasi bahan bakunya hanya kaleng bekas minuman. "Karena kaleng lain, semisal bekas susu, terlalu tajam dan susah dibentuk," ujarnya.

Harianja mengaku tak kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku kaleng bekas. Pasalnya, ia mempunyai banyak teman yang membuka usaha kafe. Alhasil, suplai kaleng bekas pun diperolehnya dari teman-temannya itu.

Sebagai tambahan, sering pula Harianja membeli kaleng bekas dari para pemulung. Ia pun sering menjual potongan kaleng yang benar-benar tak terpakai kepada mereka.

Ia pun memilih tak mewarnai sebagian hasil karyanya, karena, menurut Harianja, proses pewarnaan justru akan menghilangkan kesan daur ulang. "Nanti orang justru menebak miniatur ini dari kayu," ujarnya.

Dalam sebulan, Harianja mampu menjual 40 miniatur. Omzetnya pun mencapai Rp 2 juta. "Orang yang suka bisa langsung membeli empat sampai lima buah," ujar Harianja.

Lantaran hasil karyanya yang cukup unik ini, ada beberapa sekolah yang memintanya menjadi guru kesenian. Namun, Harianja terpaksa menolak karena tak ingin kiosnya terbengkalai.

Omzet yang lebih besar bahkan diperoleh Kusnodin, perajin miniatur kain bekas lainnya yang berlokasi di Yogyakarta. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet lebih dari Rp 10 juta.

Berbeda dengan Harianja, Kusnodin memilih membentuk miniatur binatang, seperti belalang, merak, burung elang, dan lainnya. Di bawah bendera Karya Baru, Kusnodin memulai usaha ini sejak tahun 1987.

Miniatur buatan Kusnodin ini bahkan sudah menembus pasar ekspor. Maklum, ia mempunyai distributor seorang warga negara Australia. Dari tangan distributor inilah, produk miniatur kaleng bekas ini dikirim ke Australia, Jepang, dan Belanda. "Saya hanya memproduksi saja," ujarnya.

Selain menyediakan miniatur dalam warna kaleng, Kusnodin juga menyediakan miniatur yang telah dicat. Maklum, Kusnodin punya kegemaran melukis. "Ini untuk memenuhi selera konsumen yang belum tentu suka warna kaleng," ujarnya.

Tak heran, rentang harga miniatur produksi Karya Baru ini cukup lebar. Banderol harganya Rp 125.000 hingga Rp 10 juta per unit. "Selain dari ukuran, patokan harga juga tergantung tingkat kerumitan saat pembuatan," jelasnya.

Kusnodin pun memberi contoh, ia pun pernah mematok harga hingga jutaan rupiah saat menjual miniatur elang. Ia mengklaim, miniatur itu sangat mirip aslinya.

Untuk mengerjakan berbagai pesanan yang mampir ke bengkelnya, Kusnodin bisa memperkerjakan hingga 60 karyawan. Tetapi jumlah karyawan berubah-ubah, tergantung order. Ia pun mengandalkan para pekerja yang berasal dari tetangga kanan kiri di lokasi bengkelnya, di Magelang.

Selain mendapatkan keuntungan, baik Harianja maupun Kusnodin mengaku senang karena dapat berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Karena tidak semua pabrik dapat mengolah kembali kaleng-kaleng bekas, di sinilah perajin berperan memanfaatkan kaleng bekas.

Harianja pun optimistis akan masa depan usahanya. Pasalnya, walaupun di Indonesia banyak yang menjual miniatur, biasanya bahan yang digunakan adalah kayu atau plastik. Sementara, perajin yang menggunakan kaleng bekas sebagai bahan baku masih sedikit. (Dharmesta/Kontan)

Selengkapnya...

Dengan Barang Bekas Menembus Eropa

Monday, April 11, 2011

Usaha craftnya yang kolaps, tidak lantas membuat Roni Dwi Hartoyo, si pengusaha mebel recycle dari Pasuruan, Jawa Timur, putus asa.

"Dulunya sih saya (usaha) craft, akhirnya berkembang ke barang-barang yang seperti sekarang ini, yang bahan bakunya dari recycle," tutur Rony, pemilik usaha mebel dengan nama Sono Indah Perkasa, kepada Kompas.com, di Jakarta, Minggu ( 10/4/2011 ).

Usaha craftnya, yang membuat kerajinan-kerajinan kecil, seperti mobil-mobilan, hingga alat makan, kolaps karena peristiwa bom Bali. Mengingat usahanya waktu itu dipasarkan ke pulau yang bersebelahan dengan Jawa Timur ini.

Dalam waktu sekitar setengah tahun, ia beralih ke usaha mebel yang memanfaatkan barang-barang bekas, seperti bekas bantalan kereta api, kapal kayu, bongkaran rumah, hingga roda pedati yang tidak lagi terpakai.

"Keuntungannya, satu, kita memanfaatkan limbah, barang-barang bekas. Yang kedua, kalau ekspor itu kita lebih mudah, karena masuk negara-negara maju itu sangat ketat menerapkan ijin masuk kayu-kayu baru, karena ada kaitannya dengan illegal logging," tuturnya, sebagai jawaban mengapa menggunakan barang atau kayu bekas.

Dengan penggunaan barang bekas, selain ramah lingkungan, Roni menuturkan, ekspor pun lebih mudah masuk. Mulai tahun 2005 hingga saat ini, usaha mebel recycle Roni telah memasuki sejumlah negara Eropa, seperti Belgia dan Bulgaria, hingga Timur Tengah. Namun, seiring dengan gejolak ekonomi di Eropa hingga gejolak politik di Timur Tengah, maka ekspor pun mulai berkurang. "Sekarang ini ekspor mulai kita kurangi. Ternyata pasar lokal lebih bagus. Karena ekspor (ke) Eropa nggak seberapa. Ekonomi di sana lagi nggak sehat," sebutnya.

Selain negara-negara jauh tersebut, Roni juga memasarkan produknya ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei. Meskipun tidak banyak, karena permintaan pasar yang menginginkan produk bagusa tapi murah. Namun demikian, ia tetap menomersatukan pasar domestik. "Pasar lokal kalau kita garap benar. Itu bagus," jelasnya, sembari menyebutkan, pasar luar Jawa, seperti Kalimantan, yang cukup potensial dengan hadirnya orang-orang kaya baru yang merupakan pengusaha sawit dan batu bara.

Kelebihan lain dari produknya, yaitu penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan untuk proses finishing. "Kita nggak pakai bahan-bahan seperti melamin. Itu nggak sehat, beracun,"sebutnya. Ia lebih memilih menggunakan wax yang waterbase.

Mengenai omzet, Roni menyebutkan pendapatan kotor dapat mencapai Rp 300-500 juta sebulannya. Namun, sebenarnya ini bukan yang membanggakan. "Yang membanggakan, kita menyerap banyak tenaga kerja, yang nyari-nyari atau hunting (barang bekas)," tuturnya. yang dapat mencapai 50 orang, untuk mencari barang bekas hingga ke Pulau Madura. Sedangkan karyawan tetapnya hanya berjumlah 35 orang.

Terkait dengan kendala dalam usahanya, ia pun menyebutkan, kalau berusaha modal seberapapun tidak menjadi masalah. "Modal apa adanya, kemampuan kita bisa eksis merupakan kebanggaan tersendiri," jelasnya, yang menyebutkan di situlah seninya menjadi pengusaha.

Sebagai cara untuk menarik konsumen, Roni pun berkreasi dalam setiap pameran yang diikutinya dengan produk barang yang selalu berbeda 40 persen dari pameran sebelumnya.

Selengkapnya...

Berkat Limbah Kayu Raup Puluhan Juta

Sunday, April 10, 2011

Bagi sebagian orang, kayu sisa bangunan hanya dianggap sampah tidak bermanfaat. Namun, tidak demikian bagi Yoga Suratmoko. Di tangannya, kayu bekas bangunan yang sudah tidak terpakai dapat berubah menjadi suatu hasil karya yang unik dan menarik serta memiliki nilai jual tinggi.

Berbekal dengan menggunakan sebuah alat yang bernama pisau penyot dan kayu putih sebagai bahan utama, Yoga Suratmoko dibantu temannya, yakni Yuni Tri Purwanto, berhasil menciptakan sebuah kerajinan tangan yang menarik dan membuat decak kagum bagi masyarakat yang melihatnya.

Awal mula Yoga menekuni kerajinan dari bahan baku kayu putih adalah pada saat dirinya bekerja di pabrik kayu lapis. Setiap hari ia melihat kayu lapis hasil olahan dibuang begitu saja. Dari situ, Yoga mulai berpikiran bagaimana caranya supaya kayu bekas tersebut tidak terbuang sia-sia. "Waktu bekerja di pabrik kayu itu, saya iseng membuat sesuatu dari kayu sisa. Setiap hari saat istirahat kerja, saya gunakan untuk membuat gantungan kunci. Tidak disangka teman saya tertarik dengan hasil itu," ceritanya.

Selang tidak lama, pabrik tempat ia bekerja mengalami kebangkrutan. Terpaksa suami dari Kuntiati ini harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Berbekal darah seni yang telah mengalir dalam dirinya, ia berinisiatif mengembangkan hasil karyanya yang terbuat dari kayu sisa bekas bangunan tersebut.

Setelah berhasil membuat olahan kayu menjadi gantungan kunci, ia terus berupaya lebih mengasah kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang lebih unik. Dirinya dibantu dengan beberapa teman yang tergabung dalam KUB Ampel Handycraft yang beralamat di Jalan Sunan Ampel 5 RT 03 RW 2, Kota Magelang, ini mencoba menciptakan kerajinan tangan yang berbentuk serangga. Ide tersebut ia peroleh dari lingkungan sekitar.

Pria asli Magelang ini akhirnya berhasil membuat miniature serangga dari kayu putih sisa bangunan yang sudah tidak terpakai. Waktu itu, kerajinan yang benar-benar hanya menggunakan tangan tersebut tidak langsung dijual di pasaran. "Jika ada teman yang tertarik membeli, ya kami langsung berikan," katanya yang diamini oleh temannya.

Mendapatkan sambutan positif, memicu pria kelahiran 22 April 1969 itu untuk terus mengasah keahlian yang dimiliki. Lambat laun, naluri seninya mampu terasah dengan baik. Terbuki dengan banyaknya hasil karya yang telah ia ciptakan. "Jika dihitung-hitung, ya sudah ada 200 lebih kerajinan yang sudah saya ciptakan selama lima tahun," katanya yang berharap suatu saat ingin membuka galeri sendiri itu.

Seiring dengan perkembangannya, Yoga dibantu dengan 10 temannya, yang juga merupakan warga Ganten, mulai mendapatkan pesanan setiap hari. "Jika saya lakukan sendiri pastinya tidak sanggup, makanya saya ajak Mas Yuni cs untuk membantu," ujarnya.

Saat ini ia bersama temannya mampu membuat kerajinan berupa burung elang, berbagai macam serangga, dan sosok cerita anak, salah satunya Hulk.

Hingga saat ini ia telah menerima pesanan dari berbagai kalangan. Omzet yang dihasilkan tiap bulan pun dapat berkisar hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, dalam membuat satu macam hasil karya berupa burung elang, dihargai sekitar Rp 3,5 juta. Sementara itu, untuk penyelesaiannya diperkirakan memakan waktu dua minggu. Untuk kerajinan berwujud naga sekitar Rp 4 juta.

Harga tersebut tergantung dari tingkat kesulitan saat membuat dan ukuran juga sangat memengaruhi nilai jualnya. "Ya alhamdulilah hasil penjualan dapat digunakan untuk beli rokok dan makan sehari-hari," candanya yang tidak mau menyebutkan secara pasti berapa pasti omzet yang didapat setiap bulan.

Selengkapnya...

Jeli Memetik Bisnis Sandal dari Limbah Kelapa

Friday, April 8, 2011

Kejelian menangkap bisnis kerap kali membuat orang sukses menjadi wirausahawan. Hal ini lah yang dialami oleh Unardi perajin sandal dari limbah tempurung kelapa asal Purbalingga, Jawa Tengah.

Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung kelapa muncul begitu saja. Inspirasinya berawal saat melihat potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, ia lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem.

”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi, Jumat (08/04/2011).

Selama ini alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Produk milik Unardi ini justru memiliki ciri khas tersendiri, sehingga tak heran sandal Made in Purbalingga ini laris manis di banyak kota di Tanah Air.

Sandal ini ternyata diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, Bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Bisa jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru tidak banyak diketahui jika orang berasal dari Purbalingga.

Unardi menuturkan meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal.

Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu mahal, cukup merogoh Rp 25.000, anda sudah bisa membawa pulang sepasang sandal unik ini. Harga itu berlaku untuk jenis sandal ukuran apa saja.

”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop Kabupaten Purbalingga untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” katanya.

Ketua kelompok pengrajin tempurung 'Manunggal Karya' Sutrisno mengatakan kini ia memiliki 42 orang anggota. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar.

Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo.

”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemerintah Kababupaten Purbalingga melalui Disperindagkop Kabupaten Purbalingga, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno.

Unardi
Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan Purbalingga,
Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
(hen/hen)
Selengkapnya...

Susu Membawa Aceng ke Mekkah

Friday, April 1, 2011

Ketekunan membawa Aceng (60), peternak sapi perah di Kampung Pajaten, Kelurahan Taruma Jaya, Kecamatan Kertasari, Bandung Selatan, naik haji ke Mekkah. Sedikit demi sedikit uang hasil perahan susu dikumpulkan hingga cukup membawa ia dan istrinya, Dedeh (59), ke Tanah Suci.

Pada 30 tahun silam, Aceng masih memiliki dua ekor anakan sapi. Satu sapi dia dapat dari hasil mengurus sapi milik orang lain. Ia dibayar dengan anakan ketika sapi yang dia urus melahirkan. Saat itu, Aceng mengurus sapi sambil bekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII.

"Terus saya keluar dari perkebunan. Waktu itu beli anakan lagi pake uang hasil tabungan selama kerja di perkebunan," ucap Aceng ketika berbincang-bincang dengan Kompas.com di rumahnya.

Dua anakan itu lalu dia urus hingga dapat diperah dan beranak pinak. Berbeda dengan mayoritas peternak lain yang langsung menjual anakan, Aceng memilih memelihara anakan hingga dewasa. Kini, ayah empat anak itu memiliki tujuh ekor sapi, lima di antaranya sudah dapat diperah.

Untuk diketahui, mayoritas peternak mengeluhkan sulitnya bertahan hidup hanya dengan memerah sapi. Rata-rata, setiap peternak hanya memiliki dua hingga tiga ekor sapi perah. "Mereka enggak telaten. Ada anakan langsung dijual. Padahal, kalau sudah punya lima sapi cukup buat hidup, bahkan bisa naik haji," terang dia.

Dengan lima ekor sapinya, Aceng mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 3,5 juta per bulan. "Dulu saya ingin sekali naik haji. Terus sedikit-sedikit saya kumpul uangnya sampai Rp 76 juta buat naik haji sama istri. Terus saya berangkat tahun 2008," paparnya.

Biogas

Dari ratusan peternak sapi perah di kampung penghasil susu perah itu, hanya Aceng yang masih mempertahankan menggunakan biogas. Setiap hari, Aceng membuang semua kotoran sapinya seberat 100 kg ke lubang penampungan di sekitar rumahnya. Kotoran itu lalu menghasilkan gas yang digunakan untuk bahan bakar memasak.

Awalnya, biogas berukuran 4 x 4 meter hasil bantuan pemerintah tiga tahun lalu itu digunakan untuk 10 keluarga. "Tapi, lama-kelamaan mereka enggak mau masukin kotorannya. Langsung disiram aja terus ke sungai (Citarum). Sekarang cuma saya aja yang pake gas itu. Yang lain beli gas," katanya.

Selengkapnya...

Sepatu Cibaduyut Bisa Hasilkan Rp 10 M

Thursday, March 31, 2011

Perajin sepatu Cibaduyut tidak hanya menyayangkan sikap pemerintah yang kurang memberikan perhatian kepada mereka. Namun, sedikitnya generasi muda yang mau belajar dan melanjutkan usaha juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha kerajinan sepatu kulit ini.

"Saya sedih saat tahu ada pengrajin yang bisa menyekolahkan tinggi anaknya, tapi saat lulus tidak kembali ke Cibaduyut, malah kerja di perusahaan orang. Seharusnya mereka itu kembali ke Cibaduyut dan melanjutkan usaha sepatu," kata Jaya Sunarya (47) di pabrik sepatu rumahan miliknya, Cibaduyut Jaya, Kelurahan Cibaduyut, Kecamatan Bojongloa, Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/3/2011).

Selain itu, tambah Jaya, banyak perajin sepatu mengarahkan anak-anaknya untuk tidak menjadi perajin sepatu. Padahal, sangat penting untuk menciptakan generasi muda yang mau, bisa, dan mampu mengelola usaha sepatu.

"Saya melihat para pengrajin sudah merasakan pahitnya menjadi pengusaha sepatu sehingga mereka tidak ingin anak-anak mereka merasakannya pahitnya juga. Padahal, anggapan ini salah. Justru di luar sana kehidupan lebih pahit. Orangtua harus menyiapkan anaknya untuk kembali, mengelola sumber daya yang ada, ya usaha sepatu Cibaduyut ini," kata Jaya.

Jaya mengisahkan bahwa dia belajar membuat sepatu dari orang lain. Setelah dia mampu membuat sepatu, dia mengumpulkan modal untuk bisa membuka usaha sepatu sendiri.

Ia memulai usaha dari tahun 1986, awalnya dalam sepekan dia hanya mampu membuat 40 pasang. Usahanya berkembang pesat hingga sekarang mampu membuat 2.000 pasang sepatu tiap bulannya. "Saya tidak lulus SD, hanya sampai kelas IV. Tapi saya mau belajar dan saya jadi seperti ini sekarang. Dan sebenarnya generasi muda Cibaduyut harus melihat pontensi ini, bukan malah jauh-jauh mencari makan di tempat lain," kata Jaya.

Potensi usaha sepatu Cibaduyut masih amat besar. Bahan baku untuk membuat sepatu pun tidak kurang. Jika sedang ramai pesanan, Jaya bisa mendapatkan Rp 8 miliar hingga Rp 10 miliar. "Saya merasa, penting sekali jika ada sekolah untuk pendidikan sepatu. Kemudian rekrut orang-orang yang putus sekolah untuk kemudian dipekerjakan di Cibaduyut," kata pria beranak tiga ini.

Harus ada keberanian dari generasi muda untuk kembali ke Cibaduyut dan meneruskan usaha ini. Ditakutkan, dengan semakin sedikitnya generasi penerus, ke depannya usaha sepatu Cibaduyut kian tenggelam.

Selengkapnya...