Followers

Google
 
Showing posts with label Batik. Show all posts
Showing posts with label Batik. Show all posts

Batik Bayat, Tak Sekadar Terima Order

Thursday, May 26, 2011

Alkisah, Ki Ageng Pandanaran berangkat ke Bayat mengikuti perintah Sunan Kalijaga untuk melakukan tapa dan menjalankan kehidupan religius. Di sana, putra Ki Ageng Pandan Arang itu justru menetap dan menyebarluaskan Islam.

Begitu sohornya contoh hidup Pandanaran hingga ia pun lebih sering dikenal sebagai Sunan Bayat.

Konon, sembari menyebarkan Islam, ia juga mengajari rakyat di Bayat, khususnya di Desa Paseban, keterampilan membatik. Tujuannya adalah untuk pemenuhan kebutuhan pakaian Sunan berikut sanak familinya. Dari sinilah usaha batik di Bayat, yang kini merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bercikal bakal.

Cerita ini mengemuka dalam sebuah diskusi mengenai batik Bayat pada Rabu (25/5/2011) di Museum Tekstil Jakarta. Simpulannya kemudian, batik Bayat atau yang juga sering disebut dalam khazanah kearifan lokal sebagai batik Tembayat masih memerlukan sentuhan-sentuhan profesional agar lebih mengemuka. Artinya pula, batik Bayat harus lebih mempunyai daya saing dengan batik-batik lokal di Tanah Air.

Adalah Sipon, salah seorang produsen batik Bayat, dalam kesempatan itu menuturkan pengalamannya kepada kompas.com. "saya memulai usaha sendiri sejak dua tahun lalu," kata pemilik usaha Batik Tulis Tradisional Warna Alam Retno Mulyo itu.

Menariknya, bahkan sampai sekarang, Sipon tetap menjadi pembatik untuk perusahaan batik Danar Hadi di Solo. Sejak 1973, Sipon menjadi pagawai Danar Hadi. "Saya sekarang mengerjakan batik Danar Hadi di rumah saya di Bayat," ujarnya.

Sama seperti perajin batik tradisional di kawasan itu, Sipon masih membatik baik dengan cara tulis maupun cap kain panjang atau jarit. Ukuran panjangnya 2,5 meter.

Order

Menurut Sipon, sampai sekarang, perajin batik di Bayat lebih banyak menerima pesanan alias order dari sentra batik di Solo dan Yogyakarta. Makanya, kemudian, Sipon setuju kalau batik khas Bayat memang belum kelihatan menonjol ciri khasnya. Meski, menurutnya, motif seperti gajah birowo, pintu retno, parang liris, babon angrem, dan mukti wirasat adalah ciri khas batik Bayat. "Semuanya warna soga atau kecoklatan," kata ibu tiga anak tersebut.

Namun begitu, Sipon merasa tidak puas hanya bertindak sebagai produsen yang cuma mengandalkan order. "Duitnya memang lebih gampang didapat kalau cuma menerima pesanan," akunya.

Dalam hitung-hitungan Sipon, untuk sepotong batik jarit tadi, ia menerima uang di kisaran Rp 50.000 sampai dengan Rp 150.000. "Tapi, tentunya saya ndak puas. Saya ingin batik buatan saya sendiri yang juga ikut terjual. Kalau sudah laku, lega rasanya," kata Sipon yang memulai usaha batiknya dengan modal awal Rp 70 juta.

Jadilah, Sipon pun berjuang untuk memasarkan produksinya itu. Rupanya, perempuan kelahiran 1 Januari 1965 itu menggunakan cara-cara lazim konvensional. Selain menitipkan produksinya di toko-toko batik di Semarang, Yogyakarta, dan Solo, ia pun masih menyambangi satu per satu relasinya, menawarkan batik buatannya. Kadang, Sipon berjualan batik kala pameran yang diselenggarakan dinas perindustrian dan perdagangan setempat. "Saya ingin juga bisa menembus pasar Jakarta," tuturnya berharap.

Di sisi lain, tentu ada sedikit perbedaan jumlah produksi antara mengerjakan pesanan dengan membuat sendiri. Seturut pengalaman Sipon, dalam satu bulan, ia mampu memproduksi 200 potong batik pesanan. Sementara, produksi batik buatannya dalam kurun waktu sebulan cuma separuh dari batik pesanan. Banderol per potongnya pun relatif lebih mahal yakni di kisaran Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta.

Terkait dengan hal tersebut, Gina Sutono, salah satu pegiat batik Bayat, dalam diskusi tersebut mengatakan para perajin batik Bayat bisa lebih mengembangkan teknik jarit untuk bahan pakaian. Sementara, untuk lebih memperkenalkan batik Bayat kepada khalayak banyak, kebiasaan pelukis membubuhkan nama diri dan judul lukisan di kanvas juga bisa ditiru. "Perajin mulai sekarang bisa menambahkan kata 'batik Tembayat' atau 'Bayat' pada karya- karyanya," demikian Gina Sutono.

Sekarang, batik Bayat dapat dijumpai, khususnya di Desa Paseban dan Beluk. Menurut Titus Goenarto, salah seorang pelaku usaha batik Bayat, ada sekitar 50 perajin yang ikut ambil bagian dalam bisnis batik Bayat.

Selengkapnya...

Langkah Batik Bogor Menembus Dunia

Sunday, March 20, 2011

Saat ini, Batik tidak hanya menjadi kebanggaan Jogja, Solo, dan sekitarnya. Kota hujan Bogor pun yang terkenal dengan pusat kuliner, seperti roti unyil dan asinan Bogor, kini pun bisa memproduksi batik.

Batik Bogor Tradisiku, begitulah merek dari usaha batik yang didirikan oleh pelopor Batik Bogor Siswaya, pada 13 Januari 2008.

Usahanya sendiri telah dimulai akhir 2007. Saat ini, telah memiliki 30 orang karyawan, termasuk yang tidak tetap. "Bapak yang mendirikan usaha ini, padahal Bapak dan keluarga nggak ada yang sebagai pembatik," tutur putri Siswaya, Lisha Luthfiana Fajri kepada Kompas.com, di Jakarta, Minggu (20/3/2011).

Meski diakui ayahnya memang kelahiran Jogja, tapi sudah 28 tahun tinggal di Bogor. "Kenapa diambil nama itu? Itu suatu doa juga, agar Batik Bogor menjadi tradisi. Selain itu, Bapak ingin memberikan sesuatu untuk melestarikan batik sebagai budaya Indonesia," jelasnya.

"Bogor kan awalnya nggak ada batik, jadi dengan ada usaha ini membuka lowongan pekerjaan. Nah, karena mereka nol pengetahuan membatiknya, kita adakan pelatihan, juga didatangkan tenaga-tenaga ahli," jelas Lisha.

Tenaga ahli ini didatangkan dari Jogja, yaitu para korban bencana gempa, ke Jakarta, sejumlah 4 orang. Empat orang ini yang mengajarkan sejumlah karyawan, yang merupakan penduduk Bogor untuk membatik.

Motif "Hujan-Gerimis" dan "Kujang-Kijang" sebagai Motif Andalan. "Karena Bogor kota hujan, kita mengusung motif dari situ, yaitu motif hujan-gerimis, dan kujang-kijang. Kujang itu kan senjata khas Jawa Barat, sedangkan Kijang sebagai perlambang ketentraman dan keamanan Kota Bogor. Selain itu ada motif bunga Bangkai," sebutnya, sambil memperlihatkan sejumlah kain berwarna ungu yang bermotif tersebut.

Mengenai produksi yang dihasilkan, ia menjelaskan, untuk kain tulis dengan tingkat kesulitan standar, sebulan bisa menghasilkan 50 kain. "Kalau batik cap bisa 150-200 kain, dan untuk printing sehari bisa 200 meter, tapi itu dengan syarat kondisi matahari cukup," ungkapnya. Cuaca Bogor yang dikenal dengan tingkat curah hujan yang tinggi, memberikan kendala untuk produksi.

Hambatan lainnya, menurut Lisha, harga produknya yang sempat dianggap mahal. "Batik ini dianggap mahal, lebih mahal dari dibandingkan daerah-daerah Jawa, seperti Pekalongan," jelasnya.

Sebenarnya mahal, karena batik ini pakai kain katun primisima yang kualitas baik. "Dan, dijamin tidak luntur," tutur Lisha. Ia mematok produknya, seperti untuk batik tulis mulai Rp 400.000- Rp 1,5 juta, batik cap Rp 160.000 - Rp 300.000, serta printing Rp 35.000 - Rp 40.000.

Dari Bogor hingga Thailand

Toko pusatnya ada di Jalan Jalak No.2, dekat Badan Pertanahan Nasional. Sedangkan, proses pembuatannya ada di Neglasari, dekat asrama Brimob Kedung Halang. "Di Jalan Jalak, kami mengusung konsep tempat wisata, di situ ada cara pembuatannya, ada produk jadi, ada pelatihan, ada tempat kulinernya juga, dengan nama tempat yang sama, Batik Bogor Tradisiku," jelasnya.

Tempat pemasarannya pun tidak hanya di dua tempat tersebut, tapi meliputi mal, seperi Mal Botani Square-Bogor, Pasaraya Grande Jakarta, dan Sarinah Jakarta. "Juga ada kerjasama dengan galeri di kota lain, seperti di Madiun dan Thailand. Itu kerjasama dengan rekan saya, yang kebetulan kerja di Galeri Pattaya," tuturnya.

Seiring dengan kerjasama dengan Pemda Kota Bogor, produksi pun meningkat. Kerjasama tersebut menghasilkan permintaan batik untuk seragam pegawai. "Jadi, banyak "hujan-gerimis" di Kota Bogor, khususnya hari Kamis, kan hari pakai Batik kalau di Bogor," jelasnya.

Tidak hanya dipakai pegawai Pemda, sejumlah sekolah di Bogor bahkan Jakarta pun sudah menggunakan Batik Bogor Tradisiku ini sebagai seragam untuk para guru dan murid.

Dalam memenuhi permintaan batik untuk dipakai sebagai seragam, Batik Bogor ini juga menerima pesanan motif, seperti ikan untuk dinas perikanan.

Pelatihan Batik

Batik Bogor Tradisiku ini juga memberikan pelatihan membatik bagi para siswa hingga ibu-ibu rumah tangga. PGN pun Tertarik Untuk Dijadikan Mitra Binaan "Karena kami sudah memiliki kualitas yang baik, kinerjanya juga baik. Nah dari situ Perusahaan Gas Negara (PGN) melihat," jelasnya.

Dengan menjadi mitra binaan PGN sejak 2010, Batik Bogor Tradisiku telah diajak ke sejumlah pameran, yang tentu meningkatkan promosi dan penjualan. "Nah, dari pameran, produk kami bisa dibeli orang luar, waktu itu ada ekspat dari Thailand. Beli produk untuk koleganya disana," jelasnya.

Selengkapnya...