Followers

Google
 
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts
Showing posts with label Lain-lain. Show all posts

Rumah Walet : Tambang Baru Mendatangkan Keuntungan Besar

Wednesday, February 16, 2011

Suara mesin pengaduk semen menderu di lahan rawa tepi jalan raya Trans-Kalimantan yang menghubungkan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sejumlah pekerja bangunan sibuk menyelesaikan gedung berlantai tiga, yang enam bulan terakhir dikebut agar cepat selesai.

Kecuali pintu di bagian bawah, tidak ada satupun cendela pada gedung semen setinggi 10 meter itu. Yang ada hanya puluhan lubang-lubang berbentuk silin der dengan tutup kasa. Lubang itu berfungsi sebagai fentilasi sekaligus media untuk pengatur suhu dan kelembaban di dalam ruangan.

Gedung baru yang dibangun menghabiskan dana Rp 300 juta itu akan menjadi tambang baru untuk mengeruk duit bagi pemiliknya. Jika beruntung, dalam hitungan bulan, burung-burung walet akan segera masuk dan membangun sarang.

Beberapa bulan terakhir setidaknya ada tiga bangunan walet baru muncul di jalan Transkalimantan, tepatnya Desa Beringinl, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito K uala. Hingga saat ini total ada sekitar tujuh bangunan walet yang berdiri dalam radius satu kilometer. Bentuknya pun terkesan lebih megah dibanding rumah-rumah warga yang ada di sekitarnya.

Heri, salah satu kontraktor, Sabtu (12/2/2011), menuturkan dirinya diminta membuatkan rumah walet oleh seseorang warga Banjarmasin. Satu bangunan rata-rata selesai dalam waktu tujuh bulan. Kalau dipaksa cepat, dalam setahun Heri bisa membangun dua rumah walet berukuran cukup besar.

Menurut Heri membangun rumah walet tidak mudah. Diperlukan perhitungan matang, terutama untuk mengatur suhu dan kelembaban ruangan. Karena itu, selama proses pembangunan Heri tidak mengijinkan orang luar masuk, meski itu hanya untuk sekadar melihat-lihat. "Jadi ada triknya," ujarnya.

Ternyata tidak hanya bentuk bangunan saja yang megah. Salah satu rumah walet di daerah itu bahkan dicat hijau pada bagian luarnya, sehingga nampak indah. Tidak hanya itu, salah satu rumah walet di tengah kota Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, misalny a, sengaja diberi pendingin udara (air conditioner). Perlengkapan lainnya yang tidak boleh dilupakan adalah pagar dan bangunan khusus untuk penjaga yang akan bertugas siang malam.

Namun begitu tidak semua rumah walet dibuat megah dan berbagan semen. Khaidir Rahman, pemain walet baru memiliki rumah walet yang terbuat dari papan pada bagian luar. Semen hanya ditempelkan pada bagian dalam saja. Meski terbuat dari campuran kayu dan semen, menurut warga Gunungsari, Banjarmasin ini, bangunan rumah walet seperti itu diperlukan dana Rp 50 juta.

Itu belum termasuk perlengkapan suara (sound system) untuk memancing walet. Ada dua jenis sistem suara, yakni suara dalam ruangan dan luar ruangan yang bunyinya gemericit memekakkan telinga. Fungsi sistem suara ini tiada lain untuk memancing agar walet liar mendekat dan membangun saran di bangunan itu.

"Ada juga alat pengatur suhu dan kelembaban. Harganya masing-masing Rp 300.000. Ini penting. Jika tidak ada, maka suhu dalam ruangan tidak bisa diatur. Akibatnya, walet tidak akab betah di dalam dan akan pergi mencari tempat lain yang cocok," ujar Khaidir.

Saat ini usaha rumah walet di Kalsel memang sedang naik daun. Keberadaannya pun bagaikan cendana di musim hujan. Bangunan baru yang rata-rata memiliki ketinggian setara rumah tiga lantai tidak hanya ditemukan di pinggiran kota, tapi juga di pelosok rawa-rawa, seperti di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Keberadaan bangunan tinggi di rawa ini begitu mencolok jika dilihat dari perahu.

Pengusaha walet yang juga pendiri Asosiasi Petani Walet Banjarmasin Geman Yusuf mengatakan saat ini setidaknya ada 300 rumah walet di Banjarmasin. Melihat jumlahnya yang cukup besar inilah, menurut German perlu sebuah peraturan daerah (perda) untuk mengatur keberadaanya. Alasannya, jang an sampai rumah-rumah walet menganggu pemandangan, terutama di dalam kota.

"Sejauh ini, kan, yang ada baru di Banjarmasin. Di Sampit (Kalteng) itu juga banyak petani walet, namun sampai saat ini tidak ada perda. Mungkin, karena pejabatnya juga punya usaha walet, sehingga dipandang tidak perlu," ujar Geman.

Maraknya usaha walet di Kalsel tidak lepas dari keuntungan yang diperoleh. Saat ini harga satu kilogram sarang walet untuk kelas terendah mencapai Rp 6 juta rupiah dan Rp 13,5 juta untuk kelas yang super. Padahal, pemilik rumah walet ukuran besar yang beruntung bisa memanen puluhan kilogram sarang walet dalam sekali panen.

Pasaran sarang walet tidak sulit. Ada pengepul asal Jakarta yang siap datang sewaktu-waktu jika ditelepon. Dari Jakarta sarang-sarang walet itu kemudian dikirim ke sejumlah negara, salah satunya Hongkong sebagai bahan sup sarang burung.

Selengkapnya...

Komunitas Djadoel, dari Hobi ke Bisnis

Sunday, November 15, 2009

Dalam suatu mimpi, Yanuar Christianto (39) datang ke sebuah toko mainan. Secara fisik, bangunanya sama sekali tidak menarik. Berdebu dan kotor. Hal serupa juga tampak dari mainan yang dijual, layaknya dagangan yang tak kunjung laku.

Ketika mentari telah bersinar, tanpa menghiraukan mimpinya, ia berkeliling Jakarta dengan sepeda motornya. Arah mana yang ia tuju hasil dari bisikan hatinya. Berjalan dan terus berjalan, melewati Jalan Gajah Mada lalu ke Jalan Hayam Wuruk, dan terus menuju ke Utara. Sampai di suatu tempat, yang ia sendiri tidak tahu di mana, Yanuar kaget tak terkira. Saat ia memberhentikan motornya untuk istirahat, dan menoleh ke kiri, tampak olehnya toko mainan yang ada dalam mimpinya.

Masih dengan rasa tidak percaya, Yanuar mengayunkan langkah menuju toko tersebut. Belum sempat ia bersuara, matanya telah menangkap kardus lusuh berisi mainan-mainan. “Saya borong semuanya. Ini terjadi pada akhir tahun kemarin,” kata Yanuar, kolektor mainan, kepada Kompas.com dalam kesempatan Atraksi Kota Tua di Taman Fatahillah Jakarta, Minggu (15/11).

Yanuar adalah salah satu anggota Komunitas Djadoel, komunitas pencinta barang antik, yang berdiri pada Mei 2009. Ia mengaku laki-laki yang kesehariannya bekerja sebagai waitress di Kapal Pesiar berbendera Italia ini dari umur 5 tahun gemar mengumpulkan barang. Didukung pekerjaannya, koleksinya berasal dari banyak negara seperti Italia, Malta, Spanyol, Perancis, Inggris dan Jerman. “Kalau di jalan saya menemukan skrup atau baut, saya bawa pulang dan ditaruh dalam kotak korek api. Sampai banyak,” papar Yanuar.

Anggota komunitas lainnya, Muchlis Amir (57) juga mengumpulkan barang antik bermula dari hobi. Dari sekian banyak barang, ia memilih kalender untuk dikoleksi. Dalam perjalana waktu, kalender koleksinya yang mulai tahun 1940-1980 banyak dicari orang. "Mereka ingin tahu hari lahirnya kapan. Juga apakah bertepatan dengan hari besar (agama maupun nasional). Di kalender juga ada hari pasaranya,” ujar pensiunan pekerja swasta ini.

Lebih lanjut, anggota komunitas ini tidak sekadar mengumpulkan barang. Tetapi juga menjualnya, karena pasar untuk barang-barang antik cukup menjanjikan. Menurut Daniel Supriyono, Ketua Komunitas Djadoel, meski barang jadul, namun pemeblinya tidak hanya orang-orang berumur, tepai anak baru gede dan juga anak-anak kecil pun menjadi pasar. “Anak kecil suka pada mainan. ABG yang ingin bergaya jadul beli kaca mata berlensa gede. Sedangkan Kakek nenek (selain) nostalgia juga diberikan untuk cucunya untuk memperkenalkan barang pada zamannya” tutur Daniel yang juga wartawan Nova, kelompok Gramedia Majalah.

Baik Yanuar, Muchlis maupun Daniel sama-sama memahani jika sebagaian orang keberatan kalau barang antik mahal. Padahal hanya barang “bekas.” Menurut Daniel, mencari untung wajib hukumnya saat menjual barang koleksinya. Tapi perhitungan untung tersebut bukan sekadar nilai ekonomi tetapi perjuangan mendapatkannya dan nilai kesejarahannya. “Untung harus berlebih karena barangnya tidak selalu didapat. Mahal itu sebagai penghibur saat kami menyerahkan barang yang sulit didapat dan kami miliki,” tuturnya.

Orang-orang yang tergabung dalam komunitas Djadoel ini sebenarnya bisa dikatakan sudah mapan. Ada yang bekerja di perusahaan media, bengkel mobil, designer grafis dan ada juga di departemen keuangan. Selain itu tidak semua barang koleksi mereka dijual. "Laku syukur, gak ya gak apa-apa," ucap Daniel.

Masing-masing kolektor memilih barang tertentu untuk dikoleksi, seperti buku, iklan film, jam weker, (bungkus) rokok, kalender, mainan, fashion, perabotan rumah tangga, kacamat, kaset sampai ke aksesoris sepeda ontel. Kategori antik jika barang yang bersangkutan paling muda tahun 1980. Untuk harga, misalnya komik lokal Rp 20.000, gelas PRJ 1979 dihargai Rp 35.000, kacamata Rp 100.000 dan iklan film Rp 50.000. Adapun untuk mainan, sebagaimana dijual Yanuar mulai dari Rp 50.000 – Rp 200.000. “Yang saya koleksi sendiri, tahun 2007 saya beli mainan robot Jepang Rp 200.000. Setelah saya cek di internet ternyata sekarang harganya 1.000 dollar AS,” aku Yanuar.

Para kolektor ini tidak pernah menyangka hobinya mengumpulkan barang yang sebagian besar orang menganggapnya sampah ternyata memiliki nilai ekonomi. Lebih dari itu, ketekunan mereka membuat rantai sejarah bangsa terus turun dari generasi ke generasi. Setidaknya, mulai dari keluarga merekalah rantai itu diteruskan untuk memupuk rasa cinta dan bangga pada tanah air karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. “Anak saya, sering saya ajak ke museum dan galeri. Juga saya ajak untuk gemar membaca,” pungkas Yanuar.
ONE
Editor: Edj
Selengkapnya...

Kulit Pisang pun Bisa Jadi Pengganti Minyak Tanah

Monday, September 7, 2009

Tingginya harga minyak tanah pascadihapuskannya subsidi, menyulitkan kelompok industri kecil dan masyarakat menengah ke bawah untuk mendapatkan bahan bakar yang murah dan praktis. Sementara kompor gas dinilai belum sepenuhnya mampu dijangkau masyarakat di pelosok daerah.

Sekelompok usaha kecil dan menengah (UKM) menawarkan sebuah solusi bagi kalangan industri dan masyarakat menengah ke bawah untuk menggunakan kompor bioetanol sebagai alternatif pengganti minyak tanah.

"Sebagai pengganti minyak tanah, kompor bioetanol ini relevan sekali bagi masyarakat dan industri menengah bawah yang belum bisa menjangkau penggunaan kompor gas," kata Kepala Bagian Pemasaran UKM produsen kompor bioetanol binaan Dewan Koperasi Indonesia Rivai, dalam perbincangan dengan Kompas.com, di Jakarta, Minggu (6/9).

Kompor ini menggunakan bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah. Bahan baku bioetanol merupakan hasil olahan dari bahan-bahan alami seperti kulit pisang, singkong genderuwo, kulit nanas, gadung, dan sagu. "Karena itu kompor bioetanol ini sesuai dengan semangat untuk melestarikan alam karena merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan," imbuh Rivai.

Dibandingkan minyak tanah, bioetanol memiliki lebih banyak keunggulan. Kompor bioetanol dapat digunakan tanpa menggunakan sumbu. Nyala apinya pun biru seperti kompor gas sehingga lebih cepat dan efisien dalam memasak. " 100 cc bioetanol dapat digunakan memasak selama 40 menit. Artinya dengan satu liter bioetanol saja, konsumen bisa memasak hingga empat jam," kata Rivai.

Selain itu, kompor bioetanol pun tidak mudah meledak dan lebih aman bagi penggunanya. Jika kompor minyak tanah yang terbakar akan semakin menyala ketika disiram air, tapi bioetanol justru akan mati jika tersiram air. "Penggunaan bioetanol ini pun lebih irit dua pertiga kali dibanding minyak tanah," imbuhnya.

Mengenai harga bioetanol, Rivai mengatakan, per liternya dijual seharga Rp 6.000 . "Harga ini sebenarnya bisa lebih murah kalau ada pemerintah mau memberikan dana investasi terhadap pengembangan bioetanol ini," kata dia.

Ia menambahkan, saat ini para produsen bioetanol juga mulai membidik masyarakat menengah kebawah sebagai pangsa pasarnya Selama ini yang menjadi konsumen bioetanol adalah komunitas industri kecil seperti pembatik dan industri tahu.

Padahal, menurutnya, selama ini diluar negeri, penggunaan bioetanol sudah dikenal sebagai alternatif bahan bakar untuk memasak yang lebih ramah lingkungan. "Salah satu pasar ekspor kami adalah Thailand yang sudah mengenal bioetanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan," tukasnya.

Tertarik? Silakan anda menghubungi nomor telepon 081280235371 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
C11-09
Selengkapnya...

Ini Dia Belia Pendulang Omzet Jutaan Rupiah

Thursday, August 6, 2009

Sebanyak 10 pemuda dan pemudi dinobatkan sebagai pemenang YES Business Competition Award 2009, Kamis (6/8), atas bisnis yang telah mereka bangun dan menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Padahal, mayoritas dari pemenang tak berumur lebih dari 30 tahun.

Sebanyak tujuh pemenang dari kategori pemula adalah Darwati (31) dengan usaha Adist Parfum; Erryza Susilo (28) dengan usaha 1001 Bros Cantik; Kiswanto (24) dengan usaha minuman dan makanan Wedang Uwuh Celup, Tortila Chips, dan Kerupuk Jagung; kemudian M Apip Firmansyah (28) dengan lembaga pendidikan Super Tensis English Center; Novianty Tandjung (29) dengan bisnis online tas bermerek Simply Her Style; Nur Anissa Rahmawaty (27) dengan butik online Annisa, Yunnas Habibilah (27) dengan produk daur ulang limbah koran Dluwang.

Sementara tiga orang pemenang dari kategori usaha, yaitu Arian Taufik (22) dengan usaha pulsa Colek D-Cell; Dyah Ayu Setyaningsih (24) dengan berbagai produk kuliner berbahan dasar labu (Pumpkin House) serta Heranggara (22) dengan usaha Angga Craft dari kain atau bahan spanduk.

Direktur Eksekutif Indonesia Business Link (IBL) Yanti Koestoer mengatakan, sepuluh pemenang ini dipilih dari 411 peserta dan dipilih karena produk yang inovatif, strategi pemasaran yang mapan dan memiliki potensi profitable serta dampak ekonomi dan sosial ke masyarakat sekitar.

Tentu saja, syarat-syarat ini ada di para pemenang karena sebagian besar dari mereka telah mampu menghimpun omzet puluhan juta per bulan dari usaha mereka. Sebut saja, Apip yang mampu meraih omzet Rp 25 juta per bulan dari pelatihan bahasanya serta Novianty Tandjung yang mampu meraup omzet Rp 55 juta per bulan.

"Setelah ini, para pemenang akan diberi pendidikan dan mentoring gratis dari para eksekutif korporasi yang sudah kami pilih. Hadiah uang Rp 10 juta yang tadi dipilih itu hanya modal awal," tutur Yanti.

KOMPAS.com Caroline Damanik
Selengkapnya...

Berpikir Sukses Harus sejak Awal

Wednesday, July 29, 2009

Catatan penting bagi wiraswasta sejati adalah sejak awal harus berpikir sukses. Cuma dengan cara itu, bisnis bisa makin terus berkembang.

Pesan dari sosok sekaliber Brad Sugars seperti inilah yang kelak bisa diperoleh pelaku bisnis di Tanah Air.

Menurut rencana, pelatih bisnis terkemuka asal Australia ini datang ke Jakarta pada Rabu (25/11) dan Kamis (26/11) dan menjadi pembicara utama seminar "Brad Sugars Billionare in Training".

Menurut CEO Action COACH Indonesia Herman Susanto pada Selasa (28/7), Sugars yang memulai karier bisnisnya sejak usia tujuh tahun bakal membantu pemilik bisnis di Indonesia agar tidak kehilangan strategi mencapai visi dan misi yang diharapkan. Total, diharapkan 6.000 peserta bakal hadir selama pergelaran dua hari tersebut.

Saat ini, Brad Sugars telah menjelma menjadi seorang tokoh bisnis yang dikagumi oleh para pemilik bisnis. Usianya masih muda, tetapi kesuksesannya mencetak “miliarder” lewat ActionCOACH telah mengangkat namanya di jajaran tokoh paling berpengaruh dunia, seperti Rupert Murdoch, Henry Ford, Richard Branson, dan Anita Roddick.

Sugars sukses membantu para pemilik bisnis. Utamanya, kala melakukan reformasi sistem bisnis.

Pelatihan bisnis (business coach) garapan pemilik nama lengkap Bradley J Sugars mengklaim menggunakan pendekatan berbeda ketimbang pada umumnya. Pada bisnis ini, justru pemilik bisnislah yang melakukan seluruh strategi, formula serta teknik bisnis yang disarankan pelatih bisnis.

Menurut Sugars, bantuan terbesar pelatih bisnis kepada anak didiknya adalah mindset sukses berikut sistem pemantauan (monitoring) efektif. Apabila mindset pengusaha berubah menjadi lebih positif, segala hal juga berubah menjadi positif. Termasuk arah perusahaan dan kondisi keuangan pada akhirnya.

Seusai menamatkan sekolah di Universitas Queensland, Sugars menjadi "wiraswastawan serial" sekaligus menjadi pemilik atau pihak yang menjalankan lebih dari 30 kegiatan bisnis berbeda.

Sugars adalah pendiri waralaba pelatihan bisnis ActionCOACH pada 1993. Pada 2006, ia me-rebrand usahanya itu menjadi ActionCOACH.

Sementara di Tanah Air, ActionCOACH Indonesia sampai sekarang memiliki 28 pelatih bisnis. Di tahun pertama, ActionCOACH Indonesia memiliki 12 klien yang kemudian berkembang hingga lebih dari 1.000 klien pada 2009.

XV
Selengkapnya...

Mengeruk Puluhan Juta dari Bongkahan Batu Apung

Thursday, July 9, 2009

Bongkahan batu apung bisa dimanfaatkan untuk rnempercantik lampu hias. Nilai ekonominya lumayan. Deddy Effendy, perajin batu apung untuk lampu hias dari Yogyakarta, bisa menghasilkan omzet puluhan juta per bulan dengan marjin 30 persen dari kerajinan ini.

Asal kreatif, banyak barang yang kelihatannya tak berguna bisa diolah menjadi barang yang punyai nilai jual lumayan. Salah satunya adalah batu apung. Batu yang lazim kita temui di dasar laut ini bisa hadir di dalam rumah sebagal interior dalam bentuk lampu bias.

Adalah Deddy Effendy, perajin asal Yogyakarta, yang memanfaatkan serpihan batu apung untuk mempercantik desain atau model lampu bias buatannya.

Sejatinya, sejak 2000, dengan modal awal Rp 30 juta, Deddy mulai menekuni bisnis pembuatan kerajinan lampu bias di bawah bendera usaha Palem Craft Jogya. Awalnya, ia hanya memakai material rotan.

Ide pemanfaatan batu apung muncul di benaknya pada 2002. Kala itu, Deddy mencoba memadukan sergihan batu apung pada media fiber. Saat disinari lampu, tekstur batu apungnya memunculkan kesan eksotik dan unik.

Yakin produk kreasi barunya itu bakal menarik minat konsumen, Deddy pun mulai menggunakan batu apung untuk produk lampu hiasnya. Apalagi, saat itu belum ada yang membuat produk sejenis. Hingga saat ini Deddy sudah membuat sekitar 70 model lampu bias dalam bentuk table lamp dan standing lamp.

Dia membeli bongkahan batu apung dari Lombok dan Bali. "Bata asal Lombok berwarna keputihan, sementara asal Bali agak keabu-abuan," papar Deddy. Deddy membeli batu apung dengan harga Rp 200.000 per karung. Satu karung dengan bobot 5-6 kg bisa menghasilkan sekitar 201ampu bias model table lamp.

Pembuatan satu lampu hias makan waktu satu hari. Proses pembuatannya dimulai dengan memotong batu apung dengan gergaji mesin menjadi lempengan setebal 2-3 milimeter dengan panjang dan lebarnya sekitar 10-15 cm. Lalu dicuci bersih.

Kemudian siapkan rangka besi sesuai bentuk dan ukuran yang dinginkan. Bentuknya, misalnya oval, persegi, atau piramida. Saat membuat kerangka tersebut sekaligus buat dudukan lampu dari bahan kayu atau bola-bola besi.

Kemudian, rangka besi dibalut bahan fiber atau mika dan dilapisi kain waring k atau jala. Selanjutnya, serpihan batu apung dilem dan ditempel memenuhi badan lampu. Hasilnya, bentuk rangkaian tersebut mengikuti karakter patahan batu sehingga terlihat alami.

Untuk finishing, Deddy menyemprotkan cat water base berwarna bening pada rangkaian batu. "Sengaja tidak diwarnai karena memang ingin menonjolkan warna alami bate apung," ujar lelaki 36 tahun ini.

Dibantu 30 perajinnya, Deddy bisa memenuhi pesanan 100 unit lampu batu apung per bulan. Sedangkan, untuk stok di galeri, dia biasa membuat 5 hingga 10 unit untuk setiap model. Lampu buatan Deddy rata-rata memiliki lebar dan panjang 20 cm - 45 cm, dengan tinggi 30 cm-150 cm.

Adapun harga jualnya tergantung model dan ukurannya. Untuk jenis table lamp, harganya Rp 150.000 - Rp 300.000 per unit. Sedangkan harga standing lamp sekitar Rp 500.000 - Rp 1,5 juta per unit. Harga standing lamp lebih mahal karena membutuhkan material lebih banyak dan pengerjaannya makan waktu lebih lama.

Dari penjualan lampu bertahtahkan batu apung ini, Deddy meraup omzet Rp 30 juta - Rp 50 juta, dengan margin sekitar 30 persen.

Pasar Deddy bukan hanya di di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Misalnya, Italia, Spanyol, Australia, Jepang, Polandia, dan Rumania.

Menurut Deddy, sejauh ini tak ada kendala dalam usahanya.Bahan bakunya melimpah, dan perajin dengan mudah mempelajari proses pembuatannya. Soal persaingan, meski kini sudah ada pesaing, Deddy optimistis permintaan lampu kreasinya akan terus mengalir karena dia selalu mengeluarkan disain baru. (Dupla Kartini PS/Kontan)
Selengkapnya...

Biogas: Banyak Jalan Menuju Terang

Friday, July 3, 2009

Angin laut selatan bertiup dari arah Pantai Malingping, Kabupaten Pandeglang, Banten. Embusannya memutar pelan kincir angin sekitar 100 meter dari pantai. Di bawah kincir angin itu berjejer dua belas panel surya memantulkan sinar matahari yang terik.

Kincirnya baru menyala dua hari yang lalu. Terakhir nyala setahun lalu, tetapi enggak sampai tiga bulan mati tersambar petir,” ujar Hendra (30), warga Desa Tenjolaya, Kecamatan Wanassalam, Kabupaten Pandeglang, 23 Juni lalu.

Sudah dua malam pula Hendra dan keluarganya bisa merasakan lagi listrik menerangi rumah mereka. Lampu cempor yang biasa ia gunakan pun diistirahatkan. ”Lumayan, kalau anginnya bagus, listriknya bisa menyala terus-terusan sampai pagi. Tetapi, kalau anginnya lagi lemas, paling listrik menyala sampai jam 12 malam saja,” kata ayah dua anak itu.

Di rumah, listrik hanya dipakai untuk menyalakan dua titik lampu. Hendra termasuk 40 keluarga di Desa Tenjolaya yang sempat menikmati aliran listrik yang dihasilkan proyek percobaan Penyediaan Listrik Sistem Kombinasi Energi Angin, Matahari, dan Hidrogen. Proyek itu berada di bawah Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Warga sekitar lebih mengenalnya sebagai proyek kolecer. Kolecer adalah istilah warga setempat untuk kincir angin.

Penyediaan listrik sistem kombinasi ini merupakan model penggunaan energi setempat untuk memenuhi kebutuhan listrik. Idenya adalah menggabungkan tiga sumber energi sekaligus di satu lokasi untuk memaksimalkan daya yang bisa dihasilkan. Energi yang diperoleh disimpan di dalam aki besar yang mampu menyalurkan daya sampai 20 volt ampere.

Juned, warga Desa Tenjolaya, yang sehari-hari ditugasi menjaga fasilitas proyek, mengatakan, proyek penyediaan listrik itu diresmikan 28 Desember 2007. ”Waktu itu ada 40 rumah yang menyala. Lumayanlah tiap rumah bisa dapat dua titik lampu,” kata Juned.

Sebenarnya lokasi Desa Tenjolaya hanya sekitar 1,5 kilometer dari jaringan distribusi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, keterbatasan penyambungan listrik oleh PLN membuat warga harus menunggu cukup lama untuk penyambungan baru. Sejumlah warga bahkan sampai menumpang pasang kWh meter di rumah-rumah yang sudah berlistrik. Tak heran di satu rumah bisa ada empat kWh meter sekaligus.

”Makanya semua senang sewaktu ada alternatif pasokan listrik langsung dari kincir angin ini. Warga yang punya televisi tak perlu mematikan lampu kalau mau menonton karena ada tambahan listrik pada waktu malam. Iurannya sebulan tak sampai Rp 20.000,” ujar Juned.

Warga yang belum mendapat listrik seperti Bu Juju masih menggunakan lampu cempor. Namun, sejak pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke elpiji, minyak tanah sulit didapat.

Peneliti senior LIPI, Achiar Oemry, mengatakan bahwa pihaknya masih menghitung keekonomian penggunaan energi angin dan matahari untuk menghasilkan listrik. Hanya saja energi primer intensitasnya sangat fluktuatif. ”Matahari hanya ada saat siang, angin bisa ada bisa tidak. Ini yang harus dihitung apakah cukup,” ujarnya.

Penggunaan energi setempat menjadi kunci untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Meskipun kecil, daya yang dihasilkan cukup untuk memenuhi penggunaan listrik oleh masyarakat desa yang juga tidak banyak karena pemakaian listrik masih sebatas untuk penerangan. Rata-rata daya yang digunakan tidak lebih dari 300 watt.

Selain angin dan matahari, Desa Tenjolaya sebenarnya juga berpotensi untuk lokasi pengembangan biogas karena banyak warga yang beternak sapi potong. Pemanfaatan energi alternatif biogas dari kotoran ternak sudah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1970. Tahun 1981, Organisasi Pangan dan Pertanian sempat mendukung proyek pengembangan biogas. Namun, upaya ini tidak berkembang karena harga bahan bakar minyak bersubsidi murah. Biogas sebagai energi alternatif kembali dilirik setelah harga minyak meroket. Proyek biogas semakin terjangkau masyarakat dengan dikembangkan instalasi biogas sistem plastik bongkar pasang yang harga peralatannya cukup murah. Biogas dapat dihasilkan melalui penguraian bahan-bahan organik dalam kotoran sapi oleh mikroorganisme.

Dalam kondisi normal, dua ekor sapi perah menghasilkan biogas sebanyak 4,14 meter kubik per hari. Jumlah ini setara dengan 1,9 kilogram elpiji, 2,5 liter minyak tanah, dan 3,5 kilogram kayu bakar. Biogas dapat dibakar seperti elpiji dengan memakai kompor gas atau digunakan sebagai bahan bakar genset. Warga Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, sudah merasakan pemakaian genset listrik dengan biogas.

Sayangnya, pemanfaatan energi setempat ini tidak digarap secara serius oleh pemerintah. Bahkan, pelaksanaannya cenderung tumpang tindih. Anggaran untuk pengembangan energi ada di beberapa departemen, yaitu Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, serta Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Selama 64 tahun Indonesia merdeka, rasio elektrifikasi baru 60 persen. Setiap kali harga minyak naik, pemerintah mengeluhkan kenaikan beban subsidi listrik. Padahal, masih banyak jalan menuju terang.

Sumber: Kompas
Selengkapnya...

Fulus dari Usaha Mendandani Bayi dan Anak

Friday, May 8, 2009

Kali ini spa bukan monopoli orang dewasa. Di Dharmawangsa Square ada Spa Baby yang melayani anak dari bayi usia tiga bulan. Bisa jadi karena jumlah jenis salon ini masih terbatas, Spa Baby yang dirintis Dini Sembiring ini selalu dipadati ibu-ibu beserta buah hati mereka.

Jumlah salon khusus untuk anak-anak dan bayi memang masih sedikit. Sudah begitu, umumnya salon tersebut hanya menawarkan layanan potong rambut saja. Padahal kebutuhan perawatan tubuh anak dan bayi secara menyeluruh terus meningkat, khususnya untuk anak-anak yang orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah.

Bagi Dini Sembiring, serta kakak beradik Mitzy dan Cindy Christina, hal ini adalah sebuah peluang bisnis. Ketiga ibu yang memiliki anak bawah lima tahun (balita) ini merasakan sendiri betapa susahnya mereka mencari salon anak yang menyediakan perawatan menyeluruh.

Melihat besarnya kebutuhan tersebut, enam bulan lalu dengan modal sekitar Rp 1 miliar, ketiga ibu muda ini -pun membuka Spa Baby. Salon ini menawarkan layanan menyeluruh untuk anak -anak termasuk bayi di atas umur tiga bulan.

Meski baru berusia setengah tahun, Spa Baby yang berlokasi di Dharmawangsa Square, Jakarta ini langsung menyedot banyak peminat. Di akhir pekan, salon bisa.biasanya dipenuhi 36 bayi dan anak. Tak heran Dini Cs bisa meraup omzet rata-rata Rp 1,5 juta dalam satu hari.

"Boleh dibilang Spa Baby adalah salon bayi paling komplit saat ini," ajar Dini menyebut kelebihan salonnya. Selain menawarkan layanan komplit, salon ini juga menjanjikan keamanan dan kenyamanan bagi si kecil. Mereka menggunakan alat-alat yang diimpor dari Amerika Serikat.

Tarif layanan di salon'ini cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari salon dewasa. Maklum, selain alat-alatnya impor, perawatan para bocah juga harus dilakukan ekstra teliti dan hati-hati.

Untuk layanan potong rambut, tarifnya Rp 100.000 - Rp 150.000. Harga paket manicure, pedicure serta masker Rp 150.000. Layanan aqua swim baby dan pijat bayi Rp 200.000. Creambath Rp 150.000 per anak. Terakhir layanan Kid Massage Rp 225.000 per anak.

Salah satu layanan favorit pelanggan di salon ini adalah aqua swim baby. Konon layanan untuk bayi usia 3-12 bulan ini satu-satunya di Indonesia saat ini. Dalam layanan ini, bayi akan berenang mengenakan pelampung khusus yang diikatkan di leher. Pelampung tersebut dirancang khusus sehingga tidak mencekik leher bayi sekaligus membuat bayi bergerak bebas.

Kolam renang bayi sendiri berupa bath tub mini berukuran 1 x1 m yang dipakai bergantian antara satu bayi dengan bayi lain. Tentu setiap berganti bayi, airnya juga diganti. Satu sesi renang, waktunya hanya 15 menit sampai 20 menit bagi bayi yang sudah terbiasa. "Swim baby ini bisa memperkuat gerakan otot bayi," ajar Dini.

Ibu berusia 31 tahun ini mengaku mendapatkan ide serta ilmu renang bayi ini dari Singapura. Di bagian renang bayi ini pengelola menempatkan petugas yang merupakan mantan baby sitter yang sudah biasa mengurusi bayi.

Dalam sehari, Dini hanya bisa menangani sampai delapan bayi yang ingin berenang. Padahal antrian bayi yang ingin berenang bisa membeludak sampai puluhan pada akhir pekan. Maka, Dini membuat paket khusus renang bayi. Misalnya paket tiga kali datang seharga Rp 500.000. Pembeli paket ini tidak perlu antri untuk mendapatkan giliran berenang.

Selain layanan renang bayi, layanan lain yang diminati adalah layanan potong rambut. Agar tak rewel, bayi yang usianya masih tiga bulan atau lebih dan anak-anak ditempatkan di kursi khusus yang unik. "Mereka bisa memilih kursi binatang mana yag disukai, serta memilih siaran televisi portabel mana yang diminati," ujar Dini.

(Aprilia Ika/Kontan)
Selengkapnya...

Mutiara Laut Tahuna Berkilau sampai Mancanegara

Sunday, April 26, 2009

Kerajinan mutiara laut mempunyai nilai jual yang tinggi di luar negeri. Tengok saja bagaimana masyarakat Jepang sangat menggemari mutiara laut asal Tahuna, Maluku Utara. Sayangnya, badai krisis mulai menerpa industri ini. Perlahan, permintaan mutiara ini makin berkurang.

Salah satu perajin mutiara laut Tahuna yang sukses adalah Meyke Sukoyo. Nenek dua cucu ini mengaku sudah delapan tahun menggeluti bisnis penjualan mutiara. Omzet penjualan perhiasan mutiaranya sudah mencapai Rp 1 miliar saban bulannya.

Awalnya, bisnis Meyke hanya bergerak di penjualan mutiara polos. Mutiara polos tersebut dijualnya ke beberapa kota di Indonesia, seperti ke Jakarta. "Bisnis mutiara saya tekuni karena jumlahnya melimpah di Tahuna," lanjut ibu 50 tahun ini.

Kemudian, tebersit keinginan Meyke untuk membuat produk perhiasan dari mutiara. Ia ingin produknya tersebut bisa terkenal sampai ke mancanegara.

Dengan pertimbangan yang matang, Meyke lantas mengajukan kredit ke BNI Sangir Talaud sejumlah Rp 350 juta. Modal tersebut digunakannya untuk membeli emas dan berlian yang digunakan untuk mengikat mutiara-mutiaranya. Dengan desain yang indah, mutiara-mutiara laut Meyke terlihat semakin berkilau.

Karena usahanya sukses, Meyke bisa melunasi kreditnya dalam waktu setahun. Setelah lunas, Meyke kembali mengajukan kredit. "Sampai saat ini, total kredit ke BNI sebesar Rp 700 juta," ujar Meyke.

Setiap bulan, Meyke bisa memasok bahan baku mutiara sebanyak 40 kilogram. Dari sekian banyak mutiara, terdapat kelas-kelas khusus. Ada mutiara yang kelasnya Rp 1,5 juta, Rp 1 juta, Rp 500.000, dan Rp 300.000 per gram.

Agar produknya cepat laku dan terkenal, Meyke rajin menyambangi pameran-pameran di luar negeri dan dalam negeri. Salah satu pameran yang selalu diikutinya adalah pameran di Hongkong serta Inacraft. "Kalau orang Indonesia menyukai perhiasan yang kualitas mutiaranya Rp 500.000 per gram. Kalau orang Jepang dan Hongkong suka yang Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per gram," terangnya.

Untuk satu perhiasan, Meyke menjualnya mulai harga Rp 30 juta sampai Rp 80 juta. Dari harga tersebut Meyke mendapat margin 10 persen. Dengan harga tersebut, dalam satu pameran, Meyke bisa menangguk omzet sampai Rp 600 juta. "Pameran Inacraft dua tahun lalu omzet saya Rp 600 juta. Tahun lalu Rp 500 juta. Tahun ini saya tidak tahu karena ada krisis," ujarnya.

Memang, usaha Meyke rawan terpaan krisis. Dua bulan ini saja, omzet penjualan perhiasan mutiara Meyke turun sampai 40 persen. "Saat ini saya hanya bisa bersabar sampai kondisi membaik," ujarnya lagi.

(Aprillia Ika/Kontan)
Selengkapnya...

Dari Modal Gunting Kain, Henry Kini Punya 800 Karyawan

Monday, April 6, 2009

Pemilik Salon Anata, Henry Setiadi Halim, yang kini memiliki 11 tempat potong rambut di Kota Bandung sudah mencoba-coba memangkas rambut teman dan keluarganya sejak usia 18 tahun. Usaha itu memang berawal dari hobinya memotong rambut.

Namun, teman dan keluarga Henry sering marah karena potongan yang tak sesuai keinginan. Akan tetapi, ia tak patah semangat dan terus menekuni hobinya. "Saya kurang paham, ternyata bentuk kepala berbeda-beda. Apalagi, saya masih pakai gunting kain yang besar," katanya.

Usaha itu pertama kali dibuka di rumahnya, Jalan Emong, Bandung, tahun 1985. Padahal, ia tak pernah sekolah potong rambut dan hanya mengikuti berbagai seminar. Kini, nama salonnya telah terkenal dan termasuk tempat potong rambut yang terbanyak di Kota Bandung.

Tarif potong rambut di Salon Anata dengan total pegawai 800 orang dan sekitar 4.000 pengunjung per hari itu mulai dari Rp 17.000. Ketika baru memiliki satu salon, Henry hanya memiliki delapan pegawai. Kendala bukannya tak ada dalam menggeluti pekerjaan itu. Banyak rekan-rekan Henry berperangai tidak seperti kebanyakan laki-laki. Mereka memiliki perasaan yang sangat halus.

"Saya tak betah dengan lingkungan seperti itu. Sempat saya berniat tak menggeluti lagi profesi pemotong rambut, tapi keinginan itu akhirnya pudar," katanya.

Menurut pria kelahiran 28 Februari 1958 itu, kesulitan terbesar yang dialaminya adalah mempertahankan pelanggan. Para pemotong rambut yang berpengalaman memiliki pelanggan setia. Jika mereka dibajak salon lain, pelanggan akan mengikutinya. Pendapatan pun hilang.

Karyawan yang sudah pintar rawan dibajak. "Sekali pindah, mereka yang keluar bisa berbondong-bondong, apalagi pelanggannya," kata Henry di Bandung, Senin (6/4). (bay)
Selengkapnya...

Edy dan Briket Kulit Kacang

Thursday, April 2, 2009

Sehari-hari Edy Gunarto bergelut dengan kulit kacang. Kulit kacang itu dia masukkan ke dalam sebuah drum besar lalu dibakarnya selama sekitar dua jam. Agar cepat dingin, arang kulit kacang itu kemudian dijemur.
Setelah dihancurkan hingga menyerupai tepung, adonan itu diaduk dengan lem kanji. Proses terakhir adalah mencetaknya menjadi briket siap pakai.

Eny Prihtiyani warga Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, ini menggeluti usaha itu setidaknya sejak lima tahun terakhir. Briket produksinya itu sudah dipasarkan ke berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta. Sebagian besar pelanggannya adalah kalangan industri rumah tangga.

Gagasan membuat briket kulit kacang muncul ketika Edy menghadapi banyaknya sampah kulit kacang di daerahnya. Sampah itu dibiarkan berserakan di pinggir jalan atau dibuang begitu saja di kebun-kebun. Di rumahnya sendiri, sampah kulit kacang juga tidak kalah banyaknya. Apalagi istrinya adalah pengepul kacang tanah.

”Bila panen tiba, banyak petani yang menjual kacang kepada istri saya. Setelah dikupas, oleh istri saya lalu dijual kepada pedagang pasar tradisional, terutama di Beringharjo. Jadi, sampah kulit kacang di rumah selalu menumpuk,” katanya.

Sampah kulit kacang itu makin menumpuk ketika Edy berhasil membuat alat pengupas kacang dengan kapasitas 2 kuintal per hari. Alat itu terus dia sempurnakan hingga kapasitasnya mencapai 1,5 ton per hari. Alat itu dibuatnya setelah mengamati alat perontok padi karena prinsip kerjanya hampir sama.

”Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak. Tidak hanya dari petani di Bantul, tetapi juga dari wilayah Gunung Kidul dan Kulon Progo. Itu membuat usaha istri saya berkembang pesat. Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami,” ujarnya.

Awalnya Edy hanya menjual sampah kulit kacang itu kepada para perajin tahu seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per truk. Oleh perajin, kulit kacang dipakai sebagai bahan bakar mengolah tahu.

Setelah mendapat informasi dari berbagai sumber, seperti buku dan pelatihan tentang pembuatan briket, dia pun tertarik membuat briket kulit kacang. ”Saat itu yang diperkenalkan adalah pembuatan briket dari serbuk gergaji. Namun, karena bahan bakunya di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja,” cerita Edy.

Eksperimen

Selama masa eksperimen, Edy masih mencampur kulit kacang dengan serbuk gergaji. Dia khawatir, kalau semua bahan bakunya dari kulit kacang, briketnya tidak bisa sempurna. Lambat laun dia mulai meninggalkan serbuk gergaji dan hanya menggunakan kulit kacang.

Keuletan dan ketelatenan Edy melakukan eksperimen membawanya pada satu kesimpulan, yakni briket bisa dibuat dari semua jenis limbah organik. Selain kulit kacang, briket juga bisa dibuat dari bahan baku seperti cangkang jarak, tempurung kelapa, dan tongkol jagung.

Sekarang, bila stok kulit kacang tengah menipis, Edy beralih pada bahan baku yang lain. ”Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang. Dalam kondisi seperti ini, biasanya saya beralih ke tongkol jagung,” katanya.

Dalam sehari Edy bisa memproduksi sekitar 70 kilogram briket. Setiap 1 kg briket membutuhkan sekitar 2 kg kulit kacang. Jadi, dalam sehari kebutuhan bahan bakunya mencapai 180 kg kulit kacang.

Selain memanfaatkan sampah kulit kacang milik sendiri, Edy juga membeli dari petani seharga Rp 50 per kg. Briket kemudian dia jual Rp 2.500 per kg. Edy menjualnya dalam bentuk kemasan 2 kg.

”Produksinya memang belum terlalu tinggi, padahal permintaannya cukup banyak. Salah satu kendalanya adalah peralatan yang kami gunakan sebagian besar masih tradisional. Kalau saja ada investor yang tertarik, mungkin usaha ini bisa dikembangkan lebih maksimal mengingat potensi sampah organik di sini sangat besar,” ujar Edy.

Sederhana

Semua peralatan yang dipakai Edy memang tergolong sederhana. Ia memodifikasi semuanya sendiri. Latar belakang pendidikan teknik mesin semasa belajar di STM 2 Jetis Bantul ternyata cukup membantu.

Misalnya, untuk mesin pengaduk molen briket, dia membuat sendiri dengan meniru prinsip kerja mesin buatan pabrik. Untuk membuat alat itu, ia menghabiskan sekitar Rp 2 juta, sementara jika membeli di pabrik bisa sampai Rp 5 juta. Untuk mencetak briket, Edy juga memanfaatkan alat cetakan genteng yang sudah dia modifikasi.

Untuk memanfaatkan briket, konsumen tinggal membeli tungku yang terbuat dari tanah liat seharga sekitar Rp 10.000. ”Sebelumnya memang belum ada perajin gerabah yang membuat tungku untuk briket. Ketika itu yang ada tungku dari besi seharga Rp 150.000. Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya,” kata Edy.

Untuk menyalakan briket di tungku gerabah tidaklah susah. Caranya, briket ditaruh di lubang di atas tungku lalu dinyalakan dari atas. Menyalakannya pun tidak sesulit briket batu bara. Untuk menyalakan api, orang bisa menggunakan bantuan secuil kain atau kertas.

Keuletan Edy dalam mengembangkan usahanya ternyata mendapat respons positif. November tahun lalu dia berhasil menggondol juara pertama tingkat nasional kategori pengembangan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia bekerja sama dengan Citi Peka.

Penghargaan itu membuat Edy semakin bersemangat. Atas prestasinya tersebut, dia mendapat hadiah Rp 11 juta. Rencananya uang itu akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.

Dia yakin, usahanya akan semakin berkembang mengingat ketersediaan minyak tanah bersubsidi semakin langka. Di wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman, misalnya, minyak tanah bersubsidi sudah ditarik, sedangkan di kawasan Bantul kemungkinan hanya sampai Desember mendatang.

”Tanpa subsidi, harga minyak tanah bisa Rp 8.000 per liter. Jadi mungkin akan semakin banyak masyarakat yang beralih pada bahan bakar alternatif,” kata Edy.

Menurut dia, briket buatannya mirip dengan briket batu bara. Setiap 1 kg briket bisa menghasilkan panas hingga sekitar dua jam.

Menggunakan briket untuk bahan bakar memasak juga terhitung lebih irit dibandingkan dengan memakai minyak tanah. Untuk keperluan memasak nasi, sayur, dan lauk, jika menggunakan kompor minyak tanah bisa menghabiskan sekitar satu liter minyak yang harganya sekitar Rp 8.000 (harga nonsubsidi). Jika memakai briket, hanya mengeluarkan uang Rp 2.500.

Selain lebih irit, briket kulit kacang juga tidak menimbulkan asap dan jelaga sehingga tidak mengotori dinding dan peralatan memasak, kata Edy. (Eny Prihtiyani)
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Mengeja Laba Usaha Kursus Baca Tulis

Monday, March 2, 2009

Orang tua sering khawatir kalau anaknya yang baru masuk sekolah dasar (SD) tak segera menguasai keterampilan membaca dan menulis. Alhasil, sebagian memilih menggenjot kemampuan ini dengan memasukkan ke lembaga kursus.

Yeni adalah salah satu yang melihat peluang bisnis dari kondisi ini. Sejak tahun 2003, Yeni mendirikan kursus Baca Tulis di Yogyakarta. Kursus ini memberikan jasa mengasah kemampuan membaca dan menulis anak dengan memberi stimulus berupa pembacaan dongeng dan berbagai lembar kerja. Target lembaga ini adalah anak-anak kelas 1 SD sampai kelas 2 SD.

Setelah cukup sukses dan melihat peluang lebih besar, sejak tahun 2006, Yeni lantas mengembangkan bisnis pendidikannya dengan konsep kemitraan.

Untuk menjadi mitra kursus Baca Tulis, Anda harus merogoh kocek sebesar Rp 20 juta. Dengan duit sebesar itu, mitra akan mendapatkan paket perdana senilai Rp 10 juta yang meliputi paket alat peraga, rak pajangan, perangkat administrasi, dan modul pembelajaran. Lalu, alat promosi seharga Rp 5 juta, dan biaya lisensi selama lima tahun seharga Rp 5 juta.

Total biaya tersebut juga sudah mencakup pelatihan pekerja maksimal tiga orang. Namun, biaya itu belum termasuk prasarana yang meliputi tempat kursus, meja, kursi, dan sebagainya.

Meski sudah membayar semua biaya tersebut, Anda belum dianggap sebagai mitra sampai lulus masa percobaan selama setahun. Pihak Yeni akan mengevaluasi langsung mitra yang meliputi jumlah murid dan sistem pembelajaran. "Jika tidak sesuai target, mitra dianggap gagal," ajar Yeni. Jika gagal, mitra hanya akan mendapat pengembalian biaya lisensi sebesar Rp 5 juta.

Sistem royalti

Pemasukan mitra dari bisnis ini berasal dari biaya pendaftaran yang berkisar Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per siswa dan iuran bulanan yang berkisar Rp 120.000 sampai Rp 300.000 per siswa. "Besar biaya bervariasi, mitra bisa menentukan sendiri besaran biaya berdasarkan lokasi masing-masing," kata Yeni.

Lama proses belajar di lembaga kursus ini dua kali seminggu selama 75 menit setiap pertemuan. Agar pengajaran lebih maksimal, jumlah anak dibatasi hingga delapan orang per kelas.

Jika usaha sudah jalan, mitra wajib menyetor royalti dari sebagian pendapatan kursus tiap bulan. Besarnya bervariasi, tergantung komponen pendapatan. Misal, dari setiap biaya pendaftaran peserta, si mitra harus membayar royalti 50 persen ke pusat. Dari iuran bulanan peserta kursus, mitra harus membayar royalti 35 persen.

Dengan asumsi mitra mampu menggaet minimal enam siswa setiap bulan, Yeni memperkirakan mitra akan balik modal dalam satu tahun. Perhitungannya, dengan 72 peserta setahun dan biaya pendaftaran Rp 150.000, mitra sudah mengantongi Rp 5,4 juta setelah dikurangi royalti. Dari pendapatan bersih iuran bulanan per anak Rp 82.500 per bulan untuk 72 anak, mitra mendapat Rp 46,33 juta per tahun setelah dikurangi royalti. Setelah dikurangi gaji guru sebesar 20 persen dari biaya lainnya, mitra bisa balik modal dalam setahun.

Saat ini, kursus Baca Tulis telah memiliki 36 gerai yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan, dan Lampung. "Ada 23 cabang produktif. Sisanya masih salah kelola," ujar Yeni. Yang masuk kategori produktif adalah cabang yang bisa menggaet minimal 20 siswa per bulan dengan omzet Rp 10 juta-Rp 12 per bulan. (Kontan/Dessy Rosalina)
Selengkapnya...

Menghirup Fulus Bisnis Rokok Arab

Friday, February 20, 2009

Anak-anak muda gemar mencari tren unik dan nyentrik. Nah, salah satu tren yang kini sedang in di kalangan anak muda Jakarta adalah mengisap rokok Arab, atau populer disebut shisha.

Tak percaya? Coba sambangi beberapa kafe di Jakarta. Di sana Anda akan menjumpai shisha. Aktivitas merokok khas Timur Tengah ini menjamur karena cara mengisapnya unik. Sekadar catatan, shisha adalah kegiatan mengisap tembakau Arab dengan perangkat yang terdiri dari pipa—biasa disebut hookah atau bong—yang tersambung dengan selang panjang. Prinsip kerjanya: tembakau dipanaskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup.

Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau. Kini ada sekitar 30 rasa tembakau, mulai dari buah-buahan, cokelat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya mengandung maksimal 0,05 persen nikotin dan 0 persen tar.

Menilik tren ini, tak salah jika pemain bisnis pelengkapan shisha ketiban pulung. Salah satunya adalah Mochamad Taufik. Pria 28 tahun ini mengawali bisnis perlengkapan shisha karena melihat keunikan shisha dan sekaligus hobi. Dengan bermodal Rp 5 juta, ia menjajal peruntungan bisnis ini pada 2005. Ia memakai modal awal itu untuk membeli lima hookah dan perlengkapan lain ke perajin di Dubai, Uni Emirat Arab, lewat perantara sang pacar. Tak disangka, dalam tempo singkat, lima alat itu habis terjual. Taufik makin yakin bisnis ini mampu mendatangkan laba.

Rp 50 juta sebulan

Ketika terjun ke bisnis peranti shisha, Taufik sadar sudah ada beberapa pemain di bisnis ini. "Bedanya, mereka hanya jual alat. Kalau saya menjual alat, tembakau, dan aksesorinya. Kelebihan lain, saya berani kasih garansi," katanya. Pemasaran lewat dunia maya memuluskan bisnisnya. "Situs web saya satu-satunya toko online perlengkapan shisha di Indonesia," ujarnya bangga.

Ide awal menggarap bisnis shisha berawal dari status Taufik sebagai penikmat. Taufik yang memang berdarah Timur Tengah punya kegemaran mengisap shisha sejak remaja. Sebagai penggemar, ia mengaku tak sekadar menjual produk, tapi juga melakukan edukasi kepada masyarakat soal shisha. "Banyak orang salah kaprah bila melihat bentuk pengisap yang mirip bong alias alat pengisap sabu ini," katanya.

Taufik membanderol harga perlengkapan shisha impornya mulai Rp 200.000 sampai Rp 1,5 juta per unit. Harga racikan tembakau mulai Rp 30.000 sampai Rp 85.000 per 250 gram. Lain lagi harga aksesorinya. Misalnya, harga foil Rp 10.000 dan mouthip (alat kecil di ujung plastik isap yang bisa dilepas) dari Rp 30.000 sampai Rp 50.000.

Menurut Taufik, harga shisha mahal karena masih impor dari Dubai, Arab Saudi, Iran, Mesir, India, dan China. Pelanggan Taufik adalah perorangan, kafe, juga restoran. "Dalam sebulan, saya bisa menjual sekitar 75-100 hookah, di luar tembakau dan aksesori," katanya. Pernah juga, dalam sehari ia mendapat omzet Rp 15 juta.

Kini, dibantu sang istri dan mertuanya, Taufik menggulirkan roda bisnisnya dengan omzet Rp 50 juta per buIan. Dari omzet sebesar itu, sekitar 15-20 persen masuk ke koceknya sebagai laba bersih. Sampai kini ia tak membuka gerai resmi. Ia memilih mendirikan toko online. "Ini juga bagian cara menghemat ongkos produksi," katanya.

(Kontan/Dessy Rosalina)
Selengkapnya...