Followers

Google
 
Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Mencicipi Bisnis Rumahan Kue Tradisional

Monday, June 13, 2011

Inspirasi bisnis bisa didapat dari mana saja asalkan ada kemauan. Aspek tradisi daerah bisa dijadikan modal untuk memulai bisnis sekaligus mempertahankan budaya lokal.

Misalnya kue khas Gorontalo yang coba dipertahankan oleh seorang pengusaha kue rumahan asal Gorontalo yang sudah lama menetap di Jakarta, yang bernama Mona Melani Djamal.

Salah satu makanan khas Gorontalo yang paling digemari adalah kue perahu, kue yang berbahan utama gula merah, santan, irisan kelapa, dan diberi wadah dauh pandan berbentuk seperti perahu.

"Buat kue khas Gorontalo sengaja biar kue Gorontalo nggak hilang," kata Mona kepada detikFinance Senin (13/6/2011).

Menurutnya bahan baku untuk membuat kue ini terbilang mudah didapat karena dari gula merah sampai santan dapat dijumpai hampir di setiap pasar, baik pasar modern maupun pasar tradisional. Namun Mona mengaku tidak mudah untuk membuat satu kue perahu agar adonannya tidak rusak. Ia selalu mencoba untuk membuat sebuah kue perahu dengan sempurna.

"Butuh perjuangan kalau pengen bikin, harus ditungguin nggak boleh ditinggal. Terus bikin wadahnya tidak bisa nyuruh orang, nggak menjiwai nggak bisa rapih," ungkapnya.

Menurut Mona, kue perahu ini dikenalkan lewat teman-teman dekatnya ketika arisan. Saat ini, dia sudah memasarkan kue-kue perahu karyanya ke ke luar kota, bahkan juga ke kota asalnya di Gorontalo. Pengalaman Mona ini, bisa menjadi inspirasi bagaimana memesarkan produk kue rumahan dari pasar lingkungan sekitar hingga ke yang lebih luas.

"Dulu suka dibagi-bagi kalau ada arisan. Terus dari mulut ke mulut tahu yang bikin kue perahu cuma aku. Sekarang yang mesen sudah ke mana-mana karena mungkin jarang. Sudah nyampe ke mana-mana deh, aku pernah kirim pesenan ke Gorontalo kirim pakai pesawat," paparnya.

Mona menjelaskan modal untuk membuat kue perahu ini terbilang murah. Untuk membuat sebanyak 50 kue perahu, Mona hanya menghabiskan kurang dari Rp 50.000. Hargsa satu potong kue perahu hanya dibandrol Rp 2.500. Mona mengaku sering mendapat komentar miring dari para pelanggannya, tapi Mona jarang ambil pusing karena memang harga yang harus dibayar untuk menikmati sebuah kesabaran dalam membuat kue perahu.

"Kadang-kadang orang bilang mahal, tapi terserah deh orang bilang apa. Ini mahal jasanya," ujarnya.

Mona menambahkan, jenis kue seperti ini masih jarang dijual karena itu ia mengambil kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Kadang-kadang orang bilang mahal, tapi terserah deh orang bilang apa. Ini mahal jasanya," tuturnya.

Dengan menjual kue perahu, ia mampu menghasilkan lebih dari Rp 3 juta dalam sebulan, itu pun tergantung dari pesanan yang datang karena Mona hanya menjual kue perahu tersebut apabila ada pesanan dari pelanggannya.

"Nggak tentu karena tergangtung pesanan, biasanya bisa di atas Rp 3 juta per bulan. bikin kalau ada pesenan saja ini bukan jualan sebenernya" tandasnya.

Selain kue perahu Mona juga menjual beberapa kue khas Gorontalo yang lain, seperti Sirikaya Bakar, Cara Isi, Wapili. Selain kue perahu, Mona juga melayani
pesanan kue lain seperti kue sus dan puding.

Mona Melani Djamal
Jl. Dokter Saharjo, Sawo III No. 8 Rt 10/09
Jakarta Selatan 12860
Selengkapnya...

Memetik Uang dari Investasi Pohon 'Jabon'

Monday, February 21, 2011

Pilihan investasi sektor kehutanan belum banyak dilirik oleh masyarakat luas. Termasuk investasi menanam pohon jabon. Padahal jika ditekuni, hasil investasi jabon ini tak kalah menggiurkan.

Istilah Jabon mulai familiar dikalangan masyarakat beberapa tahun terakhir. Kepopuleran jabon seakan menenggelamkan pohon sengon yang sebelumnya sudah banyak dikembangkan.

Jabon sering diplesetkan dengan istilah 'jati bonsor' (jabon) yaitu jenis pohon yang mirip jati dengan kemampuan tumbuh yang sangat cepat. Sehingga tak heran jenis pohon ini cocok sebagai pohon yang kayunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu seperti plywood maupun industri pulp maupun kertas.

Kemasyuran pohon jabon sebagai salah satu pohon yang bernilai ekonomis tinggi, juga telah diakui oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Zulkifli menilai, harga jual kayu jabon bernilai tinggi sehingga cocok untuk investasi masyarakat.

"Satu kubik pohon jabon sekarang harganya Rp 1,6 juta, kalau harga beberapa tahun lagi, pasti lebih mahal," kata Zulkifli akhir pekan lalu.

Zulkifli mengatakan panen jabon bisa dipetik dalam waktu hanya 6-7 tahun paling lama. Selain buat investasi, menanam jabon juga bisa menjadi saran mensukseskan program menanam 1 miliar pohon.

"Pohon jabon ini pionir, dimana-mana banyak terutama di Sulawesi, sebagai tanaman endemik," kata Zulkifli.

Sementara itu Pemimpin Pelaksana Balai Pemeliharaan Tanaman Hutan Jawa Madura Acad Sudrajat mengatakan gambaran kasar investasi pohon jabon sangat menggiurkan.

Ia menuturkan modal bibit jabon siap tanam hanya Rp 2.000-2.500. Sementara dengan perhitungan harga satu kubik pohon jabon Rp 1,6 juta dengan setiap pohon jabon umur 6 tahun bisa diperoleh dua kubik, sudah terbayang berapa margin yang diperoleh si investor.

"Bayangkan saja keuntunganya luar biasa dari modal Rp 2.500 per pohon menjadi Rp 3 juta," kata Acad.

Hal ini pun diakui oleh Direktur Pembibitan Kementerian Kehutanan Bejo Santoso, menurutnya setiap kali panen dalam satu hektar bisa diperoleh perputaran uang hingga Rp 500 juta. Tawaran investasi jabon, kini menurutnya sudah menjadi primadona baru untuk investasi.

"Yang menarik, dari hasil tulisan yang ada hingga kini jabon belum ada penyakitnya. Di Jawa sudah banyak penampungnya untuk industri plywood," kata Bejo.

Acad menjelaskan dengan perhitungan jarak penanaman 3x3 meter, maka setiap hektarnya bisa ditanam 400 pohon. Ia menghitung, nilai ekonomis penanaman jabon bisa diperoleh dari penanaman pohon sedikitnya setengah hektar.

"Lahan tergantung milik sendiri, setengah hektar lumayan 200 pohon pun bisa," katanya.

Dikatakannya, pohon jabon memiliki karakteristik tumbuh baik di ketinggian 0-700 meter diatas permukaan laut. Bahkan kata dia lokasi yang baik jabon sangat tumbuh baik di kawasan lembah.

Menurutnya jabon memiliki dua jenis yaitu jabon merah dan jabon putih, dua-duanya memiliki keunggulan masing-masing. Misalnya jabon merah memiliki karakter kayu yang keras sedangkan jabon putih sebaliknya.

Untuk urusan bibit, Acad menuturkan informasi soal bibit bisa diperoleh di pusat-pusat persemaian yang dibangun kementerian kehutanan. Misalnya pusat persemaian Cimanggis, Depok yang berlokasi di Jalan Raya Bogor.

Acad menambahkan, harga bibit saat ini untuk yang sudah disertifikasi (teruji) Rp 14 juta per Kg sementara untuk yang belum bersertifikat hanya Rp 3-4 juta per Kg. Biasanya dari 1 kg bibit jabon bisa didapat 20 juta benih, namun jika sudah disemai biasanya akan efektif tumbuh hanya kurang lebih 2 juta bibit siap tanam.

Ia menghitung dari 1 Kg bibit yang mencapai 2 juta benih siap tanam, maka setidaknya bisa ditampung untuk luasan lahan 5000 hektar. Dengan perhitungan setiap satu hektar bisa ditanam 400 pohon jabon.

Soal pemasaran, menurut Acad penanaman jabon di wilayah Jawa masih menjanjikan dengan wilayah lainnya. Hal ini karena di Jawa banyak bertebaran industri-industri kayu maupun kertas.

"Sekarang di Jawa sudah banyak di Jawa Tengah, Jawa Timur. Bahkan pembeli banyak yang langsung ke kebon dari pihak pabrik maupun bandar kayu. Jabon bisa dipakai untuk bahan baku pabrik kertas, plywood, bahan pertukangan," katanya.

(hen/qom)
Selengkapnya...

Zamzami, Sukses Bisnis Gaplek Zebra

Saturday, December 19, 2009

Ahmad Zamzami (23) adalah anak petani Desa Bangunrejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Usaha bisnis gaplek zebra miliknya mampu menyerap 200 tenaga kerja lokal yang rata-rata adalah penganggur dan buruh tani.

Gaplek zebra Zamzami telah menembus pasar Singapura melalui sebuah perusahaan di Surabaya. Gaplek yang terbuat dari ketela pohon (Manihot utilissima) kering itu juga telah menjadi langganan dua koperasi pakan ternak di Rembang.

”Saya memasarkan gaplek pada sebuah perusahaan pengekspor di Surabaya sebanyak 50 kilogram per bulan dan dua koperasi pakan ternak di Rembang masing-masing 100 kg per bulan,” tutur Zamzami.

Setiap bulan, Zamzami mampu menghasilkan 200 ton ketela pohon, bahan baku gaplek. Ketela pohon sebanyak itu dapat menjadi gaplek sekitar 150 ton per bulan karena ada bagian-bagian tertentu dari ketela pohon yang dibuang.

Kegundahan hati


Saat ini, harga gaplek Rp 900 per kilogram. Omzet dari pemuda yang masih di semester III di Fakultas Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPPI Rembang itu mencapai Rp 135 juta per bulan.

Capaian Zamzami itu tidak terlepas dari filosofi hidupnya, menyat sekang turu atau bangkit dari tidur. Manusia harus berusaha segiat mungkin tidak sekadar bermimpi dan jeli mencari celah-celah usaha.

Filosofi itu pun dia ungkapkan dalam sebuah proposal ajakan kerja sama yang ditujukan kepada Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kebunharjo Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Lebih kurang, Zamzami menuliskan begini, ”Memijakkan kaki di lahan yang tidur untuk menggugah pola pikir masyarakat yang tidur.”

Zamzami memulai bisnisnya dari tiga kegundahan hatinya. Pertama, dia khawatir setelah lulus kuliah menganggur. Kedua, di desanya terlalu banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Ketiga, di desanya banyak penganggur dan buruh tani yang membutuhkan penghasilan lain saat tidak menggarap lahan.

Bersamaan dengan itu, gerakan penanaman ketela pohon sebagai bahan baku bioetanol sedang gencar di Kabupaten Pati dan Rembang. Bahkan, ada rencana membangun pabrik mini pengolahan bioetanol.

”Saya menganggap itu sebagai peluang mengembangkan usaha. Waktu itu, saya ingin memanfaatkan lahan kosong Perhutani untuk ditanami ketela pohon,” ujar Zamzami.

Zamzami menceritakan kegundahan, keinginan, dan impian itu kepada orangtuanya, Yahya (45) dan Fasiah (40). Orangtua Zamzami pun mendukung. Mereka bahkan memberikan modal dengan menjual tanah keluarga senilai Rp 100 juta.

”Ayah saya juga memberikan nasihat hidup yang selalu terngiang. Yen kerjo, aja nganti kowe ngawula wong. Luwih becik usaha dhewe bathi sithik ning dhuweke dhewe (kalau kerja jangan sampai ikut orang. Lebih baik usaha sendiri meski untungnya sedikit itu hasil jerih payah sendiri),” kata Zamzami.

Dengan mengajak sejumlah rekan lain agar ikut menambah modal, Zamzami membuka tempat usaha, Wana Jati Utama Sejahtera. Dengan modal yang terkumpul Rp 225 juta, usaha pun bergulir.

Manfaatkan modal


Zamzami memanfaatkan modal untuk menyewa lahan tidur Perhutani seluas 70 hektar selama dua kali musim tanam. Per hektar lahan, Zamzami harus membayar Rp 200.000.

Setelah membersihkan dan mengolah tanah lahan tidur itu, Zamzami menanam ribuan stek ketela pohon. Dalam delapan bulan, Zamzami mampu memanen sekitar 18 ton ketela pohon per hektar lahan. Dia memperkirakan, dengan lahan 70 hektar, ketela pohon yang dipanen mencapai 1.260 ton.

Melalui usaha itu, Zamzami mampu merangkul sekitar 200 tenaga kerja lokal. Mereka itu para pemuda desa yang menganggur, para istri buruh tani, dan buruh tani yang ingin mencari tambahan penghasilan. Perempuan mendapat upah Rp 17.500 per hari, sedangkan lelaki Rp 20.000-Rp 25.000 per hari.

”Mereka bekerja secara bergantian, mulai dari babat hutan, menanam, merawat tanaman, memanen, merajang ketela, mengeringkan, hingga mengepak gaplek,” kata Zamzami.

Namun, saat mendekati masa panen ketela pohon, kabar mengenai pembangunan pabrik bioetanol semakin kabur. Zamzami bahkan mendengar langsung, pabrik itu tidak jadi didirikan. Akibatnya, sejumlah petani penanam ketela pohon kelimpungan menjual panenan.

Harga ketela pohon pun jatuh drastis, dari Rp 900 per kg menjadi Rp 300 per kg. Lantaran tidak mau merugi, Zamzami berupaya mencari pasar lain penampung hasil panen ketela pohon.

”Akhirnya, saya memilih menjadikan panen ketela pohon itu sebagai gaplek karena tren pasarnya sedang naik. Harganya pun relatif bagus. Harga gaplek Rp 900 per kg,” ujar Zamzami.

Zamzami pun sukses dengan berbisnis gaplek. Produknya bahkan diekspor ke luar negeri.

Editor: msh
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Dengan Gedebok Pisang Punya 100 Karyawan

Monday, December 7, 2009

Berkah pohon pisang tidak hanya buah atau daunnya. Tukimin (49) membuktikan bahwa dengan sentuhan kreativitas, gedebok pisang juga bisa menghasilkan sejumlah pemasukan dalam rupiah dengan menjadikannya kerajinan tangan yang digandrungi masyarakat internasional.


Tinggal di lingkungan pedesaan membuat Tukimin akrab dengan alam sejak kanak-kanak. Ia yakin, alam menyediakan segala macam kebutuhan manusia untuk menyambung hidup.

Ia pun berang dengan manusia yang menyia-nyiakan berkah alam. ”Di sekitar rumah saya banyak orang membuang gedebok (batang) pisang setelah memanen buahnya. Menurut saya, limbah batang itu pasti bisa dimanfaatkan,” katanya, Senin, 5 Oktober 2009.

Kendati sudah menekuni profesi sebagai penganyam serat alam sejak tahun 1996, Tukimin yang menetap di Dusun Tanggulangin, Tanjungharjo, Nanggulan, Kulon Progo, itu belum dapat mewujudkan pikirannya. Pemilik CV Indo Seagrass itu sibuk menangani pesanan kerajinan anyaman serat pandan dan agel (gebang) yang sedang booming pascakrisis ekonomi.

Tukimin menjadi lebih sibuk setelah terpilih sebagai Kepala Desa Tanjungharjo sejak 2003. Akhirnya baru pada tahun 2008 pria lulusan SMA itu baru bisa mengolah limbah gedebok pisang karena sebagian program kerjanya sebagai lurah sudah terlaksana. ”Saya beralih ke bahan gedebok pisang agar beda dari perajin lain. Kalau saya tetap menganyam agel dan pandan, usaha saya tak akan berjalan karena banyak saingan,” ungkap Tukimin.

Selain itu, serat batang pisang juga memiliki tekstur yang berbeda dibanding serat alam lain. Serat gedebok lebih kuat, tetapi tetap halus dan empuk. Semakin muda usia batang pisang yang digunakan, semakin halus tekstur anyaman. Mengolah gedebok pisang sesungguhnya tak sulit. Bilah-bilah batang tersebut hanya perlu dikeringkan dengan cara dijemur 10 hari. Dalam proses pengeringan, Tukimin tidak menggunakan oven karena akan merapuhkan serat, yang membuat mudah patah saat dipilin.

Hasil pilinan serat gedebok pisang kemudian dianyam atau dijalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan produk kerajinan, seperti tas, keranjang, dan furnitur rumah tangga. Agar kuat, anyaman serat dilem dan diikat dengan benang kasur. ”Tampilan serat gedebok pisang umumnya kusam sehingga untuk mencerahkannya saya menggunakan cat pernis berbahan dasar air dan sudah memenuhi standar keamanan internasional,” katanya.

Melalui distributor yang kerap memasok kerajinan anyaman di Nanggulan, Tukimin mempromosikan produknya. Tidak disangka, animo pembeli, khususnya luar negeri, begitu besar. Kerajinan buatan Tukimin laku keras di Spanyol, Hongkong, dan Jepang. Jumlah pesanan pun terus naik. Jika tahun-tahun sebelumnya Tukimin hanya membuat 10.000 hingga 20.000 produk anyaman setiap bulan, kini ia sanggup menghasilkan 100.000 produk, khusus dari bahan serat batang pisang.

Jumlah pegawai yang awalnya hanya 20 orang dirasa tidak lagi mencukupi. Kini, Tukimin mempekerjakan 50 pegawai. Itu belum termasuk jumlah pekerja tidak tetap sehingga totalnya bisa mencapai 100-an orang. Selain mempekerjakan pemuda-pemuda lokal, Tukimin juga menampung tenaga kerja dari kabupaten lain, seperti Bantul dan Gunung Kidul. Tukimin mengatakan, gaji pegawainya hampir setara dengan upah minimum regional DIY, yakni Rp 500.000 per bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, Tukimin tidak bisa lagi mengandalkan suplai gedebok pisang lokal, tetapi didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jumlahnya mencapai lima ton. Satu kilogram gedebok pisang kering dibelinya dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 12.000. Harga kerajinan beragam, mulai ribuan hingga jutaan rupiah, bergantung pada desain dan ukuran produk. Ia sengaja memasang harga dalam rupiah karena lebih tahan terhadap dampak krisis ekonomi. Terbukti pada krisis keuangan global pada akhir tahun lalu usaha kerajinan Tukimin tetap langgeng.

Untuk mempermudah transaksi dan komunikasi dengan pembeli, kini Tukimin juga sudah memanfaatkan sarana internet dengan berkirim surat elektronik (e-mail). Ia merasa belum siap untuk membuat situs internet sendiri karena masih gagap teknologi.

Rata-rata omzet CV Indo Seagrass di atas Rp 100 juta per bulan dengan batas keuntungan 20 persen. Tukimin tidak menikmati keuntungan itu sendiri, melainkan ia membagi kepada para perajin lain dalam wujud pelatihan usaha. ”Saya tidak mau pelit berbagi ilmu. Penjiplakan desain atau peniruan ide adalah hal biasa dalam usaha. Hal itu justru terus memicu saya agar tetap kreatif dan tampil beda,” ujarnya.

Kepala Tukimin memang dipenuhi banyak cita-cita mulia. Selain mengurangi jumlah limbah alam, ia juga ingin membangkitkan usaha kecil Kulon Progo yang saat ini seolah jalan di tempat. Banyak pengusaha kecil tidak memiliki tekad dan kemauan sebesar Tukimin sehingga mereka setengah hati menjalankan usaha.

Tukimin optimistis, kerajinan serat gedebok pisang memiliki prospek cerah hingga beberapa tahun ke depan. Terlebih tren penggunaan produk-produk yang ramah lingkungan terus menggema dari waktu ke waktu. Selain untuk ekspor, Tukimin juga mulai membidik pasar lokal. Menurut dia, konsumen dalam negeri sudah semakin jeli membedakan produk bagus dan berkualitas, serta tidak mempersoalkan merek.

Editor: Edj
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Bisnis Jamur Yang Menggiurkan

Sunday, November 22, 2009

Ratidjo memutuskan berhenti sebagai karyawan PT Tuwuh Agung Yogyakarta yang bergerak di bidang ekspor jamur merang ke Amerika tahun 1997. Ia ingin sepenuhnya dekat dengan petani sebagai penyedia bibit. Ratidjo paham benar, jika keadaan petani tidak membaik, terutama dari sisi pemasaran hasil produksi jamur, maka usaha pembibitan yang ia rintis tidak akan berjalan baik.

Sejak itulah lelaki asli Dusun Niron, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, ini berniat membuka rumah makan yang khusus menyediakan menu olahan jamur. ”Saya hanya ingin menyerap produksi jamur petani yang waktu itu sudah mencapai hitungan ton setiap hari,” tutur Ratidjo pada awal November 2009 di sela-sela padatnya pengunjung Warung Jejamuran miliknya.

Ide itulah yang menuntun Ratidjo membentuk plasma petani jamur di sekitar wilayah Sleman, terutama sekitar lereng selatan Gunung Merapi. Untuk menyediakan kecukupan bibit, di rumahnya Ratidjo membangun laboratorium untuk pengembangan dan pembibitan jamur.

Kini rumah makan dan laboratorium di atas tanah seluas 2.000 meter persegi itu telah mempekerjakan 110 karyawan. Bahkan, hasil bibit jamur Ratidjo sudah didistribusikan ke seluruh Indonesia. Pencapaian terpenting lelaki yang terjun dalam dunia perjamuran sejak tahun 1968 ini adalah membentuk 50 plasma petani jamur.

”Sekarang seperti manufaktur, saya sediakan bibit, lalu petani membudidayakan, dan saya beli lagi untuk konsumsi lokal di warung. Jadi, kalau budidaya jamur terus bergairah, usaha pembibitan saya akan tetap jalan,” tutur Ratidjo.

Setelah adanya Warung Jejamuran, harga jamur di tingkat petani meningkat. Jika sebelumnya harga jamur tiram Rp 7.000 per kilogram, sekarang Ratidjo membelinya dari petani Rp 9.000 per kilogram. Dulu harga jamur merang Rp 12.000 per kilogram, kini dibeli seharga Rp 17.000 per kilogram. Jika toh terjadi kelebihan produksi, Ratidjo tetap menyerapnya untuk dijadikan olahan jamur kering atau disalurkan kepada pasar swalayan.

Warung Jejamuran yang berlokasi 800 meter ke arah utara dari pertigaan Beran Lor Km 10,5 Jalan Raya Yogyakarta-Magelang itu kini menjelma menjadi ujung tombak pemasaran produksi jamur petani. Setidaknya, dengan sistem kerja sama plasma, petani jamur tak perlu lagi merasa didikte oleh pasar. Ratidjo sejak awal memang bertekad membawa petani keluar dari lingkaran kemiskinan dengan cara membagi ilmu budidaya jamur. Sebuah upaya kecil, tetapi pasti akan sangat berarti di tengah gelimang kesulitan yang terus-menerus menerpa petani kita. (CAN)
Editor: jimbon
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Arang Batok Kelapa Beromzet Miliaran

Monday, November 2, 2009

Batok atau tempurung kelapa kerap kali dibuang begitu saja di pasar-pasar tradisional. Padahal, batok kelapa bisa sebagai bahan baku mentah untuk diolah menjadi arang. Produk arang batok kelapa sebagai bahan baku setengah jadi itu pun dapat diolah lagi menjadi produk arang yang inovatif.

Produk batu arang tempurung kelapa (coconut shell briquette charcoal) dapat diproduksi sesuai kebutuhan pasar dan menjadi produk ekspor unggulan. Pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dilakukan dengan cara pembakaran. Setumpuk tempurung kelapa dimasukkan ke dalam drum. Kemudian, tempurung kelapa dibakar. Setelah itu, tempurung kelapa yang belum dibakar dimasukkan lagi setahap demi setahap ke dalam drum.

Hal itu terus-menerus dilakukan sampai drum penuh dengan tempurung kelapa. Setelah penuh, drum ditutup dan seluruh batok kelapa di dalam drum mengalami proses pembakaran. Lambat laun, tempurung kelapa akan menjadi arang. Setelah dipisahkan dengan sampah- sampah hasil pembakaran itu, arang tempurung kelapa akan menjadi bahan baku produk arang inovatif yang akan diekspor ke pasar dunia.

Pembakaran tempurung kelapa itu dilakukan pekerja di PT General Carbon Industry (PT GCI) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Sayangnya, jumlah tempurung kelapa—sebagai bahan baku dasar—untuk dibakar menjadi arang itu masih sangat terbatas.

Akibatnya, PT GCI harus mendapat pasokan arang tempurung kelapa sebagai bahan baku dari pemasok yang berasal dari berbagai daerah, seperti Provinsi Riau dan Kepulauan Riau. PT GCI membutuhkan 300-400 ton arang tempurung per bulan sebagai bahan baku untuk produksi arang tempurung yang inovatif. ” Empat kilogram tempurung atau batok kelapa hanya dapat menghasilkan 1 kilogram arang tempurung,” kata General Manajer PT GCI Tonny. Jika kebutuhan bahan baku arang tempurung 300-400 ton per bulan, berarti dibutuhkan 1.200 ton batok kelapa per bulan.

Dari arang tempurung, PT GCI mengolah atau memprosesnya lebih lanjut menjadi produk arang yang berorientasi ekspor. Arang tempurung dibentuk dan dicetak dengan mesin pencetak sesuai kebutuhan pasar. Setelah dicetak, produk arang itu pun masih harus dipanaskan dalam mesin pemanas. Volume produksi arang tempurung PT GCI saat ini mencapai 300 ton per bulan.

Untuk produk tertentu, menurut Tonny, produk arang itu juga diberi bahan kimia. Fungsi bahan kimia itu hanya untuk dapat menyalakan api pada arang tersebut tanpa harus menggunakan bahan bakar, seperti minyak tanah.

Untuk mengontrol kualitas arang tempurung, PT GCI juga memiliki beberapa alat kontrol. Sebelum produk dikirim, arang tempurung yang diproduksi juga diuji coba untuk melihat kualitas, seperti lama pembakaran pada arang.

Saat ini, arang tempurung kelapa yang diproduksi PT GCI sudah menembus pasar dunia. Di Eropa, arang tempurung PT GCI menembus Perancis, Belgia, Belanda, Inggris, Austria, Italia, Jerman, Swedia, dan Denmark.

Di Asia, produk arang PT GCI menembus pasar Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Bahkan, PT GCI juga menggarap pasar Timur Tengah (Timteng), seperti Lebanon dan Suriah.

Dari ekspansi ke pasar dunia itu, menurut Tonny, nilai ekspor per tahun rata-rata 1 juta-1,2 juta dollar AS (sekitar Rp 9,5 miliar-Rp 10,8 miliar). ”Nilai ekspor per tahun mencapai belasan miliar rupiah,” katanya.

Potensi pasar

Potensi pasar ekspor produk arang tempurung masih besar. Di Eropa, arang tempurung dibutuhkan untuk memanggang daging (barbecue).

Di Timteng, arang tempurung lebih banyak digunakan untuk ”merokok” atau shisha. Sementara itu, di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, arang tempurung digunakan untuk keperluan memasak di restoran.

Arang tempurung dinilai memang lebih mudah masuk ke pasar dunia, khususnya Eropa. Produk itu lebih mudah digunakan. Kualitas dinilai lebih baik daripada arang berbahan baku tanaman bakau. ”Daya tahan pembakaran arang tempurung lebih lama,” kata Tonny.

Produk arang tempurung juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak merusak tanaman, seperti tanaman bakau. Apalagi, isu pemanasan global yang sangat sensitif di Eropa.

Direktur Utama Avava Group, yang membawahi PT GCI, Tarman mengungkapkan, arang tempurung yang diproduksi PT GCI biasanya diubah nama produk oleh pemesan. Namun, pihak PT tetap mensyaratkan pada kemasan tetap dicantumkan ”buatan Indonesia”.

Jika tidak mencantumkan ”buatan Indonesia”, pihak PT GCI membatalkan pemesanan. ”Label buatan Indonesia memang harus dicantumkan. Itu kebanggaan. Produk arang bisa memasuki Eropa dan negara- negara lain,” kata Tarman. Saat ini, pihak PT GCI berencana memperluas produksi mengingat pesanan kian banyak.

Tarman menjelaskan, industri pembuatan arang tempurung yang dilakukan PT GCI saat ini pada mulanya merupakan industri milik investor dari Korea Selatan tahun 2004. Namun, industri itu merugi.

Tahun 2007, lanjut Tarman, pihaknya mengambil alih dan meneruskan bisnis arang tempurung kelapa. Pemasaran pun terus dilakukan. Dengan peluang pasar ekspor yang besar, itu berarti kebutuhan bahan baku batok kelapa pun akan semakin besar. Peluang itu pun seharusnya dapat ditangkap oleh pelaku usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan batok kelapa.

Batok kelapa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan arang. Arang dari batok kelapa pun dapat menjadi bahan baku bagi industri menengah untuk diolah lebih lanjut menjadi produk arang berorientasi ekspor.

Editor: Edj
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Memelihara Luwak untuk Hasilkan Kopi Enak

Friday, October 30, 2009

Pawang Luwak mungkin sebuah pekerjaan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan dari kita. Namun pekerjaan ini muncul karena adanya pasar kopi yang prima. Pawang Luwak ini yang bertugas menangkap sekaligus memelihara Luwak, hewan yang memakan buah kopi terbaik.

Luwak kerap disandingkan dengan kopi. Ya, binatang ini memang dikenal karena kesukaannya mengonsumsi buah kopi. Kegemaran ini menyebabkan Luwak berperan sebagai pengolah biji kopi alamiah di dunia.

Buah kopi yang ditelan Luwak akan mengalami proses fermentasi selama berada di perut hewan tersebut. Setelah dicerna sang Luwak, buah kopi itu berubah menjadi biji yang dikeluarkan bersama kotoran sang hewan.

Jangan cemas kalau biji kopi itu tercemar kotoran Luwak. Biji kopi yang dikeluarkan Luwak ini masih berbentuk utuh. Tentu saja, sebelum diproses menjadi bubuk, bpi kopi akan dibersihkan dulu.

Dalam proses pencernaan Luwak inilah, akan diperoleh biji kopi dengan rasa spesial. Adanya proses inilah yang mengakibatkan harga biji kopi Luwak sangat tinggi.

Minum susu

Selama ini, bpi kopi Luwak hanya diperoleh secara tradisional. Pasalnya, Luwak pemakan kopi merupakan binatang liar yang hidup di alam bebas. Alhasil, pemungut kopi Luwak hanya mengumpulkan kotoran Luwak yang berserakan di perkebunan kopi.

Namun, sejak tahun 2006, PTPN XII berupaya memelihara Luwak demi menghasilkan biji kopi Luwak. Nah, untuk menangkarkan luwak-luwak liar ini, PTPN mengerahkan tenaga Pawang Luwak.

Tak mudah menangkap dan merawat Luwak yang pada dasarnya merupakan binatang liar. Itu sebabnya, menjadi Pawang Luwak bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.

Apalagi, selama ini tak ada buku-buku referensi tentang perhwatan Luwak. Tak heran, Pawang Luwak banyak belajar dari pengalamannya sendiri. Salah satu modal utama yang harus dimiliki Pawang Luwak adalah menguasai seluk beluk tentang Luwak. "Luwak itu rentan mati," kata Wuryanto, seorang Pawang Luwak dari PTPN XII.

Asal tahu saja, setelah ditangkap dari alam bebas untuk dikandangkan, Luwak seringkali stres. Itulah sebabnya, pada awal penangkaran PTPN XII, banyak Luwak yang telah ditangkap mati.

Menjaga agar sang Luwak tetap hidup di dalam kurungan merupakan tantangan terberat seorang Pawang Luwak. Wuryanto menuturkan, setelah penangkapan, Luwak memiliki masa kritis beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

Masa kritis itu biasanya berlangsung selama satu hingga dua minggu. "Jika tak bisa lolos dari masa itu, Luwak bisa mati," ujarnya.

Dalam masa kritis itulah, Luwak butuh perhatian khusus. Untuk menghindarkan Luwak dari stres, biasanya Pawang teratur memberi makanan kegemaran Luwak. Dari hasil pengamatan Wuryanto, selain kopi, Luwak ternyata gemar makan pepaya dan pisang.

Bila Luwak yang ditangkap masih kecil, Pawang harus memperlakukannya seperti merawat bayi. "Luwak kecil harus teratur minum susu," ujar Wuryanto.

Setiap musim kopi, Luwak hanya diberi buah kopi sebagai menu utama di malam hari. Alhasil, Pawang atau pemelihara Luwak setiap sore harus menempatkan buah kopi di kandang Luwak.

Baru pada pagi harinya, para Pawang itu mengambil kotoran Luwak. Dalam satu malam, Luwak mampu melahap sekitar 3 kilogram buah kopi.

Perhatian pada Luwak tak sebatas pada masa setelah penangkapan atau soal makanannya. Dalam pemeliharaannya, Pawang harus menjaga kebersihan kandang setiap hari. Maklum, Luwak termasuk binatang yang suka tinggal di tempat yang bersih. Bahkan, ketika membuang kotoran pun, Luwak akan memilih tempat yang bersih. Seperti di tanah kering, di atas bebatuan atau di atas dahan yang tumbang. (Fathoni Arief/Kontan)
Editor: Edj
Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...

Sukarjo, dari Preman Jadi Kades Petani

Tuesday, October 20, 2009

Siapa itu Sukarjo ? Jika pertanyaan tersebut dilontarkan 12 tahun lalu, warga Desa Sukoharjo Ngalik, Sleman bakal menjawab Sukarjo itu preman. Namun jika pertanyaannya dijawab sekarang, Sukarjo adalah petani yang juga kepala desa.

Sukarjo (49) baru 1,5 tahun menjabat. Namun ketika peringatan Hari Pangan Sedunia di DIY dua pekan lalu ia ditunjuk mewakili kepala-kepala desa se-DIY menerima bantuan 500-an bibit sukun sebagai program diverifikasi pangan dan penghijauan desa , tentu ada alasannya.

Salah satu alasannya ialah, Sukarjo dianggap sukses memberdayakan tanah bengkok dan mengajak masyarakat untuk menyelami pertanian dan banyak menanam pohon . Tanah bengkok yang oleh banyak kepala desa hanya disewakan, di tangan Sukarjo, tanah bengkok ditanami aneka macam.

Tanah bengkok seluas sembilan hektar ditanami ketela pohon dan cabai. Ketela pohon juga ditanam di lahan miliknya yang seluas 2.000 meter persegi lebih. Dari hasil bertaninya ini, dalam sebulan Sukarjo bisa mendapat keuntungan Rp 30 juta lebih.

Dari daun ketela ketela pohon saja, yang didapat sudah lebih Rp 4 juta per bulan. Konsumennya adalah sejumlah rumah makan padang. Saat ini Sukarjo bisa mempekerjakan 25 orang, yang sebagian adalah warga. Beberapa petani lain warga desa yang sudah melihat cara bertaninya, lantas terinspirasi meniru. Beberapa tenaga kerjanya pun sudah mengundurkan diri karena ingin mandiri sebagai petani. Tapi, sejatinya hal itulah yang diinginkan Sukarjo.

Titik tolak hidup Sukarjo yang akrab dipanggil Gandung ini bermula tahun 1998, saat dia jenuh dengan dunianya: sebagai tenaga kontrak perusahaan kayu, sekaligus preman, tukang onar, dan tukang judi. Namun di sisi lain, kejenuhan itu tampaknya berbarengan dengan keinginannya menanam padi.

"Saya ingin menanam padi, juga menanam apa saja. Mungkin karena orang tua saya adalah petani, yang ditanam dikonsumsi sendiri dan rasanya kok enak. Saya lantas bilang ke orang tua dan saudara bahwa saya mau nggarap sawah, eh mereka ketawa. Sepertinya mereka nggak percaya bahwa saya yang sering gonta-ganti sekolah karena berkelahi ini, mau jadi petani," ujar lelaki tamatan SMP ini.

Namun karena berani ditantang, akhirnya sebagian tanah milik keluarga bisa didapat. Sukarjo lalu minta bantuan beberapa petani asal Magelang untuk bercocok tanam, dan ia sendiri berguru pada mereka. Nada sinis plus ditertawakan sering diterima, sehingga dalam bertani Sukarjo seperti petani yang single fighter , sendirian,

"Orang lebih gampang percaya jika melihat saya membawa kartu untuk judi dan keluyuran buat onar, ketimbang melihat saya mengangkut bibit dan menyentuh tanah. Karena itu, dulu kalau saya ke lahan, seringnya malam-malam karena agak malas ketemu warga dan dicurigai melulu. Kalau saya membawa bambu untuk tonggak tanaman cabai, lha nanti malah dikira mencuri bambu, hahahaha," ujarnya.

Walau Sukarjo sudah menjadi petani sejak tahun 1998 dan warga desa melihat gambaran kerjanya, urusan maju sebagai calon kades tetap tak mudah. Butuh kerja keras menyakinkan warga bahwa ia sekarang punya dunia baru, yaitu bertani, dan dia ingin memajukan desa lewat pertanian. Ia berprinsip jadi petani bisa kaya asal strateginya tepat.

Sekitar 20 tahun menjadi preman dan penjudi, dianggap Sukarjo cukup untuk memberinya karakter tak kenal takut dan tak ragu berspekulasi. "Seperti menanam cabai dan ketela, ya tanam saja. Rugi ya sudah, tapi besok coba menanam lagi. Jika rugi lagi ya menanam lagi. Kalau tetap rugi ya apes. Judi dan bertani sama-sama gambling. Dulu, uang jutaan saja bisa lenyap di meja judi dalam semalam dan saya tidak sedih. Masa sekarang saya takut berspekulasi, padahal istri dan anak saya mendukung," ujarnya. (Lukas Adi Prasetya)
PRA
Editor: Edj
Selengkapnya...

Membiakkan Laba dari Bibit Jamur Merang

Friday, October 9, 2009

Jamur merang atau Volvariella volvacea kini kian populer. Para petani pun kian bersemangat menanamnya. Karenanya, kebutuhan akan bibit jamur ini cukup besar. Adalah PT Agrocendawan Persada di Semarang yang sejak lima tahun silam mengembangkan bibit jamur merang.

Menurut Slamet Trismiyanto dari bagian pemasaran Agrocendawan, umumnya petani jamur belum mampu memproduksi bibit jamur merang sendiri. Karena itu, kebutuhan akan bibit jamur merang hasil pengembangan industri cukup besar.

Agrocendawan mengembangkan bibit jamur lewat teknik kultur jaringan. Prosesnya bermula dengan pengambilan spora dari jamur yang kemudian diletakkan dalam cawan petri berisi media agar-agar dari kentang yang diberi hormon penumbuh dan anti bakteri. Setelah muncul iselium atau serabut kecil, ia dipindahkan atau diturunkan ke dalam cawan baru hingga tiga kali penurunan.

“Tujuannya agar tumbuh sampai maksimal dengan memakan media baru dalam setiap cawan,” tutur Slamet. Dari satu spora tadi bisa dihasilkan sekitar 200-600 bibit dalam cawan petri.

Kemudian, setiap isi cawan petri dipindahkan ke botol bekas saus yang diberi media tanam berupa biji-bijian seperti jagung untuk memperbanyak jumlah bibit. Dari satu cawan petri bisa dipindahkan menjadi 3.000 botol bibit jamur.

Selanjutnya, bibit dalam botol diturunkan ke dalam media tebar atau log yang terbuat dari campuran kotoran kuda yang sudah kering, kapur, dan merang yang dimasukkan ke dalam plastik dan dipadatkan.

Bagian ujung log disumbat dengan kapas, dan diikat dengan aluminium foil. Setelah baglog disterilkan selama tiga jam dalam suhu 121 derajat, dan didinginkan, lalu bagian ujungnya diberi satu sendok bibit bermediakan jagung tadi. “Dari satu botol bibit tadi, bisa diturunkan menjadi 20-30 baglog. Bibit akan memakan media tebar,” sebut Slamet.

Harga jual bibit berkisar Rp 5.000 - Rp 7.000 per baglog. Setiap bulan Agrocendawan memproduksi 1.000 - 2.000 baglog. Dari setiap log menurut Slamet bisa mengambil keuntungan berkisar Rp 1.200 - Rp 1.700, atau sekitar 25 persen. Setidaknya petani membutuhkan 100-120 baglog untuk membudidayakan dalam satu kumbung atau satu rumah jamur berukuran 6×4 meter. (Dupla Kartini PS/Kontan)


Editor: Edj

Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...

Emily, Dara Peretas Ekspor Beras Organik

Friday, September 4, 2009

Tak ada yang mengira kalau dara ini salah satu sosok penting di balik suksesnya Indonesia mengekspor beras organik untuk pertama kali. Dia akrab dengan petani. Ia bersentuhan langsung dengan mereka. Dia juga bukan tipikal pengusaha yang gemar menekan petani kecil.

”Aku mau petaniku menjadi yang paling maju, paling sejahtera hidupnya, dengan menjadikan mereka sebagai pengusaha kecil,” kata Emily Sutanto, pendiri sekaligus Direktur Utama PT Bloom Agro, di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dengan bendera PT Bloom Agro yang ia dirikan setahun lalu, Emily mengekspor beras organik bersertifikat ke Amerika Serikat. Tahap awal pengiriman sebanyak 18 ton. Pengapalan ekspor beras organik perdana ini dilakukan pada Minggu (30/8) melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Beras organik yang diekspor tak sembarang organik, tapi organik bersertifikat. Kata ”bersertifikat” sekadar membedakan produk beras organik ini dengan beras ”organik” yang ada di pasaran, tetapi sesungguhnya tak mengikuti standar produksi beras organik.

Sertifikat beras organik dikeluarkan Institute for Marketecology, lembaga sertifikasi organik internasional, berbasis di Swiss, yang terakreditasi mendunia.

Logo sertifikat yang dikeluarkan pun tak tanggung-tanggung, langsung untuk tiga negara, yakni AS dengan US Department of Agricultural National Organic Program, Uni Eropa, dan Jepang dengan Japanese Agricultural Standard.

Dengan kata lain, beras organik itu sudah mendapatkan ”paspor” untuk masuk ke negara-negara yang paling ketat memberlakukan sistem keamanan pangannya di dunia.

Beras organik ini diproduksi oleh para petani kecil di tujuh kecamatan di Tasikmalaya, Jabar. Mata rantai dalam sistem perdagangan pun mengadopsi prinsip fair trade, yang oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono disebut-sebut sebagai yang pertama dilakukan oleh pengusaha beras ekspor Indonesia.

Dengan mengadopsi prinsip fair trade atau sistem perdagangan berkeadilan, tujuan menyejahterakan petani bukan lagi omong kosong. Bila suatu kali kedapatan petani organik mengalami tekanan harga, pemutusan kontrak kerja sama ekspor terjadi.

Oleh karena alasan fair trade dan kemanusiaan itulah, Emily tak akan mau menekan harga beli beras. Usaha penggilingan padi yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Simpatik bantuan Departemen Pertanian ini dibiarkan tumbuh bersama.

Dia tak harus membeli beras dari petani, tetapi cukup melalui Gapoktan Simpatik agar petani mendapat nilai tambah. Gabah organik setelah diproses di penggilingan milik petani menjadi beras dibeli Emily dengan harga Rp 8.000 per kilogram.

Dengan harga beli yang tinggi, Gapoktan membeli gabah kering pungut dari petani anggotanya dengan harga Rp 3.500 per kilogram atau lebih tinggi Rp 1.500 dibandingkan gabah nonorganik. Pada tahap ini jalur perdagangan semakin pendek dan tidak ada celah bagi tengkulak.

Semakin mantap lagi posisi petani ketika model penanaman padi dengan sistem intensif membuat ada petani yang mampu meningkatkan produktivitas padinya hingga menghasilkan 10 ton gabah kering panen.

Dengan produktivitas setinggi itu, pendapatan kotor petani dalam satu musim tanam (empat bulan) bisa sekitar Rp 35 juta. Apabila dalam setahun padi bisa ditanam tiga kali, pendapatan kotor petani dengan lahan 1 hektar dapat menembus Rp 105 juta.

Mulai dari nol

Kisah perjumpaan Emily dengan beras organik terjadi secara tidak sengaja. Peraih gelar master bidang Manajemen Internasional dan Mass Communication dari Pepperdine University, Los Angeles, California, dan Bond University, Australia, ini pada awal 2008 ditawari Solihin GP, yang dia sebut sahabat keluarganya.

”Bapak Solihin GP waktu itu mengatakan, ’Mau enggak kamu bantu petani? Mereka (petani) mau ekspor beras organik, tetapi pemerintah belum bisa berbuat apa-apa’,” kata Emily mengutip permintaan mantan Gubernur Jabar itu.

Kala itu Emily masih ragu. Dia sangsi, apa benar ada beras yang benar-benar organik di Indonesia. Karena gamang, ia lalu pergi ke Tasikmalaya, dan melihat langsung proses produksi beras organik.

Emily terpana. Mengapa selama ini konsumen beras organik dunia hanya tahu beras organik Thailand saja? Padahal, di Indonesia beras organiknya jauh lebih bagus. Produk beras organik yang dihasilkan begitu orisinal. Secara fisik, beras organik itu lebih empuk dan berat, pertanda banyak kandungan serat dan vitamin.

Proses produksinya juga penuh cinta karena dilakukan secara tradisional. Makin terpikat lagi Emily ketika tahu semangat petani yang berapi-api untuk mengekspor beras organik itu. Namun, mereka tak tahu bagaimana caranya.

”Kalau beras organik dari petani bisa diekspor, ini bisa memacu semangat petani untuk lebih maju,” katanya.

Langkah selanjutnya giliran sertifikasi. Emily menjalani proses ini sampai tiga bulan. Dia memerlukan sertifikasi itu, dengan pertimbangan agar ke depan produksi beras organik bisa berkelanjutan. Di sini perlu diterapkan sistem pengawasan yang dilakukan internal dalam kelompok antarpetani. Dalam hal ini kejujuran petani benar-benar diuji.

Setelah produknya beres, mulailah ia melirik pasar ekspor. Kebetulan dari Cornell University, AS, juga sedang menggarap produk pertanian organik. Jadilah dia dipertemukan dengan calon pembeli, Lotus Foods, yang sangat mendukung program pelestarian lingkungan.

Perbedaan

Bagi Emily, merintis jalan ekspor tidak mudah. Apalagi, sejak usia sembilan tahun ia tinggal di Singapura, AS, dan Australia untuk belajar. Baru sekitar dua tahun lalu dia kembali ke Indonesia. Untuk berkomunikasi dia tak hanya terkendala budaya, tetapi juga bahasa.

Sambil merintis jalan, Emily belajar bahasa Indonesia. Tak jarang, budaya lugas dan cara mengatasi masalah yang tidak bertele-tele seperti yang kerap dia lakukan selama tinggal di luar negeri terbentur budaya petani yang kerap bersikap pasrah.

Ketika ada persoalan menyangkut hama penyakit, misalnya, Emily langsung bertanya mengapa bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Pada awalnya petani takut-takut menjawabnya karena mengira Emily marah. Lama-kelamaan mereka bisa memahami cara kerja dia. Apalagi, ketika Emily kerap mengajak petani lesehan membicarakan masalah bersama-sama.

”Aku minta para petani memanggilku Emily saja, jangan panggil ibu karena kami mitra,” ungkap Emily yang tak suka disebut pengusaha.

Dia mengaku tidak akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pengekspor beras organik. Dia optimistis beras organik dari Indonesia bisa bersaing di pasaran internasional. Buktinya, tambah Emily, dalam waktu dekat ini sudah ada permintaan untuk mengekspor 19 ton beras organik ke Malaysia. (Hermas E Prabowo)
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Dengan Kotoran Sapi, Hasil Pertanian Melimpah

Monday, August 31, 2009

Sapi memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dari kotorannya saja, yang sudah diperas menjadi energi biogas, masih bisa dimanfaatkan menjadi kompos organik.

"Semua kotoran sapi berguna, baik yang tidak dipakai untuk biogas maupun yang terpakai. Tidak ada yang dibuang," kata Yaya Sudrajat Sumama, wakil peneliti utama dalam proyek bioelektrik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Bandung, pertengahan Agustus ini.

Dalam penelitian tersebut, LIPI berhasil mengonversi energi biogas berbasis kotoran sapi menjadi bioelektrik, yakni energi listrik yang bersumber dari bahan organik. "Limbahnya itulah yang kita manfaatkan untuk dibuat kompos," kata pria yang sebelumnya menjadi peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Menurut Yaya, limbah biogas bisa langsung digunakan karena mengandung banyak unsur NPK, yakni nitrogen, fosfor, dan kalium. "Ini bagus. Ciri lainnya kalau sudah siap dipakai adalah warnanya hitam pekat dan tidak berbau," ungkapnya.

Tidak hanya itu, ia melanjutkan, kotoran sapi yang tak terpakai dalam proses biogas, juga diolah menjadi pupuk kompos. Namun, kotoran sapi itu mesti dicampur dengan sampah organik dan difregmentasi dengan katalek.

Perbandingannya, ia menambahkan, 1 kilogram katalek untuk 1 ton kotoran sapi. Sementara perbandingan kotoran sapi dengan sampah organik, 1:3. "Katalek adalah hasil pengembangan teknologi LIPI yang mengandung 16 jenis jamur pengurai bahan organik," tuturnya.

Produk sampingan biogas ini sangat menguntungkan warga Desa Giri Mekar secara khusus dan Kecamatan Cilengkrang secara umum. "Karena tahun 2014 Kabupaten Bandung, di mana kecamatan ini berada, akan menjadi daerah pertanian organik," kata Marlan, Camat Cilengkrang, yang dihubungi secara terpisah.

Menurut Marlan, di desa yang menjadi percontohan bioelektrik itu sudah mempraktikkan pertanian organik. Dan hasilnya mencengangkan. "Kami sudah mencoba pada akhir 2008 untuk kedelai di Giri Mekar dengan lahan 2 hektar. Hasilnya 2 kali lipat. Kalau pakai pupuk kimia 1 hektar menghasilkan 0,9 ton, kalau pakai pupuk kompos biogas menjadi 1,8 ton," paparnya.

Untuk itu, ia menambahkan, pihaknya akan terus mendukung usaha biogas di daerahnya. "Sehingga juga terus berimbas pada sektor pertanian," kata Marlan.

Adapun, menurut Yaya, kompos yang merupakan hasil fragmentasi kotoran sapi dan sampah organik ini kemudian dijual. Kalau sudah dihaluskan dan dikemas, harganya Rp 5.000.

Produk yang dikelola oleh koperasi bina usaha Tenaga Listrik dan Mekatronik (Telimek) LIPI Bandung ini mengandung nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, air, dan lain-lain. "Kalau ada yang mau beli kiloan dan masih kasar, harganya Rp 700 per kilogram. Tapi belinya minimal 1 ton," jelas Yaya.

ONE
Selengkapnya...

Ujang, Anak Kemarin Sore dan Pertanian Organik

Tuesday, July 28, 2009

Petani konvensional di tanah Sunda umumnya mengenal falsafah ”kadenge, kadeuleu, karampa, karasa” atau mendengar, melihat, meraba, dan merasakan. Bagi Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin, falsafah yang dianut oleh para petani tradisional tersebut menjadi hambatan serius ketika dia ingin mengajak mereka untuk bertani organik.

Para petani konvensional harus mendengar, melihat, dan meraba dulu baru mereka percaya terhadap teknologi baru dalam bertani. Susahnya minta ampun untuk meyakinkan petani konvensional bahwa bertani organik dengan cara budidaya baru itu merupakan cara terbaik guna meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Ujang, ayah dua anak ini.

Kegelisahan Ujang terhadap nasib petani di desanya, Jambenenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai muncul sekitar akhir tahun 2000. Ketika itu Ujang baru kembali dari Jepang, setelah bekerja di sebuah pabrik sejak tahun 1997.

Ketika di Jepang, setiap akhir pekan Ujang menyempatkan diri magang di sebuah sentra pertanian. Ini bisa dia lakukan dengan rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi. Di sini dia melihat pertanian yang sudah sistematis dikerjakan mesin. Petani di Jepang hanya menjadi operator sejak membajak sawah, menyemai, menanam, hingga memanen. ”Produktivitas lahan mereka tinggi, mencapai 11 ton per hektar waktu itu,” ceritanya.

Pulang ke Indonesia, Ujang membuang mimpinya untuk melihat petani di kampungnya mengoperasikan mesin di sawah. Namun, muncul keyakinannya bahwa petani bisa meningkatkan taraf hidup jika mereka mau. ”Dari teknologi, jelas kita ketinggalan (dari Jepang). Tapi, kalau petani mau mengubah pola bertaninya, saya yakin mereka bisa meningkatkan taraf hidup,” kata Ujang.

Petani miskin

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri Syamsul Ullum Sukabumi itu mendapati petani di sekitarnya sebagai petani miskin yang penghasilannya amat kecil. ”Di lahan seluas 1 hektar, petani penyewa hanya mendapat pemasukan sebesar Rp 2 juta selama satu musim, atau sekitar Rp 500.000 per bulan,” kata Ujang.

Penghasilan itu dihitung dari ongkos produksi, mulai dari pupuk dan pengolahan lahan sebesar Rp 2,2 juta per hektar serta sewa lahan Rp 7 juta per hektar per musim.

Hasil panen mereka hanya 5,6 ton per hektar dan dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dengan demikian, panen semusim hanya memberi hasil Rp 11,2 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi dan sewa lahan, petani hanya memperoleh Rp 2 juta per musim. ”Kami mengenal istilah, petani hanya timbul daki setelah bertani karena mereka memang tidak mendapat apa-apa,” kata Ujang.

Dengan falsafah yang dianut oleh para petani konvensional itu, dia harus memulai lebih dulu bagaimana bertani organik dan budidaya yang baik hingga bisa memberikan keuntungan.

Ketika memulai cara bertani organik, banyak petani konvensional yang mencemooh Ujang. Apalagi, dia masih termasuk ”anak kemarin sore” di kampung Kebonpedes. ”Banyak petani yang mengatakan bahwa mereka lebih dulu bertani daripada saya, jadi tentunya merasa lebih tahu. Saya diam saja, tetapi tetap yakin ketika melihat hasilnya, mereka akan percaya,” katanya.

Ujang kemudian memulainya dengan mengganti pupuk pabrik dengan pupuk kompos dari tumbuh-tumbuhan hijau dan granole (pupuk dari kotoran hewan yang dicampur dengan dekomposer). Ujang memerlukan waktu tiga musim untuk mengakhiri penggunaan pupuk pabrik karena kondisi tanah belum terbiasa.

Dia memproduksi sendiri granole dengan maksud agar tak bergantung pada pihak mana pun. Dia mendapatkan kotoran hewan dari warga yang beternak sapi dan para tetangga yang memiliki kambing dan ayam.

Apabila menggunakan kompos, sawah seluas 1 hektar memerlukan sekitar 5-7 ton. Adapun dengan granole, sawah luas yang sama hanya memerlukan 500 kilogram sampai 1 ton. Kebutuhan ini tergantung dari kondisi keasaman tanah.

Beralih ke organik

Selain beralih ke pertanian organik, Ujang juga memulai budidaya bertani yang baru, yakni dengan mengurangi penggunaan benih padi.

”Petani konvensional biasanya menggunakan hingga delapan bibit dalam satu lubang. Ketika tumbuh, maksimal hanya 18 anakan yang jadi karena bibit sulit tumbuh,” katanya.

Adapun cara yang dilakukan Ujang adalah dengan menggunakan satu-dua bibit saja per lubang. Ternyata setelah tumbuh, tanaman itu bisa menghasilkan 25 anakan per lubang.

Dengan cara itu, dia hanya memerlukan paling banyak 8 kilogram benih per hektar. Bandingkan dengan petani konvensional yang memerlukan benih sampai 35 kilogram per hektar.

Masih belum puas, Ujang berusaha menambah pengetahuan bertaninya dengan mengikuti Sekolah Lapangan Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) di Kebonpedes. Terbukti, Ujang bisa mendongkrak produktivitas tanaman padinya menjadi 8 ton lebih per hektar.

Adapun ongkos produksi yang diperlukan Ujang untuk mengolah 1 hektar lahan hanya Rp 2,1 juta. Ditambah sewa lahan Rp 7 juta, dia hanya menghabiskan biaya sebanyak Rp 9,1 juta. Namun, hasil panen dan harganya bisa naik signifikan.

Dengan hasil panen padi organik pada musim terakhir sebanyak 8,82 ton per hektar dan harga gabah basah Rp 2.400 per kilogram, Ujang memperoleh penghasilan Rp 21,168 juta. Jumlah itu, setelah dikurangi modal kerja, masih bersisa Rp 12,068 juta dalam semusim, atau Rp 3 juta per bulan.

Melihat keberhasilan Ujang, puluhan petani konvensional dan pemuda pengangguran di Kebonpedes mulai tertarik menekuni pertanian organik. Dalam satu musim terakhir, delapan kelompok tani setempat meminta Ujang mendampingi mereka mempraktikkan cara bertani organik. Setiap kelompok tani itu mempunyai anggota 20-25 petani.

Seiring dengan makin banyaknya petani konvensional yang menerapkan pertanian organik dan cara budidaya baru itu, Ujang yakin petani di Kebonpedes akan mandiri. ”Apa lagi yang mau dibantah? Pupuk sudah bisa kami produksi sendiri dan harga gabah padi organik juga jauh di atas harga padi nonorganik. Kalau ada kemauan, sebenarnya tidak sulit menjadi petani mandiri,” kata Ujang.
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...

Agoes, dari Iseng Jadi Pengusaha Jamur

Friday, July 10, 2009

Agoes Poernomo, pendiri usaha jamur UD Payung Manfaat, tak pernah membayangkan bahwa ia bakal menjadi pengusaha jamur seperti sekarang. Semula, pria kelahiran Blitar ini hanya iseng mencoba membuat bibit jamur merang di sekeliling rumahnya. Apalagi, keluarganya penyuka masakan jamur. Ternyata, selain hasilnya bagus, jamurnya juga disukai tetangganya. Agoes pun mulai memperbanyak bibit jamur yang disemainya.

Namun, aktivitas yang dilakoninya sejak tahun 1976 itu hanya bertahan setahun. Sebab, informasi tentang jamur masih sangat terbatas. Ketika itu, bapak dua anak yang masih berstatus pegawai di Departemen Kesehatan di Blitar itu akhirnya kembali menekuni bisnis sampingannya yang lain, yaitu usaha bengkel motor, pembuatan mebel kayu, dan kerajinan batu.

Meski tidak lagi membuat bibit jamur, Agoes terus mengikuti perkembangan bisnis jamur di Blitar. Uniknya, setelah tak menyentuh bisnis jamur beberapa tahun, ternyata nasib membawanya kembali ke budidaya jamur.

Lantaran melihat besarnya peluang bisnis jamur di Blitar dan jumlah pemainnya yang masih sedikit, Agoes memutuskan untuk kembali menekuni budidaya jamur pada 1996. Tapi, ia fokus menggarap bisnis jamur kayu. “Pertimbangannya secara ekonomi, produksinya lebih gampang,” papar Agoes.

Kali ini, Agoes serius menekuni bisnis ini. Pria berumur 59 tahun ini membangun satu rumah kecil di Desa Sumberdiren sebagai pusat usahanya. Ia memajang nama Toko Jamur. Untuk semua ini, dia mengeluarkan modal sekitar Rp 6 juta.

Karena ingin lebih fokus di bisnis jamur, Agoes mengajukan pensiun dini di tempatnya bekerja pada tahun 2000. Selanjutnya, bersama putra pertamanya, Agoes makin serius menekuni bisnis jamur. Ia mengubah nama usahanya menjadi UD Payung Manfaat.

Bisnis Agoes mengalami masa keemasan dari tahun 1998 hingga 2000. Kala itu, dia bisa memproduksi jamur kering maupun jamur segar hingga 6 kuintal setiap bulan.

Agoes pun rajin memberikan penyuluhan tentang budidaya jamur kepada para petani. Bahkan, saat ini, di Blitar saja ia punya sekitar 300 petani plasma binaan. Omzet di tahun pertamanya yang hanya Rp 10 juta per bulan kini berkembang hingga lima kali lipat.

UD Payung Manfaat sudah bisa memproduksi bibit sendiri dan mengolah jamur menjadi berbagai jenis makanan. Dengan dua pabrik serta rumah jamur yang dimilikinya, aset usaha Agoes kini mencapai Rp 700 juta.

Belajar secara otodidak

Menariknya, Agoes mempelajari semuanya dengan otodidak. Ia tak segan melancong ke luar daerah untuk belajar lebih dalam tentang jamur dari petani jamur lain.

Namun, meski tidak mempunyai pengetahuan cukup, Agoes memiliki semangat tinggi untuk belajar. Pada masa awal usahanya, di 1996, anak keenam dari 11 bersaudara ini belajar budidaya jamur lewat berbagai literatur, termasuk buku panduan terbitan dinas pertanian dan kehutanan. “Dua tahun pertama memang berat, cari informasi ke mana-mana, juga cari bibit sampai ke luar daerah,” kenang pria 59 tahun ini.

Setelah merasa memiliki pengetahuan lumayan memadai, ia mulai menjalin kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Airlangga Surabaya. Dengan kedua kampus itu, ia menggelar penelitian dan pengembangan budidaya jamur. Dari sini, ia belajar soal pemilihan media tanam.

Bersama putra pertamanya, Agung Hidayanto, Agoes juga beberapa kali melakukan studi banding ke petani jamur di wilayah Lembang, Bogor dan Yogyakarta. Tujuannya untuk mendalami budidaya jamur secara langsung.

Berbekal ilmu dari petani, dia belajar memodifikasi cara pembudidayaan mereka. Ternyata langkah-langkah itu membuahkan hasil. Bahkan, ia sukses membudidayakan jamur di wilayah Blitar, daerah dataran rendah yang sebenarnya kurang cocok untuk bertanam jamur.

Produktivitas dan kualitas tanaman jamurnya tak kalah dengan yang dihasilkan petani di dataran tinggi. Maka, dari sekedar budidaya, pada awal 1998, ia membuka toko untuk berjualan jamur.

Lini usaha Agoes kian bertambah. Kalau awalnya ia hanya memproduksi jamur kayu segar dan kering, sejak punya toko, dia mulai menjual bibit jamur dan media tanamnya. Pada tahun-tahun tersebut, dalam sebulan ia bisa menghasilkan 6 kuintal jamur segar, 4 kuintal jamur kering dan sekitar 3.000 media tanam yang sudah berbibit.

Pada 2000, Agoes melangkah lebih jauh lagi. Ia tak hanya mengolah jamur menjadi makanan seperti kripik jamur, kopi jamur, hingga kapsul jamur. Ia juga mengganti mereknya, dari semula Toko Jamur, menjadi merek Payung Manfaat. Ia memilih nama itu agar sesuai dengan visi usahanya yang ingin memberi perlindungan (payung) kepada masyarakat.

Di tahun yang sama, dia juga mendapatkan sertifikat dari Dinas Kesehatan untuk semua proses dan hasil produknya. Melihat berbagai kemajuan itu, Agoes makin jatuh hati pada jamur. Agar bisa lebih fokus mengembangkan Payung Manfaat, pria lulusan SMA ini pun mengajukan pensiun dini pada tahun 2000, enam tahun lebih cepat dari jadwal pensiunnya.

Sejak pensiun dini, Agoes kian optimistis terus mengembangkan usahanya. Dalam jangka pendek ini, dia ingin meningkatkan kapasitas produksinya. Selain itu, lelaki tamatan SMA ini terus melakukan inovasi, baik terkait bahan baku, proses pengolahan, hasil produksi, maupun pemasarannya.

Semua itu adalah bagian dari upayanya memujudkan impian besarnya. “Ekspansi ke seluruh Nusantara dengan pengembangan plasma adalah impian terbesar saya,” ujar kakek satu cucu ini.

Agoes yakin, pengembangan plasma di seluruh daerah Indonesia tidak terlalu susah. Sebab, sejak awal dia sudah melakukan pelatihan gratis kepada para petani jamur. Bukan hanya untuk petani di Blitar, Agoes juga memberikan pelatihan kepada para petani dari berbagai daerah lain. “Ini menjadi kebahagiaan tersendiri. Banyak orang bisa belajar dari pengalaman saya,” tuturnya.

Kerelaan Agoes berbagi ilmu inilah yang membuatnya sukses mengembangkan jaringan plasma selama ini. Saat ini dia sudah punya 300 petani plasma di Blitar. Dalam skema plasma ini, Agoes menyediakan bibit jamur dan menampung hasil panen. Jadi petani tinggal memelihara tanamannya saja.

Ke depan, Agoes berharap bisa merangkul ribuan orang yang pernah mendapat pelatihan darinya, khususnya yang berasal dari luar Jawa. Agoes akan memberi bimbingan dan konsultasi bagi mereka yang mau menjadi petani plasma. Da akan memanfaatkan teknologi agar konsultasi bisa kontinyu.

Seiring usianya yang kian bertambah, Agoes mundur perlahan dari kepadatan aktivitas bisnisnya. Sejak tahun 2000, meski masih memegang kendali bisnis, dia tak lagi turun tangan langsung memberi pelatihan.

Lalu sejak 2006, dia mendelegasikan kendali bisnis kepada putra sulungnya, Agung Hidayanto. Impian besarnya pun dia titipkan ke pundak Agung yang sejak awal ikut membesarkan Payung Manfaat. “Sekarang saya hanya turun tangan untuk pembibitan saja,” tuturnya.

Sebagai pegangan bagi penerus bisnisnya, Agoes mewariskan prinsip utama yang selalu dipegangnya selama ini. “Kunci sukses berbisnis adalah ketekunan, serta tidak pelit berbagi ilmu, karena itu sebuah bentuk ibadah,” ujar Agoes.

Dia juga berharap putranya bisa mengembangkan bisnis jamurnya dengan menerapkan teknologi tepat guna. “Dan jangan lupa menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik,” ujar Agoes membagikan nasehatnya kepada putra tertuanya itu.
Selengkapnya...

Wow, Bibit Kelengkeng Bisa Hasilkan Puluhan Juta Sebulan

Monday, February 23, 2009

Kelengkeng Pingpong berasal dari dataran Sungai Mekong, Vietnam. Kelengkeng jenis ini memang belum sepopuler kelengkeng lokal. Namun, mulai banyak yang membudidayakannya. Maklum, keuntungannya lumayan.

Kelengkeng pingpong memang agak beda dari kelengkeng biasa. Besar buahnya empat kali lipat kelengkeng lokal. Bijinya juga tentu lebih besar, tapi dagmg buahnya tebal dan beraroma wangi. Buah ini juga masih jarang mejeng di pasar kita. Sebab, memang belum banyak petani kita yang membudidayakan Kelengkeng Pingpong ini.

Kelengkeng Pingpong merupakan tanaman tropic yang tumbuh subur di tanah berketinggian 500 meter di atas permukaan laut (dpl).

Umumnya, di Indonesia, Kelengkeng Pingpong menjadi buruan para hobiis. Salah seorang pembudidaya Kelengkeng Pingpong adalah Isto Suwarno. Awalnya, pada 1998, Isto mendapat sejumlah biji Kelengkeng Pingpong dari adiknya. la lantas menyebar biji-biji itu. Ternyata, tak susah membudidayakan kelengkeng jenis ini. Dari sini, budidaya kelengkeng milik Isto berkembang.

Isto lantas mencoba menawarkannya ke sejumlah kolega dan para pehobi tanaman. Tak dinyana, sambutannya antusias. Pada 2005, ia resmi menjual bibit kelengkeng di bawah bendera Telaga Nursery Prambanan. Isto mengaku,langsung kebanjiran order. Padahal, ia hanya menjadikan buah kelengkeng sebagai sampel bagi yang ingin membeli bibit.

Setiap bulan, Isto bisa menjual 7.500 bibit kelengkeng, baik dari biji ataupun okulasi. la menjual bibit biji ukuran 15 centimeter (cm) sampai 20 cm dengan harga Rp 20.000 per batang. Adapun bibit okulasi ukuran 60 cm dia lepas dengan harga Rp 40.000. "Saya juga melayani pembelian tanaman dalam pot mulai harga Rp 1,5 juta per pot sampai Rp 2,5 juta," ujarnya.

Dalam sebulan, Isto bisa meraup penghasilan Rp 30 juta. Bisa lebih, jika ada pesanan bibit jumlah besar.

Permintaan bibit kelengkeng cukup tinggi lantaran tanaman ini mudah dibudidayakan, baik di lahan sempit atau di pot sekalipun, asal terkena sinar matahari. "Perawatannya mudah dan hamanya sedikit," kata Isto. Tanaman ini bisa dibudidayakan dari biji, bibit, dan bibit okulasi.
Untuk menanam kelengkeng Pingpong, pertama-tama masukkan bibit ke pot atau lubang di tanah. Ukurannya harus sesuai besaran tanaman. Sebagai media tanam, campurkan tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1:1. Dalam setahun, sebaiknya beri tiga kali pupuk. Saat kemarau, setidaknya disiram air dua hari sekali. Dalam 1,5 tahun, pohon ini sudah berbuah. (Kontan/Aprillia Ika)
Selengkapnya...