Membawa oleh-oleh bagi sebagian besar orang Indonesia seperti menjadi kewajiban saat baru pulang bepergian dari luar kota maupun luar negeri. Setiap wilayah, konsep oleh-oleh berbeda-beda dengan karakteristik yang khas, misalnya berupa makanan maupun minuman.
Menurut Syamsul Huda, pengusaha oleh-oleh makanan olahan apel asal Malang, berbisnis oleh-oleh sangat menjanjikan asalkan mengerti strateginya. Syamsul mengganggap, segmen pasar oleh-oleh harus dibedakan dengan segmen produk secara umum.
"Kalau produk oleh-oleh kualitasnya harus tinggi, maka harga jualnya juga tinggi, desain harus menarik. Tapi kalau produk lain harganya murah dengan kualitas di bawah (standar)," kata Syamsul kepada detikFinance beberapa hari lalu di Malang.
Menurutnya, kelebihan dari bisnis oleh-oleh, produknya pasti dicari banyak orang sehingga pemasarannya relatif mudah. Meskipun biasanya segmen pasar ini hanya terbatas pada wilayah tertentu saja.
"Kami mengincar pasar oleh-oleh, pasar oleh-oleh bagaimana mengangkat Kota Batu Malang sebagai kota wisata," katanya.
Dari sisi variasi produk, segmen pasar oleh-oleh memang mau tidak mau harus memiliki keterbatasan jenis. Produk yang dijual haruslah khas wilayah setempat, karena jika tidak, konsumen akan bingung menentukan produk apa yang pas untuk oleh-oleh.
Namun kondisi semacam seperti ini bukan berarti harus membatasi kreasi seorang pebisnis. Berdasarkan pengalaman Syamsul, untuk mengembangkan usaha, seorang pengusaha produk oleh-oleh harus juga memiliki produk non oleh-oleh untuk segmen pasar umum, dengan konsekuensinya harus bermain di harga yang lebih miring.
"Di samping ada kripik apel, kita juga ada pia apel khusus untuk semua segmen pasar. Ke depannya selain pia, kita juga mau mengembangkan biskuit apel, permen apel dan lain-lain," katanya.
Menurutnya saat ini oleh-oleh khas Batu Malang masih berkutat pada produk makanan olahan seperti kripik apel dan sari buah apel. Dengan masuk segmen produk di luar oleh-oleh, Syamsul mengaku harus menyiapkan perangkat modal yang lebih besar dan perizinan yang lebih kompleks.
"Sementara ini produk-produk saya masih di Jawa Timur, belum berani ke luar karena belum ada modal," katanya.
Keberhasilan Syamsul menggeluti produk makanan olahan apel bukan lah isapan jempol belaka. Bisnis produk olahannya terus berkembang, selain kripik apel, sari apel, jenang (dodol) apel, ia juga membuat kripik nangka, kripik nanas, kripik salak, kripik mangga, kripik rambutan, dodol nanas, dodol sirsak, dodol nangka, dodol strawberry dan lain-lain.
"Kebetulan setiap tahun naik, 5% sampai 15%. Dengan omset per bulan Rp 110 juta," katanya.
Syamsul yang memulai bisnis makanan olahan apel sejak 2001 ini, tertarik dengan bisnis oleh-oleh karena dihadapkan oleh kondisi suramnya sektor pertanian apel Batu Malang sepuluh tahun lalu.
"Yang menjadi latar belakang kondisi budidaya apel tahun 2001, terjadi penurunan, sudah jenuh tanah. Produktivitas turun dan kualitas juga. Ini merugikan petani. Perlu ada sentuhan teknologi pengolahan pangan," ucap pria lulusan Unisma Fakultas Pertanian ini.
Ia mengaku, produk olahan apel pertamanya adalah jenang atau dodol apel, pada waktu itu ia hanya bermodal Rp 4 juta. Selama dua tahun pertama bisnis jenang apelnya masih kembang kempis alias baru sampai tahap balik modal.
"Tahun berikutnya saya buat ekspansi pasar dan modal dengan minjam uang dari bank. Saya memulai beranikan diri pinjam dana Bank Mandiri dan Bank Jatim. Ternyata sebuah keberhasilan harus berani dulu dan mengambil risiko," kenang Syamsul.
Setelah dapat suntikan dana segar dari bank, bisnis Syamsul kian melaju pesat sejalan berkembangnya aneka produk yang ia buat. Mulai dari situ ia banyak mengembangkan berbagai aneka produk kripik termasuk kripik dan jus apel.
"Sekarang total variasi produk sudah ada 15 macam. Cara menembus pasar, saya melakukan kegiatan promosi di daerah Malang Raya. Saya ikut promosi kegiatan pameran di dinas," katanya.
Syamsul kini sudah memiliki 72 karyawan padahal awalnya hanya 2 orang karyawan. Produk-produk yang ia jual relatif terjangkau untuk segmen oleh-oleh yaitu dimulai dari Rp 2.000 sampai Rp 22.000 per bungkus.
Keberhasilan Syamsul bukan hanya dinikmati oleh dirinya dan karyawannya, namun para petani yang menyuplai bahan baku apel pun ikut kecipratan moncernya bisnis olahan apelnya. Misalnya dalam hal harga jual apel, Syamsul memberikan harga relatif lebih bagus dari pada harga pembelian dari tengkulak yaitu berkisar Rp 5000-7000 per Kg.
"Kita ada mitra kerja binaan kelompok tani apel yang menjadi mita kerja. Kalau dibeli tengkulak harganya murah. Ada tergabung 41 petani, kita juga ada paket wisata selain melihat produksi olahan apel, pengunjung juga bisa melihat perkebunan apel," jelasnya.
Selama ini Syamsul mampu menghabiskan 500 kg apel untuk dijadikan kripik dan sari buah. Menurutnya suplai apel tak menjadi masalah meski produksi turun hingga 25%.
"Justru yang jadi masalah adalah suplai nangka, salak, rambutan karena bukan musim, padahal permintaaan banyak," kata pria yang mengaku mengolah apel secara otodidak ini.
Menurutnya permintaan produk olahan apel dan buah lainnya terus naik, bahkan pada musim liburan bisa naik hingga 30%. Dengan margin hingga sampai 20-30%, Syamsul mengaku begitu menikmati masa keemasan bisnisnya saat ini.
Syamsul Huda
CV. Bagus Arista Mandiri
Jl. Kopral Kasdi 2 Bumiaji Kota Batu, Malang.
Email: huda_bagus@yahoo.co.id
Selengkapnya...
Sukses Berbisnis Oleh-oleh Beromzet Miliaran
Friday, May 20, 2011Posted by Admin at 10:39 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Jenuh Diperintah Orang, Raup Ratusan Juta di Rumah
Friday, May 13, 2011Bisnis catering masih menjanjikan. Pasar yang luas, plus keuntungan yang menggoda. Meski demikian, bukan berarti bisa digarap asal-asalan. Cita rasa dan harga tetap menjadi modal utama agar bisnis ini bertahan.
Semua bermula dari kejenuhannya bekerja di bawah perintah orang lain. Edy mengaku lebih dari 18 tahun menggeluti dunia kuliner dan merasa jenuh keliling dari satu kapal pesiar ke kapal pesiar lain, dari satu hotel ke hotel lain.
"Setelah punya jaringan, tahun 1997 saya beranikan diri membuka usaha pribadi dengan ikut tender Rumah Sakit Pelabuhan Surabaya atau Port Health Center. Saya menang tender, dari situlah semua berawal," kenang Edy saat ditemui di kediamannya di kawasan Wonosari Kidul, Surabaya.
Sampai saat ini order terus mengalir, tidak hanya dari instansi, tetapi juga dari paket pernikahan. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet rata-rata tak kurang dari Rp 200 juta. Harga untuk catering reguler mulai Rp 7.000 hingga Rp 15.000. Sedangkan paket wedding ditawarkan mulai Rp 25.000 per orang.
"Paling besar kontribusinya dari wedding service. Kalau yang reguler, saya melayani acara-acara instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta buka kantin di Unesa (Universitas Negeri Surabaya)," ujar alumnus Akademi Perhotelan Satya Widya Surabaya, Jurusan Tata Boga, ini.
Edy menjalankan usaha catering ini dibantu 18 karyawannya. Menu yang ia racik mulai masakan Indonesia, Chinese food, Thailand food, hingga European food. "Saya menerima segala menu masakan. Soal pemasaran dan sumber permodalan, saya serahkan ke istri. Istri dulu kerja di tenaga pemasaran Bank Danamon, jadi saya punya akses untuk permodalan sampai sekarang," jelas pria kelahiran 13 Maret 1973 ini.
Suami Swary (40) ini melihat potensi bisnis catering yang masih terbuka lebar dengan perkembangan bisnis yang relatif mudah. Orang selalu butuh makan di setiap kesempatan. Tinggal bagaimana mengemas makanan itu dan membidik segmen yang pas, maka keuntungan akan terus mengalir.
"Tingginya permintaan catering untuk wedding membuat saya tertarik mengembangkan bisnis ke arah one stop wedding service. Jadi tidak hanya melayani catering, tapi juga meng-organize, mulai dekorasi, penyediaan electone dan penyanyinya," lanjut bapak satu putra ini.
Modal awal yang ia butuhkan pada 1997 cukup besar, sekitar Rp 200 juta. Sebagian hasil tabungan dan sisanya pinjam ke bank. Selain Bank Danamon, ia juga mengajukan pinjaman ke Bank Mandiri. "Kalau catering ditangani setengah-setengah, hasilnya tidak maksimal. Saya memang mau total menanganinya," imbuh Edy.
Setiap hari, ia melayani catering buat 450 karyawan di sebuah perusahaan swasta dan kantin di Universitas Negeri Surabaya. Untuk order wedding rata-rata 2-4 klien ditanganinya setiap minggu.
"Bahan baku semuanya lokal. Kalau harga bahan baku sedang mahal, harus pandai-pandai menyiasati. Seperti cabe rawit yang kemarin sampai Rp 100.000 per kg, kami siasati pakai cabe kering dan cabe merah besar," katanya.
Untuk urusan karyawan, Edy mengaku tak terlalu sulit mencari karyawan. "Karyawan sudah saya anggap keluarga. Makan dan tidur juga di rumah, karena bekerjanya kan mulai dini hari. Mereka juga tahu dapuran resep masakan saya gimana. Alhamdulillah mereka loyal. Persaingan karyawan catering saat ini juga ketat, jadi kita harus bisa beri perlakuan lebih agar mereka juga memberikan yang terbaik," ucapnya. (DWI PRAMESTI YS)
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:32 AM 1 comments
Labels: Makanan-Minuman
Laba dari Semangkuk Bakso Berbentuk Hati
Wednesday, May 4, 2011
Siapa yang tidak kenal bakso? Makanan yang terbuat dari campuran daging giling dan tepung tapioka ini memang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hampir di setiap tempat dapat kita jumpai jenis panganan yang satu ini, mulai dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran.
Karena peluang pasar yang besar tersebut, banyak orang yang kemudian mewaralabakan usaha baksonya. Salah satunya Ihsan Jamaludin, yang membuka usaha bakso dengan nama Bakso Cinta Kartasura pada awal 2010.
Ihsan mengatakan, nama ini terinspirasi dari sebuah judul film lokal. Setelah membuka usaha selama setahun, banyak pihak tertarik menjadi mitra usaha baksonya.
Kini, sudah ada tiga terwaralaba yang bergabung dengan Bakso Cinta Kartasura di Solo. "Masih ada satu calon terwaralaba di Bangka Belitung. Namun, karena kesulitan bahan baku dan mahalnya biaya kirim, rencana itu ditunda dulu," tutur Ihsan.
Keunggulan utama dari bakso ini terletak pada tampilan dan rasanya. Sesuai dengan namanya, Bakso Cinta Kartasura berbentuk hati. Ihsan menjelaskan, bakso buatannya juga memiliki rasa yang khas dengan kaldu sapi asli.
Ihsan menyediakan tiga menu di gerai Bakso Cinta Kartasura. Ketiga menu itu adalah bakso cinta anak, bakso cinta remaja, dan bakso cinta keluarga. Bedanya ada di porsi dan harganya. Harga bakso cinta anak Rp 3.000 per porsi, bakso cinta remaja Rp 5.000 semangkuk, dan bakso cinta keluarga Rp 6.500 per porsi.
Selain itu, banyak juga menu tambahan sebagai pelengkap. Misalnya, tahu bakso cinta, tempe goreng, dan telur puyuh. Ihsan menyebut menu tambahan ini lophe-lophe.
Ihsan hanya menawarkan satu paket waralaba dengan nilai investasi sebesar Rp 30 juta. Rinciannya, biaya waralaba Rp 15 juta, lalu bermacam perlengkapan usaha, seperti rombong makanan dan minuman, dandang bakso dan mi, kompor, blender, desain interior, serta berbagai bentuk promosi, dengan total nilai sebesar Rp 15 juta.
Tak lupa, Ihsan akan memberikan pelatihan cara meracik bumbu serta bahan baku sesuai dengan standard operating procedure (SOP) pada awal bergabungnya mitra. Ia tidak mengharuskan mitra membeli bahan baku dan bumbu dari pusat. Ihsan pun tidak mengutip biaya royalti setiap bulan.
Lahan yang ideal digunakan sebagai tempat usaha, Ihsan menyatakan, paling tidak seluas 6 x 6 meter. Setidaknya gerai tersebut bisa menampung pengunjung 30 orang. Namun, "Kenyamanan pengunjung juga harus diperhatikan," imbuhnya.
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, kata Ihsan, mitra bisa meraih omzet penjualan sekitar Rp 800.000 per hari pada hari biasa. Tetapi, omzet akan naik dua kali lipat pada akhir pekan. Dengan hitungan penjualan sebesar itu, ia memperkirakan mitra bisa balik modal dalam lima bulan.
Ali Syahroni, salah satu mitra Bakso Cinta Kartasura di Solo yang baru bergabung satu bulan terakhir, mengungkapkan, alasannya bergabung lantaran makanan ini merupakan favorit di Solo. Selain itu, bentuk yang unik dan rasanya yang lezat menjadi pertimbangan utamanya.
Sebagai pemain baru, Ali yang membuka gerai bakso di sebuah perumahan bisa meraih omzet yang lumayan saban harinya. "Ya, walaupun masih belum maksimal, omzet dalam sehari yang bisa saya raih sekitar Rp 500.000," kata Ali.
Menurut konsultan bisnis Peni R. Pramono, inovasi yang dilakukan Bakso Cinta Kartasura perlu mendapat apresiasi. Dengan menyasar segmen anak dan remaja, terobosan mereka telah sesuai.
Namun, Peni mengingatkan, bagaimanapun bentuknya, bisnis makanan tetap harus mengutamakan keunggulan rasa. "Kalau untuk pangsa pasar keluarga, masalah bentuk tidak menjadi alasan utama, tetapi rasa yang paling ditekankan," tutur Peni.
Untuk memperkuat makna cinta di dalam penggunaan nama bakso, Peni menambahkan, sebaiknya ada filosofi atas pemakaian nama itu sehingga masyarakat paham makna pemberian nama tersebut. Jadi, "Tidak menjadi asal nama saja," ungkapnya. (Handoyo/Kontan)
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:28 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Mencicip Laba Kuliner Bermodal Uang Jajan
Monday, March 14, 2011Jangan pernah meremehkan uang jajan, sekecil apa pun nilainya. Uang saku semacam ini bisa berlipat ganda jika dikelola dengan benar.
Begitulah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Ary Gunawan. Dengan memanfaatkan kemajuan digital, pria kelahira Gresik, Jawa Timur, itu menjalankan bisnis kuliner dengan menu ayam bakar secara cermat.
"Saya memilih ayam bakar karena tidak rumit, baik dalam persiapan, memasak, maupun menyimpannya," kata Ary membuka percakapannya dengan Kompas.com, Sabtu (12/3/2011). Alasan lain, makanan dengan bahan dasar ayam disukai banyak orang, bahannya pun murah dan gampang dicari.
Usaha ayam bakar milik Ary ini diberinya nama Ayam Bakar Ciamik (ABC). Ia merintis usaha tersebut dari nol bersama istrinya, Ami. Sejak awal, ia sudah membuat konsep berdagang secara murah: tanpa warung, tanpa pegawai, dan dengan modal tetap sekecil mungkin.
"Saya sengaja tak memakai warung karena terkendala peraturan lingkungan yang tak membolehkan warganya membuka warung atau kios di rumah. Untuk sewa kios di luar kluster, modalnya minimal Rp 4 juta-Rp 5 juta per tahun," jelas Ary, yang sebelumnya pernah bekerja sebagai analis pemasaran di sebuah Badan Usaha Milik Negara.
Ary tak menyerah oleh keadaan. Kendala itu disiasatinya dengan cara melayani pelanggan dengan pesanan via telepon, SMS, dan jejaring sosial Facebook. Pada Mei 2010, ia mulai menerima pesanan dari tetangga-tetangganya di kompleks Serpong Garden, Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Pada bulan pertama, ia menggunakan ayam broiler sebagai bahan dasar, sebelum digantinya dengan ayam pejantan yang memiliki tekstur lebih baik dan sedikit kolesterol.
Modal uang jajan
Soal modal, Ary menyebut besarannya setara dengan "uang jajan", lebih kurang Rp 200.000. "Ini kan sama dengan menyisihkan uang untuk beli pulsa atau beli baju. Waktu itu saya cuma memakai satu wajan (teflon) untuk memanggang ayam, ayamnya pun hanya 3-5 ekor," katanya.
Modal lainnya adalah ketekunan. Ary mencari buku untuk resep ayam bakar madu dan ayam goreng. Istrinya kemudian mencoba-coba sendiri resep yang cocok di lidah pelanggan. Karena pelanggan puas, mulai Oktober 2010 Ary memberanikan diri untuk memperluas "daya jelajah" ABC hingga ke Bumi Serpong Damai, yang berjarak dua hingga lima kilometer dari rumahnya. Pengantaran pesanan dilakukan dua kali sehari, yakni pukul 10.30 dan 15.30.
Pengembangan usahanya ini berhasil. Pesanan mulai bertambah, kini Ary menghabiskan 8-10 ekor ayam setiap hari. Demi efisiensi waktu dan biaya, pengantaran makanan mulai ia limpahkan kepada tukang ojek di sekitar rumahnya. "Saya menghindari fixed cost dengan tidak merekrut pegawai dan membeli mobil," katanya.
Ary pun mengatur siasat agar pesanan dapat diantar sebanyak mungkin dengan hanya sekali jalan. Ia mulai memasuki komunitas-komunitas warga di Serpong agar pengantaran makanan bisa dilakukan serentak di satu kawasan.
"Saya memanfaatkan BlackBerry Messenger (BBM). Jadi kalau ada pelanggan pesan, saya kirim BBM ke pelanggan lain di sekitarnya, siapa tahu ikut pesan juga," jelas Ary.
"Kuliner ini sasarannya komunitas, jadi ada repeat order. Kenapa kuliner? Karena bisnis ini murah dan gampang mencari bahannya, cash flow-nya cepat, margin keuntungannya optimum," tambahnya.
Selama kurang lebih sembilan bulan, ABC melayani pesanan dari pelanggan di BSD City hingga Alam Sutera, Serpong. Pemesannya tak hanya para pegawai kantoran yang kesulitan mencari makan siang di kawasan tersebut, tapi juga rumah tangga. Ary juga menerima pesanan khusus untuk acara keluarga, seminar, ataupun acara-acara lain.
Pasar pun mulai bergerak lebih luas. Mulai Maret 2011, Ary mulai menyanggupi pesanan di area Gading Serpong maupun pesanan khusus dari Jakarta. Untuk melengkapi usahanya, ia dan rekannya bekerja sama membuka kedai kecil di pekarangan sebuah rumah di dekat Granada Square BSD City, Serpong, Tangerang Selatan. Dengan adanya kedai offline, pelanggan dapat membeli dengan cara take away atau tetap melalui delivery service dengan pengantaran lebih cepat.
Ary mengungkapkan, usahanya kini dapat mendulang omzet Rp 12 juta per bulan dan masih punya potensi lebih besar. Itu belum termasuk pesanan-pesanan khusus untuk acara-acara tertentu. Margin keuntungan yang diraihnya bisa mencapai 40 persen.
Dalam waktu dekat, Ary mulai menjajaki peluang bisnis lunch box untuk pesanan-pesanan jarak jauh. Pria bersahaja yang selalu mengaku "masih belajar berwirausaha" ini juga tetap membuka kelas entrepreneur in action untuk berbagi pengalaman kepada siapa pun yang ingin terjun dalam dunia bisnis. Asalkan ada niat dan tak takut rugi, niscaya siapa pun dapat memiliki usaha mandiri.
Selengkapnya...Posted by Admin at 9:52 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Gurihnya Bisnis Keripik Tahu Magelang
Karyadi adalah sosok sederhana. Ia berkacamata minus. Ia lebih sering bercelana pendek, bahkan ketika ada tamu ke rumah kontrakan yang dijadikan gudang untuk produknya.
"Tamu mau pesan keripik tahu," begitu ujar pria bernama lengkap Karyadi (38), warga Kampung Trunan, Kota Magelang, Jawa Tengah, ini.
Menerima tamu yang memesan produknya sekarang menjadi kesibukan sehari-hari bapak dua anak ini. Setiap hari selalu ada konsumen yang memesan. Kini, hampir di seluruh tempat yang menjual oleh-oleh di Pulau Jawa ada keripik tahu buatannya.
Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan ketika awal dia merintis usaha ini. Keripik yang diberi nama dari gabungan nama dirinya dan istrinya, Yuli Siswanti-Karyadi (Yuka) ini mulai dirintisnya sejak Oktober 2004.
Karyadi dan keluarganya tinggal di Kampung Trunan, asal istrinya. Kampung ini terkenal dengan sentra produksi tahunya. Namun, karena pengolahan dan pemasarannya masih dilakukan tradisional, tahu produksi kampung tersebut tidak begitu dikenal di luar daerah.
Tahu buatan mereka hanya dijual di Pasar Gotong Royong, beberapa meter dari kampung tersebut. Daya tahan tahu ini menjadikan salah satu alasan mereka tidak memasarkan produk mereka ke luar daerah.
"Tahu biasanya hanya bertahan selama dua hari, jarak menjadi salah satu pertimbangan untuk pemasarannya," ujarnya.
Setelah memperlajari seluk-beluk tahu, ia mencoba bereksperimen. Ketika itu, ia habiskan gaji dari sebuah persewaan komputer untuk melakukan uji coba. Selama delapan bulan ia survei di pasar tradisional.
"Saya keluar masuk pasar, melakukan survei sendiri," kata Karyadi. Baru pada bulan ke-13, ia menemukan formula yang cocok. Tahu dibentuk bulat, digoreng, kemudian dipotong dan digoreng lagi dengan bumbu hingga menjadi keripik.
Inovasinya ini tidak langsung disambut baik di pasaran. Bahkan tidak jarang yang ia dicemooh pemilik toko yang akan dititipi. "Ada yang bilang anjingnya pun tidak doyan makan makanan seperti ini," kata Karyadi mengingat saat-saat sulit memperkenalkan keripik tahunya.
Istri dan keluarganya pun hampir putus asa mendampingi usahanya tersebut karena tidak kunjung laku dan tidak untung dijual.
"Saya tetap tidak putus asa. Saya terus melakukan eksperimen sampai benar-benar memperoleh keripik tahu yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat," katanya. Pada saat bersamaan, dia terjerat utang ke rentenir. Awalnya, ia pinjam uang Rp 4 juta dari rentenir.
"Itu saat-saat sulit. Saya tidak pernah bisa mengambalikan utang karena bunganya sangat tinggi, 10 persen per bulan. Saya benar-benar kapok," kenangnya.
Hingga tahun kedua, usahanya mulai stabil. Pesanan dari luar kota mulai datang sendiri. Setelah itu, istrinya juga mengikuti jejak suaminya, meninggalkan pekerjaan dan fokus pada wirausaha mereka.
Namun, saingan baru mulai bermunculan, bahkan berani menjual jauh lebih murah. Pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah kota sebagai penemu keripik itu tetap bertahan.
Ia lebih mengoptimalkan manajerial dalam pengelolaan usahanya, sembari bertahan dengan harga dan lebih memaksimalkan kualitas.
"Akhrinya banyak produsen yang gulung tikar karena biaya produksi tidak sesuai hasil yang diperoleh," ujarnya. Keripiknya berhasil bertahan hingga sekarang, bahkan sempat kewalahan menerima pesanan.
Omzetnya kini mencapai Rp 200 juta per bulan. Harga per bal atau 2,5 kg sebesar Rp 64.000 untuk grosir. Harga konsumen Rp 64.000.
Usahanya sekarang sudah maju. Dia pun berhasil mendirikan toko untuk memajang produknya dan aneka produk oleh-oleh khas Magelang.
Sedangkan untuk berusaha mencukupi pesanan, dia mendirikan pabrik seluas 200 meter. Ia juga mampu beli mesin pembuat tahu seharga Rp 120 juta. "Insya Allah pabrik tersebut sebentar lagi bisa berproduksi," terangnya.
Hasil jerih payahnya tersebut juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Magelang. Berdasarkan penilaian dan penentuan pemenang penyelenggaraan dan penjaringan kreativitas dan inovasi masyarakat (KREANOVA) tingkat Kota Magelang, pada 25 Agustus 2009, ia mendapatkan sertifikat penghargaan sebagai penemu/pelopor keripik tahu.
Penghargaan itu diberikan langsung Wali Kota Magelang yang saat itu dijabat Fahriyanto. Karyadi pun merasakan gurihnya bisnis keripik tahu. Selengkapnya...Posted by Admin at 9:30 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Mengintip Manisnya Bisnis Donat Ubi
Sunday, February 27, 2011
Selain kentang, kini ubi juga bisa menjadi campuran bahan baku pembuatan donat. Potensi bisnisnya masih besar karena ubi yang mempunyai rasa manis alami cocok untuk penderita diabetes. Pemain usaha ini juga masih sedikit.
Sebagai bahan baku donat, ubi mempunyai tekstur lebih lembut. Tak heran, donat yang terbuat dari ubi kini banyak peminatnya. "Kini ubi bisa menjadi alternatif bahan baku donat," ucap Halim Wibowo, pemilik Oishii Donut, pembuat kue yang tengahnya bolong itu dengan memakai ubi.
Produsen donat asal Surabaya, Jawa Timur, ini bahkan mengklaim sebagai pembuat donat pertama berbahan ubi. "Kami menemukan ubi sebagai alternatif bahan baku donat," ujar Halim. Selain di Surabaya, pembuatan donat ubi juga berkembang di Cimahi, Jawa Barat. Satu pemainnya, Donat Ubi Doni.
Bukan cuma menjadi camilan yang hangat di mulut dan mengenyangkan perut, ubi juga memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan. Selain kaya akan serat, Halim mengatakan, donat ubi memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, dan antioksidan yang menangkal radikal bebas.
Tak ketinggalan, Halim pun berpromosi donat buatannya kaya akan kandungan serat larut yang berguna untuk mengikat kolesterol dalam darah. Selain itu, ada juga kandungan oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik dan kandungan vitamin A, B6, E, serta K.
Berbeda dengan donat kentang, pembuatan donat ubi memiliki beberapa keunikan, seperti tekstur dan warna. Tekstur donat berbahan dasar ubi lebih lembut dari donat kentang. "Warna yang dihasilkan juga lebih beragam tergantung pada jenis ubi yang dipakai," tutur Dian Firdaus, pemilik Donut Ubi Doni.
Aroma donat ubi pun lebih khas. Bahan baku ubi juga memberikan rasa manis alami. "Rasanya tak terlalu manis sehingga penikmatnya tak cepat enek," tutur Halim.
Seperti donat kentang, dalam proses produksi donat ubi, para produsen juga masih menggunakan tepung terigu. "Untuk membuat 1 kilogram bahan donat, biasanya digunakan 200 gram ubi dan 800 gram tepung terigu," ujar Dian. Ubi yang dipakai bisa ubi yang dagingnya berwarna ungu dan kuning.
Dalam satu kali proses produksi donat donat ubi, Donat Ubi Doni bisa membuat hingga 200 donat. Mereka membanderol harga donatnya antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per buah.
Harga ini tergantung pada ukuran dan jenis topping-nya. Contohnya, harga donat dengan topping gula halus hanya dipatok Rp 2.500. Adapun harga donat berbalut cokelat Rp 3.500 dan donat bertabur keju Rp 4.000.
Dian juga menjual donat berisi selai dengan harga Rp 5.000 per buah. Selain di Cimahi, Dian juga sudah memasarkan donat ubi di Bandung dan Jakarta. "Banyak juga teman saya di luar kota yang memesannya," tutur Dian.
Meski skala usahanya masih mungil, dalam sebulan Dian bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 15 juta. Adapun Halim, yang hanya menjual donatnya di Surabaya, bisa meraup omzet antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.
Halim juga menjamin donatnya bisa bertahan hingga 36 jam. Melihat potensi pasar donat ubi yang besar, ia pun berniat membuat cabang baru. (Mona Tobing, Handoyo/Kontan) Selengkapnya...
Posted by Admin at 9:01 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Sosis Tempe Raup Rp 30 Juta Per Bulan
Tuesday, February 22, 2011
Tempe bisa menjadi bahan dasar sosis. Produk ini sangat cocok bagi vegetarian atau orang yang diet kolesterol. Penjualan pun melimpah karena harga jual yang tentunya lebih murah.
Sosis merupakan salah satu produk olahan daging yang memiliki banyak penggemar. Selama ini kita sering mendapati makanan ini berbahan daging sapi atau ayam. Namun, kini bermunculan produk sosis rasa lokal dengan bahan dasar dari tempe.
Sebagai bentuk variasi makanan, tempe bisa juga menjadi bahan baku sosis. Kedelai yang merupakan bahan baku tempe bersifat hidrofolik. Kedelai mampu menyerap dan menahan air, membentuk selaput, membentuk gel, mempunyai daya rekat tinggi, dan bersifat pengental.
Selain itu, Indonesia juga merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Alhasil, sosis tempe juga punya prospek cerah.
Menurut Ayu Safitri, pemilik The Sozzis, kendati tak menggunakan bahan pengawet, sosis tempe buatannya memiliki daya tahan yang lama. Saat pembuatan, sosis tempe juga melalui proses pengasapan. Tujuannya, memberikan cita rasa khas, mengawetkan, menghasilkan produk yang khas, dan mencegah oksidasi.
Nah, setelah dibungkus dengan plastik tipis, sosis tempe dikemas dengan sistem kedap udara. Cara ini untuk menghindari masuknya organisme dan bisa memperpanjang daya tahan sosis. "Sosis tempe menjadi pilihan makanan bergizi tinggi sehingga anggapan tempe sebagai makanan kelas bawah akan terhapuskan," kata Ayu.
Dengan harga jual Rp 2.000 per potong, Ayu bisa menjual 500 potong The Sozzis tiap hari. Alhasil, ia bisa mengumpulkan omzet Rp 30 juta sebulan. Sosis tempe The Sozzis telah tersebar di Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, hingga Jakarta.
Selain Ayu, tujuh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, juga mengembangkan produk sosis tempe. Sejak pertengahan 2009, mereka yang tergabung dalam Pusat Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa membuka Outlet Sehat di Kota Gudeg itu.
Maula Paramitha, salah satu pemilik Outlet Sehat, mengklaim bahwa sosis tempenya sehat karena bebas kolesterol. Sebagai pembungkus sosis, mereka menggunakan adonan telur. Adonan telur itu dikeraskan hingga teksturnya benar-benar menyerupai usus sapi yang sering menjadi kulit sosis. "Jadi, secara keseluruhan benar-benar bebas daging sehingga cocok bagi vegetarian," ujar Maula.
Sosis tempe memang mengincar pasar dari kalangan vegetarian dan konsumen yang sedang berdiet daging. Sama seperti The Sozzis, sosis tempe buatan mahasiswa UGM ini juga berharga Rp 2.000 per buah. (Rivi Yulianti, Ragil Nugroho/Kontan)
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:47 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Mencecap Usaha Es Krim yang Maknyuss
Wednesday, February 16, 2011
Camilan beku berbahan dasar susu ini memang banyak peminatnya. Seiring dengan citra produk yang makin umum untuk semua usia, para pemain bisnis baru di usaha es krim pun makin banyak bermunculan.
Mereka pun mengaku persaingan kian sengit. Karena itu, inovasi rasa dan patokan harga murah menjadi strategi untuk menggapai pasar yang lebih luas.
Melalui tulisan ini, KONTAN mencoba mengulas bisnis es krim dengan membandingkan kondisi saat kami wawancara setahun lalu dengan perkembangannya sekarang.
• Mr Cool
PT Mudamas Intan Samudera mulai menawarkan waralaba Mr Cool sejak September 2009. KONTAN pernah meliputnya pada Juli 2010.
Saat itu, sudah berdiri ratusan gerai yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di tiap kota juga berdiri agen yang berfungsi sebagai master franchise.
Meski kini jumlah master franchise belum bertambah, jumlah mitra di tiap kota terus meningkat. "Rata-rata ada lima mitra baru di tiap kota," kata Adhitya Susilo, Marketing Mudamas Intan Samudera tanpa memerinci.
Bahan dasar es krim ala Mr Cool berbentuk bubuk instan dalam kemasan dengan metode water injection. "Produk es krim ini dibuat dalam bentuk bubuk instan agar mudah dan murah dalam pendistribusiannya," ujar Adhitya.
Biaya kemitraan Mr Cool cukup murah, yakni cukup dengan Rp 1,05 juta saja. Mitra akan mendapatkan paket perdana sebanyak 10 pak bahan baku es krim. Bahan baku sebanyak ini bisa menghasilkan 2.400 bungkus es krim.
Selain itu, mitra juga akan memperoleh fasilitas dua buah alat suntik air dan satu alat pengelem plastik. Sementara itu, peralatan seperti freezer atau kulkas harus disiapkan sendiri oleh mitra.
Karena menggunakan konsep kemitraan, Mr Cool tidak mengenakan biaya tambahan apa pun. Tak ada franchise fee maupun royalty fee. Namun, selama menggunakan merek dagang itu, mitra usaha wajib membeli bahan baku dari Mudamas Intan Samudera. Pengiriman akan dilakukan sebulan dua kali.
Balik modal diperkirakan dalam waktu dua bulan. "Namun, belum memperhitungkan investasi peralatan produksi," ujar Adhitya. Asumsinya, mitra mampu menjual 100 bungkus per hari.
Mudamas Intan mematok harga setiap bungkus es krim Mr Cool Rp 437. Mitra menjual ke konsumen sebesar Rp 1.000 per bungkus. Dari harga tersebut, mitra mendapat margin lebih dari 50 persen.
• Baltic Ice Cream
Produk es krim merek Baltic Ice Cream berbeda dengan produk es krim merek lain. Semua bahan bakunya bersifat alami. Misalnya, Baltic Ice Cream selalu memakai susu sapi murni sehingga tekstur es krimnya lembut, tapi tak cepat lumer.
Baltic Ice Cream menawarkan tiga jenis kemitraan. Yakni, bentuk booth, mini kafe, dan kafe. Saat KONTAN mengupas tawaran kemitraan Baltic Ice Cream pada Mei 2009, jumlah gerai mereka baru ada di empat lokasi di seputaran Jakarta dan Tangerang, yakni di Kramat Raya, Meruya, Cibubur, dan BSD City. Rata-rata omzet gerai-gerai itu Rp 102 juta sebulan.
Sejak membuka sistem waralaba April 2009, perkembangan bisnis Baltic Ice Cream cukup baik. Lantaran namanya sudah dikenal, mereka pun berhasil menjaring lima terwaralaba baru.
Dengan sistem waralaba, investor juga punya kewajiban membayar biaya royalti sebesar 5 persen dari total omzet saban tahun. Adapun, investasi awal usaha ini Rp 75 juta. Investasi awal ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta untuk lima tahun.
Dari biaya investasi ini, terwaralaba akan mendapatkan perlengkapan pembuatan es krim, seperti freezer, booth untuk usaha, dan bahan baku pembuatan es krim. Selain menjual es krim, Baltic Ice Cream juga membolehkan para mitra untuk menjual kopi, teh, bahkan kentang goreng di rombongnya.
Dalam hitungan Baltic Ice Cream, terwaralaba bisa balik modal dalam waktu 10 bulan. Ini dengan asumsi mitra mampu menjual sekitar 80 hingga 125 cup es krim yang harganya mulai Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per cup. "Jika omzet per hari Rp 1 juta, mereka bisa balik modal kurang dari setahun," kata Janto Tan, Manajer Pemasaran Baltic.
Namun, mitra barunya di Radio Dalam, Jakarta Selatan, mampu meraup omzet per bulan sebesar Rp 150 juta. Sedangkan, omzet Baltic pusat di Meruya, Jakarta Barat Rp 250 juta sebulan.
Hanya, hingga saat ini, Baltic Ice Cream belum memutuskan untuk memperluas waralabanya ke daerah luar Pulau Jawa. "Kami masih fokus menggarap di Jabodetabek," ujar Janto.
• Revo Es Krim
Pertumbuhan yang baik terlihat dari waralaba es krim PT Revo Indonesia. Lantaran menyasar pasar kelas menengah ke atas, Hendra Barokah, pemilik Revo Es Krim, mengaku usahanya bisa berkembang sangat cepat.
Sejak awal berdiri pada 2008 dan mulai menawarkan waralaba Mei 2009, Revo Es Krim lebih fokus di pasar ini dengan menawarkan harga jual mulai Rp 2.500 hingga Rp 6.000. Kurang dari setahun, gerai mereka bertambah menjadi 125 outlet dan tersebar di seluruh Jabodetabek.
Usaha ini hanya bermodalkan booth kecil sebagai tempat berjualan. Peralatannya juga tak beda dengan gerai usaha minuman lain, yakni teko listrik, shaker minuman, termos, freezer, penyimpan es, serta es krim.
Konsepnya cukup sederhana, calon mitra cukup menyediakan tenaga kerja serta tempat berusaha. Khusus untuk tempat, Hendra menyarankan agar mitra memilih tempat-tempat yang ramai dilalui orang. Seperti mal, pasar, lokasi sekitar kampus, kantin perkantoran, stasiun kereta api, serta terminal bus.
Menurut Hendra, lokasi menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis ini. "Harus dekat dengan tempat bermain anak-anak dan orang tua yang menunggunya," ujarnya.
Mitra tentu harus menyetorkan modal sebagai pengganti biaya peralatan, perlengkapan usaha, dan bahan baku, serta pelatihan pembuatan minuman. Adapun modal awal Revo Es Krim mencapai Rp 7 juta. Khusus untuk bahan baku selanjutnya, mitra harus membeli di Revo Es Krim pusat. "Bahan dasar kami berbeda dan tidak dijual di tempat lain," tegas Hendra.
Revo Es Krim berani menjamin mitra bakal balik modal dalam waktu minimal dua bulan. Dengan catatan, mitra bisa menjual es krim minimal 50 hingga 60 cup per menu atau sekitar 150 sampai 200 cup sehari. Hebatnya, dalam menjalankan usahanya, Hendra tidak membutuhkan promosi besar-besaran. "Lebih mengandalkan promosi antarmitra saja," ujar dia.
Agar promosi dari mulut ke mulut efektif, Hendra menawarkan hadiah Rp 500.000 serta potongan 20 persen dari pembelian bahan baku saban bulan bagi mitra yang berhasil mengajak investor.
Ketika KONTAN terakhir meliput Revo pada Juni 2009, ada 65 calon terwaralaba yang mengajukan tawaran. "Saat ini sudah ada tambahan 50 waralaba," ujarnya. Mereka tersebar di Jabodetabek, Riau, Palembang, dan Medan.
Menurut Hendra, perkembangan waralabanya lebih diakibatkan harga es krimnya terjangkau tapi kualitasnya tak kalah. "Karena secara umum, daya beli masyarakat cenderung melemah dua tahun belakangan," ujarnya.
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:38 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Lezatnya Laba Bebek Bakar Khas Aceh
Thursday, February 10, 2011
Anda ingin menjajal kelezatan ayam dan bebek bakar khas Aceh? Silakan datang ke Cikendak Ayam Bebek Bakar. Tapi, gerai ayam dan bebek bakar ini baru ada di Langsa dan Banda Aceh saja.
Itu sebabnya, Zulfikar pemilik Cikendak Ayam Bebek Bakar yang membuka usaha sejak Januari 2010 menawarkan kemitraan, agar makin banyak orang yang makan ayam dan bebek bakar khas Aceh buatannya itu.
Selain ayam dan bebek bakar, Cikendak Ayam Bebek Bakar juga menyajikan menu lain, yakni bebek goreng crispy dan lada hitam. Selain itu, Cikendak juga menyediakan menu seafood, seperti kepiting lada hitam dan udang cabai, serta masakan Eropa dan China semisal capcai.
Cikendak Ayam Bebek Bakar juga menawarkan paket hemat yang terdiri dari ayam atau bebek bakar, nasi, dan minuman. Harga paket ayam bakar Rp 15.000, sedangkan bebek bakar Rp 19.000. Supaya pembeli tidak bosan, tiap bulan, Zulfikar akan melahirkan menu-menu baru.
Nah, bagi Anda yang ingin menjadi mitra Cikendak Ayam Bebek Bakar, Zulfikar menawarkan dua paket kemitraan. Pertama, paket resto dengan investasi awal Rp 75 juta. Dalam paket ini, Zulfikar tidak memungut biaya waralaba, tapi dia mengenakan profesional fee sebesar Rp 4 juta untuk konsultasi sebelum pembukaan gerai, meliputi rencana anggaran, desain, rekruitmen, dan pelatihan.
Karena Cikendak Ayam Bebek Bakar mempunyai banyak menu, pegawai yang dibutuhkan juga banyak. Yaitu, satu koki, dua asisten koki, tiga pelayan, satu juicer, satu pembakar, dan satu pelayan.
Setelah restoran milik mitra dibuka Zulfikar akan rutin mengecek perkembangan usaha melalui telepon. Dia juga akan mengunjungi mitra satu bulan sekali.
Kedua, tipe gerobak dengan investasi awal Rp 15 juta untuk gerobak kayu dan Rp 25 juta untuk gerobak besi. Mitra harus membeli bumbu rahasia dari Zulfikar Rp 18.000 per kilogram. Tiap bulan, ia juga memungut royalty fee. "Besarnya kurang dari 5 persen, kita akan melihat keadaan mitra dulu untuk persisnya" katanya.
Mukhlisin, satu-satunya mitra Cikendak yang berlokasi di Banda Aceh, mengatakan, meski usia usahanya kurang dari sebulan, tiap hari ada 100 orang yang datang. Dia pun bisa mengantongi pendapatan antara Rp 2,2 juta hingga 3 juta per hari. "Tiap minggunya omzet saya naik, karena makin lama makin banyak orang yang tahu," ujarnya. Lokasinya memang strategis, dekat Universitas Syah Kuala. (Dharmesta/Kontan)
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:32 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Warung Roti Bakar Beromzet Ratusan Juta
Monday, February 7, 2011
Bisnis roti bakar memang sudah biasa. Namun, belum tentu bisa bertahan lama. Madtari merupakan salah satu warung roti bakar yang cukup tua. Sejak 1999 hingga kini, Madtari masih memiliki pelanggan setia di Dago. Meski cuma warung roti bakar, Madtari bisa mencetak omzet ratusan juta.
Madtari mengklaim sebagai roti bakar satu-satunya di Kota Kembang yang menggunakan selai blueberry. Menu roti spesial dengan campuran selai blueberry, kacang, dan taburan meses coklat membuat rasa roti bakar terasa asam manis.
Tidak hanya itu, rasa gurih dan asinnya didapat dari taburan keju yang menutup seluruh tumpukan roti. Pilihan lain adalah rasa roti keju susu dengan pelbagai macam pilihan rasa, seperti susu, coklat, kacang, dan roti rasa asin. Roti bakar rasa asin, yakni, roti dengan serutan keju pada tumpukan roti yang telah dibakar dengan taburan garam.
Makin larut malam, makin ramai pula pengunjung roti bakar Madtari di Jalan Dr. Oten 11, Dago. Salah satu kelebihan nongkrong di Madtari, selain santapan roti bakarnya, parkir dan tempatnya yang luas. Tidak perlu takut kehabisan tempat. Tak hanya memanfaatkan garasi gedung kuno berarsitektur gaya Belanda, setiap ruangan atau kamar telah disulap dengan kursi-kursi panjang berikut dengan meja. Tapi, dekorasi Madtari memang terbilang minim, tidak ada yang istimewa di warung roti bakar yang telah berdiri sejak tahun 1999 ini.
Menurut Manajer Madtari David Maidy, konsep layaknya warung kopi tetap dipertahankan. "Konsep seperti inilah yang membuat para pengunjung betah," kata David. Ia menambahkan, Madtari yang telah tiga kali berpindah tempat sudah terkenal sebagai roti bakar rakyat di Bandung.
Maksud roti yang merakyat: harga murah dan tempat yang apa adanya di pinggir jalan. Tengok saja, harga aneka roti mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 13.000 untuk menu spesialnya. Bosan dengan santapan roti, pisang bakar bisa jadi pilihan.
Pisang dibakar kemudian dilumuri selai sesuai selera dan tentu saja sebagai ciri khas dari Madtari, yaitu taburan kejunya. Harga pisang mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 10.000 per porsi. Jika malam telah tiba dan udara kian dingin, santapan yang lebih hangat kerap menjadi pilihan.
Misalnya saja, mi instan dengan telur plus minuman yang dapat menghangatkan tenggorokan. Wedang jahe kencod boleh jadi pilihan karena sudah pasti, selain dapat menghangatkan tubuh, juga mampu mengusir pusing. Harganya sudah pasti aman di kantong, mulai Rp 5.000 sampai Rp 11.000.
Menyasar konsumen kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai pelanggan, Madtari sukses meraup untung yang cukup wah. Setiap hari, Madtari menghabiskan 500 kg pisang dan 200 tangkup roti.
Di bulan biasa, omzet Madtari mencapai Rp 150 juta per bulan. Ketika musim libur, Madtari mampu mencapai omzet Rp 200 juta. Pendapatan yang besar ini didukung dengan pelayanan prima selama 24 jam.
"Meski makin banyak roti bakar di Bandung tapi Madtari tetap menjadi pilihan karena kami melayani dengan sungguh-sungguh." tutur David yang setahun belakangan ini mengaku, bisnis roti bakar kepunyaan pamannya ini kian pesat setelah berpindah tempat.
Dua cabang Madtari lainnya berlokasi di Dago, tepatnya Jalan Teuku Umar dan Jalan Suci. David bilang, tahun ini, Madtari hendak ekspansi ke Tasikmalaya. (Mona Tobing/Kontan)
Selengkapnya...Posted by Admin at 4:41 AM 1 comments
Labels: Makanan-Minuman
Mencicipi Laba Es Krim Rendah Kolesterol
Thursday, February 3, 2011
Pernah mencoba es krim rasa jahe? Jika belum, tidak ada salahnya mengunjungi stan es krim rendah kolesterol (Renko) di pameran "Gerakan Kewirausahaan Nasional", UKM Convention Center Smesco, Jakarta, Rabu (3/2/2011).
Selain rasanya unik, es krim Renko juga dinilai dapat menurunkan kolesterol sehingga menyehatkan.
"Untuk kesehatan memang bagus, rendah kolesterol dan gulanya pakai gula buah (gula fruktosa)", ujar Agus, petugas penjual es krim Renko.Selain rasa jahe, Renko juga menyediakan rasa herbal lain, seperti rasa jeruk kalamanci, akar alang-alang, dan mahkota dewa. "Rasa apa saja yang herbal bisa kami buatkan," kata Agus.
Di samping itu, Renko juga tersedia dalam rasa moka, cokelat, dan stroberi. "Karena basic-nya (dasar) kesehatan. Jadi es krim supaya anak-anak makanannya juga bisa sehat," katanya.
Satu porsi Renko dengan cone kecil dijual seharga Rp 2.000. Jika ingin memesan porsi besar, kata Agus, Renko rasa jahe dalam tabung es krim sekitar 4 liter dihargai Rp 150.000.
Berdasarkan pengamatan Kompas.com, stan Renko cukup diminati pengunjung, baik anak-anak maupun dewasa. Mereka penasaran dengan konsep es krim herbal dan rasa jahe.
Menurut Agus, es krim Renko merupakan hasil usaha kecil menengah (UKM) bernama Yayasan Mahkota Dewa. Selain Renko, Yayasan Mahkota Dewa memproduksi makanan herbal lainnya seperti Teh Sehat Goebat (gula batu) dan Waroeng Kopi Loewak.
Es krim Renko juga merupakan produk waralaba yang mendapat sertifikat halal, SNI, Food Safe, dan HACCP. Nilai investasi awal waralaba Renko, menurut Agus, sebesar Rp 5.000.000.
Dengan biaya tersebut, pembeli merek waralaba akan mendapat perlengkapan es krim, bahan es krim, bonus sirup Renko, dan pelatihan pembuatan es krim Renko. Tertarik?
Selengkapnya...Posted by Admin at 8:27 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Ratu Kue Kering dari Bandung
Thursday, January 20, 2011
Kebangkrutan tak membuatnya surut. Dari eksportir manisan jahe, dia putar haluan. Bagaimana akhirnya dia bisa menjadi ratu kue kering?
Tangga kesuksesan bisa ditapaki dari kegagalan. Tidak percaya? Itulah pengalaman nyata Ina Wiyandini. Meski pernah bangkrut saat mengelola usaha perkebunan jahe gajah dan membuat produk manisan jahe yang diekspor ke Jepang, semangatnya tak surut untuk bangkit kembali. Kini, dia adalah pengusaha kafe & resto De’Tuik dan kue kering merek Ina Cookies.
Produk Ina Cookies yang berasal dari Bandung kini sudah merambah kota-kota besar di Indonesia, dari DKI Jakarta hingga Papua. Bahkan, menembus pasar mancanegara, seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Dan, dalam waktu dekat akan menjajaki pasar Arab Saudi (Jeddah).
Ina membenarkan, keberhasilan yang dicapainya bukan hasil karya semalam. Keluarga adalah sumber inspirasi yang mendorong dia serta suaminya untuk bangkit lagi merintis usaha yang pernah terpuruk. Tak lupa, rajin berdoa dan berikhtiar adalah kunci utamanya.
Lalu, bagaimana pergulatannya membangun Ina Cookies?
Wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1963, ini mengaku, sebenarnya berbisnis kue kering bukanlah profesi impiannya. Cita-citanya adalah menjadi dokter sebagaimana sang ayah. Namun, latar belakang pendidikan terakhirnya — Jurusan Bahasa Jepang Akademi Bahasa Asing — justru mengantarnya bekerja sebagai sekretaris bagian penjualan Astra di Bandung.
Karier di Astra cuma bertahan dua tahun. Dia menikah dengan Rakhmat Basuki yang kala itu bekerja di Departemen Pekerjaan Umum dan ditugaskan ke Aceh Tenggara. Namun, tahun 1989, suaminya pensiun dini dari PU dan memboyong Ina ke Cirebon untuk mengawali bisnis baru: perkebuhan jahe gajah. “Ide ini dari kakak ipar saya. Mula-mula bisnis manisan jahe yang diekspor ke Jepang berjalan lancar sekitar dua tahun, bahkan sudah memiliki 500 pegawai,” tutur putri pasangan Wiyono Kartodirekso (almarhum)-Toeti Ferliani ini mengenang.
Sayangnya, batu sandungan mulai menghadang. Gerak bisnis jahe Ina yang terbilang kencang larinya terpaksa gulung tikar akibat peristiwa panen raya jahe di Thailand dengan harga jauh lebih murah. Bisa ditebak, berikutnya bisnis Ina bangkrut, lantaran pembeli dari Jepang lebih memilih impor jahe dari Negeri Gajah Putih tersebut.
“Padahal, waktu itu kami sudah menanam jahe di daerah Plumbon sekitar 14 hektare. Kami belum mempunyai pengalaman banyak di bidang ekspor, akhirnya, kami kehabisan dana, tapi mau gimana lagi,” ujarnya buka kartu tentang kegagalan bisnis pertama itu. Ironisnya, pada saat bisnisnya hancur, dia juga tidak memiliki dana untuk melahirkan anak kedua.
Semua cobaan Tuhan pasti ada hikmahnya. Ina merasakan betul pelajaran berharga itu. Berikutnya, tidak dinyana, pertolongan Tuhan datang. Suaminya diterima kerja di IPTN, sementara dia diajari kakak iparnya cara membuat lima jenis kue kering yang laku di pasaran. Yaitu, putri salju, nastar, sagu, cokelat mede, plus corn flake.
Sembari belajar, dia juga menjual door to door kue buatan kakaknya itu ke tetangga, serta teman arisan dan pengajian. Harga kulakan kue dari sang kakak dibanderol Rp 25.000/toples dan Ina menjual lagi seharga Rp 30.000/toples. Lumayan, sehari dapat menjual enam toples, meski sering dicemooh orang karena mantan eksportir manisan jahe kok jualan kue kering dari rumah ke rumah.
Lama-lama Ina senang juga, meski keuntungannya kecil. Akhirnya, sang kakak menyarankan dia membuat sendiri kue kering agar meraih margin lebih besar. Maklum, jika produksi sendiri, keuntungan sekitar separuh dari harga jual. Dan dia menuruti saran itu dengan membuat enam toples kue per hari. Respons pasar cukup baik, sehingga Ina harus merekrut lima pegawai untuk membantunya. Dalam perkembangannya, order terus meningkat dan pegawainya bertambah menjadi 50 orang.
Kue kering yang dirintis sejak 1992 itu menyasar segmen pasar menengah-atas. Sebagai gambaran, jika di pasaran harga kue serupa Rp 15.000/toples, Ina berani mematok Rp 25.000/toples. Sistem penjualan pun dilakukan beli putus. Alasannya, “Saya nggak mau kue kembali, jadi beli putus. Sebab, untungnya juga kecil, yang penting kontinyu,”
Rupanya kelezatan aroma kue buatan Ina tercium hingga ke luar Kota Cirebon. Beberapa kota di Jawa Barat, khususnya Tasikmalaya, juga dirambah pehobi memasak sejak duduk di bangku SD ini dalam memasarkan produknya. Semuanya mengandalkan strategi pemasaran dari mulut ke mulut.
Tahun 1994, Ina dan suami pindah ke Bandung. Mereka bertekad membesarkan usaha kue kering yang diberi merek Ina Cookies. Dan suaminya juga keluar dari IPTN, sehingga pesangonnya dipakai sebagai modal membesarkan usaha. “Tujuan saya beri merek Ina Cookies agar lebih mudah diingat,” ungkap anak kedua dari lima bersaudara ini. Di Bandung, Ina membawa tiga karyawan inti dari Cirebon.
Di luar dugaan, pada 1994 itu juga perkembangan bisnisnya pesat, sehingga jumlah pegawai ditambah lagi menjadi 100 orang. Sekarang, siapa sangka total karyawannya ada 500 orang. Sebanyak 150 orang karyawan inti, sisanya diperbantukan bila kewalahan menangani banyak order. Kebanyakan karyawan direkrut dari sekitar kampungnya atau lokasi pabrik.
Pesanan kue banyak terjadi saat ada momen khusus. Umpamanya, Lebaran, Natal, Tahun Baru, Imlek dan Valentine’s Day. “Paling ramai saat Idul Fitri, sehingga harus dipersiapkan enam bulan lebih awal. Sebab, produksinya bisa mencapai 21 ribu lusin per hari. Padahal, kalau hari biasa kurang lebih lima lusin (sekitar 20 resep),” kata Ina yang tiap tahun memberangkatkan umroh karyawan terbaiknya dan agen pemasarannya yang berprestasi.
Apa yang menjadi keunggulan Ina Cookies dibandingkan kue kering lain? Ina mengaku, setidaknya ada empat faktor yang menjadi nilai lebih produknya. Pertama, kehalalan. Kedua, kualitas bahan. Jika halal dan kualitasnya baik, semahal apa pun akan dibeli. Ketiga, penyimpanan. Kue harus dipastikan tetap terjaga kualitasnya saat penyimpanan, di jalan, hingga sampai ke tangan konsumen. Keempat, harus jeli pada apa yang ada di sekitar kita. Dia bercerita, misalnya di daerahnya banyak peuyeum (tape singkong), akhirnya dia pun membuat kue dari peuyeum. Dan dia diganjar Pangan Award dari Presiden RI karena dianggap berhasil mengolah bahan kue lain sebagai pengganti terigu. Contohnya, tempe, tahu, tepung ubi, tepung ganyong dan tepung singkong.
Keistimewaan lain adalah variasi produk. Tidak tanggung-tanggung, kini varian produknya ada 114 macam kue. Ini sesuai dengan slogan yang diusung Ina Cookies: ”The most creatives cookies.” Kepiawaian membuat aneka ragam kue tak luput dari proses belajar membuat kue yang diikutinya hingga ke banyak negara. Ina sering diberi kesempatan gratis menimba ilmu pembuatan kue kering oleh produsen keju langganannya. Dia dikirim studi banding ke Taiwan, Filipina, Cina, Singapura, Malaysia dan Jepang.
Selain rajin mengikuti tren kue kering, keunikan lain Ina Cookies adalah kemasan yang tidak umum. Artinya, kemasan kue-kue kering tidak dimasukkan dalam toples biasa, melainkan bervariasi. Ada kemasan dari bahan daur ulang, seperti plastik mi instan, bungkus kopi yang dirajut, atau plastik bekas cokelat.
Hebatnya, sejak 2007 limbah pabrik Ina Cookies dimanfaatkan. Contoh, bekas kantong keresek dapat dirajut menjadi tas cantik, tempat pensil, sajadah, celemek dan sandal. Juga, membuat aneka topi unik dari jerami, yang bahkan mencuri perhatian pembeli asal Belanda dan Jerman. Ina pun bermimpi suatu saat sandal berbahan baku limbah itu juga dipakai di hotel-hotel.
Dengan keunggulan kualitas produk dan keunikan kemasan, banyak agen berminat memasarkan Ina Cookies. Sekarang, total agennya mencapai ratusan. Contoh, di Jakarta saja terdapat 150 agen. Banyaknya agen di Ibu Kota otomatis mendominasi perolehan omset Ina Cookies. Penjualan di Jakarta dan sekitarnya memberi kontribusi hingga 90%, sisanya dari kota-kota lain.
Agen terbesar Ina Cookies ada di BSD City (Tangerang), Depok, Bintaro (Tangerang), Tebet, Bekasi dan Yogyakarta. Tamy Bambang, agen di Bintaro, mengaku berhasil menjual 5.000 lusin saat Lebaran. “Tahun pertama saya jadi agen di Kemang Pratama Bekasi menjual 500 lusin dan tahun kedua saat pindah ke Bintaro bisa memasarkan 1.500 lusin,” ucap Tamy yang menjadi agen sejak 1998. Menurut dia, kue favorit pelanggannya adalah kastengel, nastar, putri salju, sagu keju serta cheese kress.
Di Kota Kembang, lokasi agennya tersebar. Sebut saja, di gerai D’Risole, Bandung Supermall, Branded Factory Outlet, Kayoe Manis, Rumah Brownies Kukus, Kedaung Showroom, Maskumambang, Citarum 31 serta Rumah Baju Anak.
Bagaimana Ina membangun jaringan agennya?
Diakuinya, mula-mula jumlah agen di Bandung hanya 20 titik. Suatu hari pada tahun 2000, dia diundang untuk berbicara tentang kisah sukses Ina Cookies di hadapan 1.000 ibu-ibu pengajian. Tak disangka, usai acara, banyak peserta yang menyerbu produknya dan mengajukan diri sebagai agen. Alhasil, Ina yang mengaku sebelumnya dikenal sebagai orang pendiam dan pemalu makin percaya diri. Untuk menjaga hubungan baik dengan para agen, dia rutin mengadakan pertemuan dan memberi insentif menarik.
Untuk sistem pembayaran agen, Ina bersikap fleksibel. Ada yang disyaratkan beli putus, tetapi ada pula yang bayar uang muka sebagian dan sisanya dibayar mundur. “Karena saya pesannya dalam jumlah besar, jadi boleh pakai down payment sekitar 50%, misalnya Rp 300 juta, sisanya dibayar kemudian,” imbuh Tamy yang mengklaim kini memiliki 50 sub-agen. Mita Dewi Ratnasari (31 tahun) juga membenarkan hal itu. “Sejak tiga tahun lalu saya menjadi agen di Samarinda. Omsetnya naik terus dari 120 lusin, 251 lusin, hingga 664 lusin. Kini, pembayaran saya tidak beli putus lagi, tapi dipercaya bayar uang muka dulu 50% dan ada sisa waktu melunasi,” kata Mita yang kini mempunyai 10 sub-
agen di Samarinda, Tenggarong dan Balikpapan.
Selain agen, jalur distribusi Ina Cookies mengandalkan workshop. Sejauh ini, Ina mengaku, pihaknya tidak membuka cabang gerai lain kecuali di kawasan Cikutra (lokasi workshop dan pabrik) dan toko Mr.Komot.
Tidak hanya distributor dalam negeri saja yang menjual produk Ina Cookies. Agen dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam juga berdatangan.
Soal omset, Ina enggan berterus terang. Wanita berjilbab ini hanya memberi gambaran, saat Lebaran order mencapai 21 ribu lusin, sedangkan hari biasa rata-rata lima lusin. Kini, harga produknya Rp 60-95 ribu per toples. “Yang jelas, rata-rata pertumbuhan pesanan tiap tahun naik 30%,” ujarnya tandas.
Walaupun sukses, bukan berarti bisnis Ina Cookies berjalan mulus. Diakui Ina, pihaknya tak luput dari beberapa kendala sejak awal merintis. Pertama, tantangan dalam modal yag minim karena susah mendapat kredit bank. “Tahun 1995 saya pernah mendapat banyak order sehingga butuh dana Rp 200 juta. Pinjam bank, tapi cuma dikasih Rp 75 juta. Sisanya, saya pinjam ke sanak famili,” katanya mengenang masa-masa sulit itu.
Tantangan kedua, ketika sudah dipercaya bank, justru pihaknya kesulitan mendapatkan pemasok bahan baku yang kontinyu. Umpamanya, ketika order kue banyak, para petani ubi jalar tidak mampu menyanggupi pasokannya. Begitu halnya saat butuh kacang mede, petani tak sanggup, sehingga dia harus beli ke supermarket dengan harga dua kali lipat dari harga petani.
Yang menarik, setelah sukses berjualan kue kering, Ina merambah bisnis resto. Suatu keputusan yang tepat, mengingat pengembangan usaha itu masih terkait dengan bidang kuliner. Tepatnya tahun 2002, dia membangun kafe & resto De’Tuik di Bandung yang mempekerjakan 50 pegawai.
Tidak hanya itu. Langkah ekspansinya makin tak terbendung dengan merambah usaha Bandeng Keju, membuka kursus keterampilan menghias kue, dan mendirikan toko kue Inara Pastry & Bakery tahun 2008. Pada Oktober 2010 Ina membuka toko khusus menjual kue cokelat dan keju bernama Mr.Komot.
Soal regenerasi telah dipikirkan Ina. Dia bersyukur, dua tahun terakhir, putra sulungnya,
Afiandini Nur Sadrina, mulai membantu mengurus bisnis kue. “Afiandini sekarang membantu membuat resep-resep baru. Kalau anak kedua (Voula Nur Rakhmaniar) baru tamat sekolah dan mengelola kafe. Anak ketiga, Fakhri Saefullah Nur Rahman, masih sekolah,” papar ibu tiga anak yang sudah beranjak dewasa ini.
Karena kapasitas pabriknya yang enam lantai telah penuh, dalam waktu dekat Ina akan membangun workshop baru di lokasi Kampung Dunia. “Di sini nanti akan ada kampung piza, kampung Jepang, lulur ayu, dan lainnya,” ujar peraih penghargaan The Best Women Entrepreneur tahun 2008 dari Ikatan Pembauran Perempuan Indonesia ini tentang rencana bisnisnya ke depan. (***)
Reportase: Wini Angraeni
Selengkapnya...Posted by Admin at 11:13 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Mencicipi Laba Garing Rengginang Singkong
Sunday, December 20, 2009
Mencicipi rengginang dari beras ketan sudah biasa. Banyak orang Indonesia yang pernah merasakan gurihnya cemilan mirip kerupuk ini. Tapi, belum banyak orang yang pernah mencicip rengginang dari singkong.
Adalah Kristianingsih, pengusaha cemilan asal Bojonegoro, yang memopulerkan rengginang berbahan baku singkong ini. Walaupun begitu, bentuk dan rasa rengginang buatan wanita yang akrab disapa Kristin ini tidak berbeda dengan rengginang dari beras ketan.
Kristin menuturkan, ide membuat rengginang dari singkong timbul setelah melihat produksi singkong yang melimpah di Bojonegoro. Saking melimpahnya, banyak singkong yang lantas terbuang begitu saja. Petani pun kerap mengobral singkong mereka saat panen. Kala itu, harga satu kg singkong cuma Rp 200.
Kristin lantas mencoba memanfaatkan singkong tersebut. “Saya coba bikin jadi rengginang, sebab rengginang makanan khas di daerah kami,” kisahnya.
Namun, ternyata membuat rengginang dari singkong tidak mudah. Setelah tiga bulan, Kristin baru berhasil menemukan racikan dan cara mengolah yang tepat. Setelah itu, sejak lima tahun lalu, Kristin mulai berbisnis rengginang singkong di bawah bendera UD Gading.
Ternyata, bisnis Kristin berkembang pesat. Saat ini, dibantu 16 pekerjanya, Kristin bisa mengolah tiga kuintal singkong menjadi sekitar satu kuintal rengginang. Dalam sebulan, biasanya ia bisa membuat sekitar 25 kuintal rengginang.
Kristin melego rengginang bikinannya seharga Rp 10.000 per kilogram untuk rengginang mentah, dan Rp 25.000 per kilogram untuk rengginang goreng. Padahal, Kristin memperoleh singkong dengan harga murah.
Kristin membeli bahan baku singkong dari sekitar Bojonegoro seharga Rp 600–Rp 700 per kilogram. Tapi, saat di daerahnya sedang tidak panen singkong, dia harus menambah pasokan dari Tuban. Untuk itu, ia harus merogoh kocek hingga Rp 1.000–Rp 1.300 per kg. Dari bisnis ini, Kristin mengaku bisa mendapatkan margin laba cukup besar, yakni sekitar 30 persen-35 persen.
Tambah lagi, rengginang singkong Kristin terhitung laris manis. Padahal, menurutnya, tidak ada yang istimewa dengan cara pengolahannya. Kristin mengaku hanya memakai garam dan bawang untuk memunculkan aroma dan rasa. Ia juga membuat rengginang dengan rasa terasi dan rasa manis. Agar muncul rasa manis, ia menambahkan gula merah dalam adonan.
Renggiang singkong terutama laris menjelang hari raya dan libur panjang. Selain menjual sendiri renggiang singkong, Kristin juga memasarkan produknya di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Malang, dan Semarang.
Kristin juga rajin memperluas pasar, misalnya dengan mengikuti pameran. Hasilnya, permintaan dari daerah berdatangan. Misalnya dari Jakarta, Kalimantan, dan Ambon.
(Dupla Kartini/Kontan)
Editor: Edj
Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:17 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Omzet Ratusan Juta dari Manisan Jambu Bangkok
Thursday, December 3, 2009
Kalau kebetulan sedang berkunjung ke Medan, Anda bakal menemukan banyak penjual manisan jambu bangkok. Makanan ini merupakan salah satu oleh-oleh favorit khas kota Medan. Maklum, warna hijau cerah manisan ini menggoda. Rasanya pun yahud, apalagi jika dicocol ke bumbu rujak.
Lantaran banyaknya penggemar manisan jambu bangkok, para pengusaha pun berlomba mengejar peruntungan dari bisnis pembuatan dan penjualan manisan ini. Tak hanya di Medan, bisnis manisan jambu biji ini juga cukup marak di daerah lain.
Salah satu pemain di luar Medan yang sukses adalah Daniel Andijaya. Daniel adalah pemilik Trinity, perusahaan pengolah manisan jambu bangkok di Jakarta, yang dia dirikan 2003 silam. Ide Daniel berbisnis manisan jambu bangkok muncul saat ia kangen mencicipi makanan khas Medan itu. “Saya dulu sempat kuliah di Medan,” terangnya. Tapi, dia tidak bisa menemukan makanan itu di Jakarta.
Ia pun lantas nekad mulai berbisnis manisan jambu bangkok. Untuk memodali usahanya itu, Daniel mengorek isi tabungannya. Modal itu ia belikan jambu bangkok dari Cilebut, yang kemudian diolahnya menjadimanisan.
Lalu dia menitipkan penjualan manisan buatannya itu di toko buah milik temannya. Tak disangka, manisan jambu bangkok olahan Daniel laris manis. Maklum, saat itu belum ada pesaing. Bisnis manisan jambu bangkok Daniel berkembang pesat. Bahkan, dia mendapat tawaran memasok produknya di dua jaringan ritel modern besar.
Seiring meningkatnya permintaan, petani jambu bangkok di Cilebut kewalahan memenuhi permintaan Daniel. Itu sebabnya Daniel kemudian memasok jambu biji dari Medan. “Di Medan pasokan stabil, karena kebunnya luas,” papar Daniel.
Kapasitas produksi Trinity memang meningkat pesat. Jika di awal berdiri, Daniel hanya mengolah ratusan kilogram jambu per bulan, kini dia bisa mengolah 30 ton jambu per bulan. Untuk produksi sebanyak ini, Daniel kini mempekerjakan 15 karyawan. Untuk menghasilkan manisan yang sedap, Daniel hanya menggunakan jambu yang tingkat kematangannya 70 persen. Dia menambahkan, jambu yang matang tidak enak dijadikan manisan.
Sebelum dijadikan manisan, jambu dikupas dan dibuang bijinya terlebih dulu. Setelah itu, jambu bangkok dipotong-potong dan direndam dalam air daun suji agar warna hijaunya semakin menyala. Daniel mengemas manisan jambu bangkok menjadi kemasan seberat 7 ons-8 ons. Tak lupa, dia menambahkan bumbu rujak. Daniel menjual manisan tersebut dengan harga Rp 9.000 - Rp 10.000 per emasan ke toko. “Harga jual ke konsumen tergantung toko,” jelasnya.
Daniel mengaku meraup omzet Rp 200 juta setiap bulan dari usaha manisan ini. Pria berusia 39 tahun ini mengaku hanya mengambil margin sebesar 5 persen dari harga jualnya. Cuma, sejak masuk tahun 2009, bisnis penjualan manisan jambu bangkok Daniel tidak terlalu bagus. Penjualan manisan jambu menurun. Dia terpaksa mengurangi pasokan manisan di beberapa gerai ritel modern. “Itu sengaja saya lakukan, kalau tidak saya bisa rugi Rp 6 juta per bulan,” tuturnya.
Pasalnya, selain karena permintaan berkurang, manisan jambu juga termasuk makanan yang tidak tahan lama. Kalau lama tak terjual atau mesin pendingin di toko tidak bagus, manisan jambu akan rusak. Kalau sudah begitu, manisan jambu terpaksa dibuang sebelum terjual. (Aprillia Ika/Kontan)
Editor: Edj
Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...
Posted by Admin at 7:26 PM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Omzet Rp 100 Juta dari Jus Mengkudu
Thursday, November 19, 2009
Bentuk buah mengkudu atau pace yang bopeng-bopeng memang tak menarik. Baunya pun sungguh tak sedap. Namun, sudah lama orang mengenal mengkudu sebagai buah berkhasiat mengobati berbagai penyakit, mulai penyakit ringan sampai penyakit berat macam kanker. Mengkudu juga dipercaya bisa membantu menurunkan berat badan.
Lantaran memiliki banyak khasiat itulah orang mengolah mengkudu menjadi berbagai produk, salah satunya adalah jus mengkudu. Usaha jus mengkudu terus bertumbuh seiring semakin banyaknya orang yang menyadari khasiat jus mengkudu.
Salah satu yang merasakan nikmatnya berbisnis jus mengkudu adalah Philipus P. Soekirno. Pengusaha yang berdiam di Jakarta ini menjual jus mengkudu merek Morinda.
Philipus terjun ke bisnis bisnis jus mengkudu setelah merasakan sendiri manfaat jus buah ini.
Pengusaha berusia 61 tahun ini pernah menderita gagal ginjal, lever bengkak, jantung koroner dan asam urat tinggi. Saat itu, harapan hidup Philipus sudah tipis. Atas saran keluarga, dia pun rajin mengonsumsi jus mengkudu. Hasilnya, penyakit Philipus berangsur sembuh. “Sekarang, saya hidup normal tanpa pantang makan apapun,” ujarnya.
Setelah sembuh, Philipus mempelajari cara mengolah mengkudu jadi minuman yang enak dikonsumsi. Buah mengkudu termasuk sulit diolah. Sebab, di atas buahnya terdapat lapisan lilin yang berbahaya. Apalagi buah ini memiliki banyak biji. “Untuk mengolah mengkudu butuh suhu ruangan kira-kira 10 derajat celcius agar tak banyak jamur dan bakteri yang berkembang,” ujarnya.
Setelah menguasai teknik pengolahan jus mengkudu, mulai 2007 Philipus memulai usahanya. Bermodal Rp 250 juta dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), Philipus membeli peralatan mengolah mengkudu dan membuka outlet di Jakarta Pusat. Awalnya, dia hanya bisa mengolah 200 kg-500 kg mengkudu seminggu. Saat itu, omzetnya Rp 20 juta tiap bulannya.
Nyatanya bisnis Philipus berkembang pesat. Kini Philipus mampu mengolah 1 ton sampai 2 ton mengkudu per minggu. Dari situ, Philipus bisa mendapat omzet sekitar Rp 100 juta per bulan. “Penjualannya sangat bagus,” kata Philipus sumringah. Philipus mengaku bisa memperoleh margin 60 persen dari penjualan jus mengkudu.
(Aprillia Ika/Kontan)
Editor: Edj
Selengkapnya...
Posted by Admin at 6:55 PM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Peluang Bisnis Alpukat Hawaii Jumbo
Sunday, November 8, 2009
Dahulu, jenis alpukat paling populer dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah alpukat mentega yang rasanya manis. Tapi, saat ini tren ini bergeser. Kini varietas alpukat Hawaii yang meroket.
Salah satu pionir pembudidaya alpukat Hawaii ini adalah Prakoso Heryono. Pemilik Satya Pelita Nursery di Demak itu sudah mengembangkan alpukat Hawaii sejak sembilan tahun lalu. Kini, ia memiliki sekitar lima pohon.
Menurut Prakoso, selain lebih manis, ukuran alpukat Hawai jumbo juga jauh lebih besar dibanding jenis lain. Berat satu buah bisa mencapai 2 kilogram (kg), tiga kali lipat lebih alpukat biasa. Tekstur daging buah ini juga lebih padat, tapi tetap lunak ketika digigit.
Dengan berbagai keunggulan itu, alpukat jenis ini dijual Prakoso seharga Rp 25.000-Rp 30.000 per butir. Ini harga premium. Sekadar perbandingan, harga jual alpukat biasa saat ini hanya Rp 10.000 per kg isi sekitar 3 butir.
“Permintaan dari Jakarta dan Surabaya ke tempat saya mencapai empat kuintal per bulan. Tapi saya baru bisa memenuhi dua kuintal setiap kali panen,” ujar bapak 52 tahun ini.
Prakoso bukannya tak mau meningkatkan produksinya. Saat ini, Prakoso memilih lebih fokus menjual bibit alpukat Hawaii. Sebab, permintaannya sangat tinggi. “Saya juga ingin varietas ini dapat dibudidayakan secara massal,” ujarnya.
Untuk satu bibit setinggi 50 cm dengan usia 7 bulan, Prakoso mematok harga Rp 150.000. Ini hampir 10 kali lipat harga bibit alpukat mentega. Dalam setahun, Prakoso bisa menjual 500 bibit alpukat Hawaii jumbo senilai Rp 75 juta. Ia meraup margin laba di atas 50 persen. Selain berbisnis bibit alpukat, ia juga menjual bibit tanaman eksotis lain. Prakoso juga mempunyai beberapa perkebunan.
Oh, iya, buat yang belum tahu, Alpukat merupakan tanaman yang tumbuh di ketinggian medium, antara 200-1.200 di atas permukaan laut. Soalnya, tanaman ini tidak butuh banyak air.
Pohon akan mulai berbuah setelah 3,5 tahun. Empat tahun pertama, buahnya masih sedikit, kira-kira 20 butir saja. Setelah itu, dalam setiap tahun, jumlah buahnya akan meningkat 20 persen sampai 30 persen.
Pertumbuhan jumlah buah akan berhenti di usia pohon 7 tahun. Sampai usia itu, panen per pohon bisa mencapai 2 kuintal. “Panen alpukat bisa dua kali setahun,” kata Prakoso.
(Aprillia Ika/Kontan)
Editor: Edj
Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...
Posted by Admin at 6:36 PM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Adi Kharisma, Pencipta Olahan Ubi Ungu
Sunday, November 1, 2009
Kesehatan itu mahal harganya. Slogan inilah yang membuat Adi Kharisma mengubah jalan hidupnya dari seorang pengusaha ritel sukses beromzet miliaran rupiah menjadi seorang penjual aneka makanan dan minuman dari ubi ungu. Dalam dunia pangan lokal, nama Adi Kharisma sudah cukup terkenal.
Pria asli Bali ini sukses memperkenalkan nasi dan es krim dari ubi jalar sebagai salah satu kekuatan makanan lokal sekaligus sebagai produk makanan yang sehat.
Gara-gara inovasi produk dari ubi jalarnya ini, Adi Kharisma memperoleh penghargaan dari Dewan Pangan Italia. Tak hanya itu, sebagai duta pangan lokal, Adi juga sudah menyambangi Jepang dan Fiji untuk mempresentasikan produk jus dan sirup ubi ungunya.
Adi sendiri tak menyangka prestasinya bakal sebesar itu. Sebab, inovasi produk pangannya ini lahir dari ketakutannya terhadap kanker. Sampai tahun 1995, ada tujuh kerabat Adi termasuk ibu, paman, mertua serta kakaknya yang terkena penyakit kanker.
Karena dekat dengan orang-orang tersebut, Adi pun turut menyaksikan melihat pola makan mereka. “Ternyata pola makan yang salah merupakan penyebab terbesar terjadinya kanker,” ujar pria 50 tahun ini.
Adi pun kemudian banyak membaca buku-buku kesehatan. Ia tak ingin istri dan anaknya ikut menjadi korban. Maka, lima tahun berselang, Adi masih berkutat mempelajari aneka macam bahan makanan yang bisa memerangi kanker.
Tahun 2000, Adi menemukan resep diet dengan menjalankan pola makan sehat. Ia mulai menjauhi aneka sea food, daging merah serta memperbanyak sayur dan buah. “Daging yang saya makan hanya daging ayam dan ikan,” ujarnya. Pengaruh bagi kesehatan Adi sangat signifikan. “Sampai sekarang, pilek pun saya tak pernah,” ujar pria berperawakan tinggi besar ini.
Karena yakin dengan hasil dietnya ini, Adi pun kemudian mencoba merambah bisnis virgin coconut oil (VCO) sejak tahun 2004. Sayang, bisnis minyak kelapa itu kandas di tengah jalan. Padahal, Adi sudah menggelontorkan uang Rp 100 juta-an untuk mempelajari aneka hal tentang budidaya kelapa dan pengolahannya. “Para petani hanya mau menjual kelapa. Tidak mau dibina untuk memanfaatkan sabut, batok, air serta daging kelapanya,” keluh anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini.
Namun, pada tahun tersebut, usaha Adi yang lain sangat sukses. Bisnis distribusi makanan dan minumannya menyumbang duit Rp 1,5 miliar per bulan ke kantongnya. Belum lagi pemasukan dari 10 convenient mart, empat gerai warung soto, serta satu gerai waralaba Subway Sandwich di Australia.
Gagal menjalani bisnis kelapa, Adi pun banting setir melirik ubi jalar ungu. Pasalnya, makanan yang berwarna ungu, hitam atau kemerahan mengandung zat antosianin yang ampuh memerangi kanker. Karena itu, sejak tahun 2006, Adi fokus menggeluti usaha pengolahan makanan dari ubi jalar ungu.
Saat ini Adi mengelola dua gerai penjualan produk makanan dari ubi jalar di Bali dan di Jakarta dengan omzet sekitar Rp 50 juta sebulan. Satu per satu bisnisnya yang lain pun ia lepas. “Untuk distribusi barang, saat ini dipegang istri saya,” ujarnya. Sementara convenient mart, warung soto, serta gerai waralaba Subway Sandwich-nya sudah sudah ia lepas.
Beralih ke bisnis kuliner ubi jalar
Gagal mengembangkan bisnis kelapa, Adi Kharisma beralih ke bisnis kuliner ubi jalar. Di bisnis barunya ini, Adi sukses mengembangkan aneka makanan dari ubi, terutama ubi ungu. Namun, ia harus bersaing ketat dengan para pesaingnya.
Kegagalan bisnis kelapa yang pernah dijalaninya membuat Adi Kharisma memetik pelajaran berharga. Salah satunya, ia merasa harus berubah dan berani keluar dari zona nyamannya. Apalagi, menurut Adi, dari seluruh jumlah manusia di bumi ini, hanya 20 persen yang ingin dan berani melakukan perubahan itu.
Tak mau tenggelam dalam kegagalannya, pria kelahiran Bali 50 tahun silam ini kemudian mengalihkan bisnisnya ke pengolahan aneka umbi-umbian. Untuk memulai usaha ini, masalah yang pertama-tama ia hadapi adalah pasokan bahan baku. Untuk mengatasinya, Adi berencana bekerja sama dengan para petani di Yogyakarta.
Ada alasan mengapa ia membidik petani-petani di Kota Gudeg itu. Menurut Adi, selama ini produksi umbi-umbian dari Yogyakarta cukup besar. Misalnya saja umbi yang lazim dikenal dengan nama gembili.
“Namun sayang, penanaman umbinya lama, bisa sampai delapan bulan,” kata Adi. Karena itu, akhirnya ia memilih mengolah ubi jalar. Sebab, selain sudah banyak ditanam, ubi ini juga mudah dibudidayakan.
Ada alasan penting lain mengapa ia akhirnya memilih ubi jalar, yaitu karena ubi jalar mengandung banyak zat antosianin yang bisa mencegah kanker. “Antosianin itu berguna untuk mengencerkan darah yang kental serta menyerap racun dan polusi di darah,” ujarnya.
Namun, hingga sekarang ini Adi masih mengandalkan pasokan ubi jalar dari beberapa petani lokal di Bali. Selain itu, ia juga memiliki kebun sendiri seluas 1,5 hektare “Saat ini dalam sebulan saya butuh lebih dari tiga ton ubi jalar,” ujarnya.
Sebelum memulai bisnisnya, Adi mengaku melakukan eksperimen sendiri selama enam bulan. “Selama itu, saya makan semua hasil eksperimen saya,” kenangnya sembari tertawa. Produk pertamanya yang keluar adalah nasi ubi ungu, lalu disusul dengan es krim ubi ungu dan brownies ubi ungu.
Ada pula pebisnis lain yang membuat olahan ubi ungu ini dan menjadi pesaing Adi. Pebisnis tersebut, antara lain, ada di Malang. Di kota tersebut sudah ada dua toko yang menjual aneka olahan ubi ungu. Itu sebabnya, setelah Pulau Bali, ia lebih memilih merambah Jakarta daripada merambah pasar di dekat Bali.
Selain itu, untuk menyiasati persaingan, Adi kemudian membuat produk ubi jalar dari empat warna ubi jalar yang ada, yaitu ungu, putih, kuning, dan oranye. “Dengan begitu saya jadi produsen makanan dari ubi yang pertama mengolah ubi empat warna,” ujarnya senang.
Ketika meritis pasar di Bali, Adi memakai toko warisan keluarga yang ada di Jalan Teuku Umar, Denpasar, untuk menjajakan aneka produk makanannya. Namanya Warung Sela Boga.
Namun, tempat yang dulunya merupakan pusat jajanan itu ternyata tidak cukup ramai. Adi hanya mengantongi omzet Rp 30 juta-Rp 50 juta setiap bulannya. Maka dari itu, tahun 2008 silam, Adi merambah Jakarta dan mendirikan warung di daerah Bintaro Sektor 1, Jakarta Selatan. Ia menyewa warung kecil dengan tarif Rp 1,5 juta per bulan.
Bersaing ketat dengan Burger Blenger
Menembus pasar Jakarta ternyata tak mudah. Adi Kharisma harus bersaing ketat dengan gerai makanan lain, salah satunya Burger Blenger yang juga membuka gerai di D’Hoek Bintaro. Ia pun berusaha mencari cara membesarkan usahanya, salah satunya dengan waralaba.
Ketika pertama kali merambah Jakarta pada awal 2008, Adi membayangkan ia bakal sukses dengan gampang. Soalnya di mana-mana orang pasti perlu makanan. Tetapi menembus pasar Jakarta ternyata tak semudah perkiraannya. Dia harus berjuang keras agar mampu bersaing dengan pengusaha lain. “Di Jakarta, saya bagaikan terjun ke hutan belantara,” ujar lelaki berusia 50 tahun ini.
Selama delapan bulan pertama, Adi sempat kepayahan mencari tempat berjualan. Sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah gerai di D’Hoek Bintaro sektor 1. Untuk menempati tempat tersebut, Adi harus membayar uang sewa Rp 1,5 juta per bulan. “Tempat itu saya namakan Sweet Purple, artinya warna ungu yang cantik,” ujarnya.
Seperti gerainya di Bali, di gerai barunya yang berada di Jakarta, Adi juga menjual olahan ubi ungu. Namun, belakangan dia memperbanyak jenis produk olahan ubi. Misalnya saja, ia membuat burger es krim ubi ungu dengan roti burger. Adi menjual burger es krim tersebut dengan harga Rp 12.000 per buah. “Roti burgernya juga dibuat dari ubi, lo,” ujar Adi berpromosi.
Ia juga membuat jus ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 17.000 per gelas. Kreasi lainnya adalah brownies ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 35.000 per 250 gram, dan pia ubi ungu seharga Rp 17.000 per kotak isi enam buah.
Untuk pesanan khusus, Adi juga membuat nasi ubi ungu. Harganya Rp 17.000 per kotak, sudah termasuk empat tusuk sate ayam lilit. “Dari harga jual ini, secara eceran saya mendapat margin sekitar 30 persen,” ujar Adi.
Tentu Adi punya alasan memperbanyak produk di gerainya di Jakarta. “Kalau menu tidak banyak, pembeli bakal cepat bosan,” kata Adi. Apalagi, persaingan antara sesama pedagang makanan di D’Hoek Bintaro sangat ketat. Salah satu rival terberatnya adalah Burger Blenger. Akibat persaingan yang sengit itu, omzet Sweet Purple hanya sekitar Rp 20 juta sebulan.
Untuk meningkatkan omzetnya, Adi pun rajin mengikuti pameran. “Lumayan, dalam sebulan ada satu atau dua pameran,” ujarnya. Dari setiap pameran, dia bisa mencetak laba bersih Rp 1 juta.
Adi juga sempat membuka cabang-cabang baru. Di antaranya di Police Academy, Ancol, dan di Pasar Pagi. Tapi gerai-gerai baru itu hanya ramai di akhir pekan. “Penjualan kurang bagus dan saya tutup,” ujarnya.
Sejak dua pekan lalu, dia pun memindahkan gerainya ke Summarecon Serpong dan ke Lippo Karawaci. Sebelumnya, Adi sudah lebih dulu memindahkan gerainya di D’Hoek ke belakang McDonald’s Bintaro sektor 9. Di pusat jajanan tersebut, aroma persaingan tidak begitu kental. Maklum, kendati di situ ada sekitar 90 gerai makanan, tetapi jenis makanan yang mereka jajakan berbeda-beda dan memiliki kekhasan sendiri.
Adi mengaku mendapat tawaran membuka gerai di Ranch Market, Kelapa Gading, dan di Dufan. Tapi ia masih pikir-pikir dulu. Kini ia ingin mewaralabakan usahanya. Namun, belum ada mitra yang berminat. (Aprillia Ika/Kontan)
Editor: Edj
Sumber : www.kontan.co.id
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:37 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Raup Jutaan Rupiah dari Keripik Jamur Tiram
Tuesday, October 27, 2009
Tahun 2006 merupakan tahun perkenalan pasangan Tri Sugiatno dan Wiwik Widiastuti dengan jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Namun, hanya dalam waktu tiga tahun, mereka berhasil membudidayakan jamur dan mengolahnya menjadi keripik sehingga menghasilkan pendapatan jutaan rupiah.
Perkenalan itu dimulai saat Wiwik datang ke acara lomba desa di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Di sana, hasil budidaya jamur tiram petani menjadi salah satu peserta lomba. Setelah melihat dan mengetahui budidaya jamur itu mudah dan murah, Wiwik pun terdorong membudidayakannya.
”Hanya coba-coba awalnya,” ujar Wiwik. Latar belakang Tri adalah lulusan jurusan mesin Universitas Merdeka, Madiun. Wiwik lulusan jurusan ekonomi Universitas Merdeka, Malang. Namun, ketidaktahuan mereka mengenai budidaya jamur tidaklah menjadi penghalang.
Dibelilah 200 bag log (campuran bibit jamur, serbuk kayu, bekatul kapur kawur, dan pupuk dalam plastik) seharga Rp 300.000. Bag log itu lalu disusun di kumbung (rumah jamur) berdindingkan anyaman bambu seluas 42 meter persegi, di samping rumahnya di RT 29 RW 3 Jatirogo, Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
Hanya dengan disiram air bersih setiap hari, jamur berwarna putih bertumbuhan di setiap bag log. Dalam waktu satu bulan, jamur sudah bisa dipanen. Jamur itu terus muncul sampai empat hingga lima bulan berikutnya, sebelum kemudian bag log harus diganti baru.
Jamur putih yang dipanen sekitar lima kilogram setiap hari itu lalu dijual ke tetangganya Rp 8.000 per kilogram. Tanpa dinyana, mereka tertarik membeli guna dipakai membuat sayuran.
Banyaknya peminat itulah yang mendorong Wiwik dan Tri menambah jumlah bag log sampai akhirnya tahun 2007 sebanyak 1.000 bag log dibudidayakan di kumbung. Hasilnya, setiap hari mereka panen sampai 30 kilogram jamur putih.
Namun, banyaknya jamur putih yang dipanen itu justru membingungkan Wiwik dan Tri. Pasalnya, dari 30 kilogram hasil setiap hari, hanya sekitar 5 sampai 10 kilogram yang bisa terjual. Sisanya, menumpuk di gudang, tak ada pembelinya.
Dari situlah Tri lalu berpikir mengolah jamur tiram menjadi keripik, tetapi tidak mudah diwujudkan. Percobaan membuat keripik jamur tiram tidak kunjung berhasil. ”Ada yang keripiknya melempem, ada yang rasanya enggak enak,” kata Tri.
Sampai pada percobaan memasak ke-10, Tri dan Wiwik menemukan takaran yang pas. Jamur tiram yang digoreng dengan dicampur tepung terasa gurih dan enak rasanya.
Dengan pegangan ”resep rahasia” itu, keduanya memasak sekitar lima kilogram jamur untuk dijadikan keripik. Ada dua jenis keripik yang dijual, keripik berkualitas baik dijual Rp 70.000 per kilogram. Keripik yang nomor dua dijual Rp 1.250 per kemasan kecil.
Keripik jamur tiram awalnya dicoba dijual ke tetangga, warung, dan restoran sekitarnya. Awalnya ada penolakan karena sejauh yang mereka tahu jamur bisa membuat keracunan. Namun, setelah keripik dicoba dan aman, mereka pun membelinya dan menjadi pelanggan tetap.
Permintaan mengalir
Penyebaran dari mulut ke mulut membuat keripik kian dikenal. Awal 2009, permintaan bertambah, tetapi produksi jamur tiram terbatas.
”Permintaan datang dari luar Madiun, seperti Banjarmasin, Samarinda, Riau, dan Madura. Ada eksportir dari Lumajang yang menawarkan ekspor produk saya. Banyak juga tenaga kerja Indonesia yang membawa keripik saya untuk dijual di luar negeri,” ujar Tri.
Tri pun mencoba bekerja sama dengan 11 petani jamur di wilayah Dungus dan Kresek, Madiun. Jamur petani dibeli Rp 8.500 per kilogram ditambah jamur budidaya sendiri, Tri dan Wiwik mendapatkan jamur setengah kuintal per hari. Jamur dimasak dengan enam penggorengan untuk menghasilkan setengah kuintal keripik per hari.
Omzet penjualan keripik sekitar Rp 3 juta per hari. Penghasilan bersih sekitar 10-20 persen dari omzet, antara Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Padahal, tiga tahun yang lalu, omzet dari menjual jamur tiram putih hanya Rp 40.000 per hari.
Ternyata jumlah produksi itu belum cukup memenuhi permintaan, terutama seperti mendekati Lebaran. ”Permintaan naik 100 persen. Butuh satu kuintal jamur tiram putih per hari untuk memenuhi permintaan. Hanya separuh permintaan yang dipenuhi,” kata Tri.
”Budidayanya mudah, murah, dan potensi pasarnya besar, tetapi sayang tidak banyak warga yang mengetahui hal ini sehingga ragu membudidayakannya,” tambahnya.
Karena itu, setiap kali warga atau mahasiswa datang belajar budidaya jamur tiram, dia memberikan pelajaran gratis. Biar semakin banyak orang mau menanam jamur tiram. Jika pasokan jamur tiram itu terbatas, obsesinya membuat waralaba keripik produksinya pun terganjal.
Dia harus berkutat sendiri dengan usahanya karena perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun, terutama Dinas Pertanian pada pengembangan budidaya jamur sangat minim. Padahal, budidaya itu bisa menambah kesejahteraan petani.
”Perhatian pemerintah baru muncul kalau mengadakan acara. Kami diperebutkan oleh dinas-dinas yang mengklaim kami sebagai industri binaan mereka,” kata Tri sambil tersenyum. (A Ponco Anggoro)
Editor: Edj
Sumber : Kompas Cetak
Selengkapnya...
Posted by Admin at 5:43 PM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
