Kali ini spa bukan monopoli orang dewasa. Di Dharmawangsa Square ada Spa Baby yang melayani anak dari bayi usia tiga bulan. Bisa jadi karena jumlah jenis salon ini masih terbatas, Spa Baby yang dirintis Dini Sembiring ini selalu dipadati ibu-ibu beserta buah hati mereka.
Jumlah salon khusus untuk anak-anak dan bayi memang masih sedikit. Sudah begitu, umumnya salon tersebut hanya menawarkan layanan potong rambut saja. Padahal kebutuhan perawatan tubuh anak dan bayi secara menyeluruh terus meningkat, khususnya untuk anak-anak yang orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah.
Bagi Dini Sembiring, serta kakak beradik Mitzy dan Cindy Christina, hal ini adalah sebuah peluang bisnis. Ketiga ibu yang memiliki anak bawah lima tahun (balita) ini merasakan sendiri betapa susahnya mereka mencari salon anak yang menyediakan perawatan menyeluruh.
Melihat besarnya kebutuhan tersebut, enam bulan lalu dengan modal sekitar Rp 1 miliar, ketiga ibu muda ini -pun membuka Spa Baby. Salon ini menawarkan layanan menyeluruh untuk anak -anak termasuk bayi di atas umur tiga bulan.
Meski baru berusia setengah tahun, Spa Baby yang berlokasi di Dharmawangsa Square, Jakarta ini langsung menyedot banyak peminat. Di akhir pekan, salon bisa.biasanya dipenuhi 36 bayi dan anak. Tak heran Dini Cs bisa meraup omzet rata-rata Rp 1,5 juta dalam satu hari.
"Boleh dibilang Spa Baby adalah salon bayi paling komplit saat ini," ajar Dini menyebut kelebihan salonnya. Selain menawarkan layanan komplit, salon ini juga menjanjikan keamanan dan kenyamanan bagi si kecil. Mereka menggunakan alat-alat yang diimpor dari Amerika Serikat.
Tarif layanan di salon'ini cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari salon dewasa. Maklum, selain alat-alatnya impor, perawatan para bocah juga harus dilakukan ekstra teliti dan hati-hati.
Untuk layanan potong rambut, tarifnya Rp 100.000 - Rp 150.000. Harga paket manicure, pedicure serta masker Rp 150.000. Layanan aqua swim baby dan pijat bayi Rp 200.000. Creambath Rp 150.000 per anak. Terakhir layanan Kid Massage Rp 225.000 per anak.
Salah satu layanan favorit pelanggan di salon ini adalah aqua swim baby. Konon layanan untuk bayi usia 3-12 bulan ini satu-satunya di Indonesia saat ini. Dalam layanan ini, bayi akan berenang mengenakan pelampung khusus yang diikatkan di leher. Pelampung tersebut dirancang khusus sehingga tidak mencekik leher bayi sekaligus membuat bayi bergerak bebas.
Kolam renang bayi sendiri berupa bath tub mini berukuran 1 x1 m yang dipakai bergantian antara satu bayi dengan bayi lain. Tentu setiap berganti bayi, airnya juga diganti. Satu sesi renang, waktunya hanya 15 menit sampai 20 menit bagi bayi yang sudah terbiasa. "Swim baby ini bisa memperkuat gerakan otot bayi," ajar Dini.
Ibu berusia 31 tahun ini mengaku mendapatkan ide serta ilmu renang bayi ini dari Singapura. Di bagian renang bayi ini pengelola menempatkan petugas yang merupakan mantan baby sitter yang sudah biasa mengurusi bayi.
Dalam sehari, Dini hanya bisa menangani sampai delapan bayi yang ingin berenang. Padahal antrian bayi yang ingin berenang bisa membeludak sampai puluhan pada akhir pekan. Maka, Dini membuat paket khusus renang bayi. Misalnya paket tiga kali datang seharga Rp 500.000. Pembeli paket ini tidak perlu antri untuk mendapatkan giliran berenang.
Selain layanan renang bayi, layanan lain yang diminati adalah layanan potong rambut. Agar tak rewel, bayi yang usianya masih tiga bulan atau lebih dan anak-anak ditempatkan di kursi khusus yang unik. "Mereka bisa memilih kursi binatang mana yag disukai, serta memilih siaran televisi portabel mana yang diminati," ujar Dini.
(Aprilia Ika/Kontan)
Selengkapnya...
Fulus dari Usaha Mendandani Bayi dan Anak
Friday, May 8, 2009Posted by Admin at 10:21 AM 0 comments
Labels: Lain-lain
Berkah dari Usaha Kaus Dakwah
Thursday, May 7, 2009
Anda mungkin tergelitik dengan banyolan khas yang tertulis pada kaus buatan Joger, Dagadu Yogya, atau gambar dan tulisan ala C59. Nah kali ini, dari Kota Kembang muncul lagi pendatang terbaru di bisnis kaus. Bedanya, tulisan dan gambar pada produk mereka menggunakan slogan dakwah.
"Dengan memproduksi kaus, kami ingin mewarnai dan memberi aura positif," ujar Lucky Rahmat, Manajer PT Diplus Indonesia, sang produsen kaus religi.
Bisnis kaus dakwah ini bermula dari pertemuan rutin Ihaqi, kelompok pelatihan manajemen berbasis religi dengan anggota sekitar 6.000 orang. Dari pertemuan itulah tercetus ide membuat merchandise. Erick, pemilik PT Diplus, memutuskan mencetak kaus bernada dakwah. Modal awalnya Rp 10 juta.
Awalnya, Ihaqi hanya memproduksi 100 kaus. Proses pembuatannya pun masih menumpang pada pabrik kaus kenalan Erick. Karena menuai respons bagus, Erick memproduksi lebih banyak lagi. Dari hanya kaus, ia mulai membuat pin, topi, serta tas kecil tempat mukena dan Al Quran.
Masing-masing produk selalu bergambar dan bertuliskan pesan-pesan religi, misalnya bertutiskan 'Senyum Itu lbadah" dan "Muslim Ritual Pray".
Saat ini, kata Lucky, perusahaannya memproduksi 6.000 kaus setiap dua bulan. Adapun produksi pin sekitar 5.000 buah per bulan, topi dengan tiga model sekitar 900 buah per bulan, dan tas sekitar 200 buah setiap bulan. Semua merchandise tersebut dipajang di gerai Ihaqi yang terletak di Jalan Trunojoyo, Bandung.
Untuk kaus anak-anak, Ihaqi membanderol produknya dengan harga Rp 50.000 per helai. Kaus lengan panjang untuk perempuan harganya Rp 90.000 per kaus, dan kaus lengan pendek untuk laki-laki Rp 80.000.
Lucky mengatakan, dalam sebulan bisa melego 2.500 lembar kaus, sedangkan penjualan aksesori lain, seperti pin sebanyak 2.000 unit per bulan, topi 100 buah, dan tas 100 buah per bulan. Dari penjualan itu, Lucky meraup omzet Rp 150 juta sebulan. Sekitar 20 persennya masuk kantongnya sebagai keuntungan.
Andalkan agen
Bagi Lucky, prospek bisnis ini cukup bagus. Lucky menyebut peluangnya besar karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim.
Dari mutu produk, kata Lucky, Ihaqi membidik segmen kelas menengah. "Kami tak bisa main terlalu ke bawah karena bahan baku yang kami gunakan juga bukan sembarangan," katanya, berpromosi. Sementara kelas atas, belum tentu suka dengan produk ini karena biasanya mereka lebih memilih kaus branded.
Kata Lucky, pada hajatan Ina Craft di Jakarta April lalu, produk Ihaqi ternyata banyak diminati. Bahkan, langsung mendapat tiga agen yang siap membeli produk Ihaqi dalam jumlah besar, yakni dari Bogor, Cirebon, dan Balikpapan. Mereka ini umumnya meminati kaus dan pin. Hingga berakhirnya Ina Craft, Ihaqi mampu menjual hingga 1.200 lembar kaus.
Saat ini Lucky sedang membentuk komunitas agen Ihaqi. Dia berniat merekrut agen dari tingkatan SMP, SMU, perguruan tinggi, hingga ibu-ibu pengajian. Sebab, Lucky menilai, pemasaran lewat agenlah yang paling cepat.
Jika agen sudah mencapai 50 orang, Ihaqi memberikan pelatihan entrepreneurship gratis. (Dupla Kartini PS/Kontan)
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:23 AM 0 comments
Labels: Garment
Adi, Pedagang Kaki Lima yang Jadi Juragan Tas
Sudah banyak cerita pedagang kaki lima yang kemudian menjadi pengusaha sukses. Salah satunya adalah Muhammad Adi, pemilik CV Intascus Sport, produsen tas yang cukup besar.
Bisa dibilang, Adi merintis usahanya ini benar-benar dari bawah. Pria tamatan sebuah SMA di Surabaya ini sudah kenyang makan asam garam sebagai pekerja rendahan.
Mulanya, selulus SMA pada 1981, Adi mencoba mengadu nasib merantau ke Sulawesi dengan menjadi buruh di sebuah toko agen barang pecah belah. Adi terpaksa merantau karena harus membantu membiayai sekolah adik-adiknya.
Namun, ia tidak lama bekerja di toko itu. Adi pun kemudian meloncat ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh kasar di PT Newmont. Namun, lagi-lagi, Adi tak betah dan memutuskan pulang ke Surabaya.
Ternyata pulang ke rumah malah membuatnya gelisah, apalagi kalau melihat adik-adiknya yang membutuhkan bantuannya. Karena itu, pada 1982, Adi nekat ke Jakarta. Di ibu kota negara ini, Adi tinggal di kawasan Senayan berkat kebaikan sesama perantau asal Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Mereka bekerja sebagai pelayan dan buruh,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 April 1962 ini.
Untuk menyambung hidup, Adi bekerja serabutan. Pagi hingga siang hari ia menjadi penjual tas keliling dari kantor ke kantor. Malam harinya Adi menjadi juru parkir di Senayan.
Meski penghasilannya kecil, dengan sekuat tenaga Adi berusaha menyisihkan penghasilannya untuk modal berbisnis. “Modal pertama saya hanya Rp 50.000,” kenang Adi.
Dengan uang segitu, Adi kulakan tas di Pasar Pagi untuk dijual kembali. Beruntung, dagangannya selalu habis terjual. “Hasil jualan saya putar lagi,” kata bapak tiga anak ini.
Sayang, jiwa muda Adi yang masih bergelora membuatnya tergoda untuk berfoya-foya. Namun, setelah menikah pada 1985, Adi mulai berpikir serius menjadi pengusaha tas sendiri. Ketika itu, modalnya pun pas-pasan. “Saya terpaksa menjual perhiasan istri untuk modal awal,” kata Adi. Lagi-lagi dengan uang Rp 50.000 Adi memulai usahanya.
Lantaran tak punya mesin jahit, Adi terpaksa meminjam milik temannya. Sedikit keahlian menjahit ia manfaatkan sebaik-baiknya.
Setelah enam bulan berjalan, usahanya mulai menampakkan hasil. Adi pun memberanikan diri menggaji seorang karyawan untuk meningkatkan produksi. Dengan satu karyawan itu, Adi mampu menghasilkan 150 tas per tahun seharga Rp 20.000 per tas. Dari harga segitu, Adi mengambil laba Rp 12.000 per tas. Maklum, modal membuat satu tas hanya Rp 8.000.
Sejak saat itu, setiap enam bulan sekali Adi menambah seorang karyawan. Untuk pemasaran, Adi memanfaatkan jaringan yang telah ia rintis saat masih berdagang tas keliling.
Pada 1987, Adi mulai menjalin kerja sama dengan panitia penyelenggara rapat atau pelatihan di hotel-hotel. “Pada 1987 saya sudah memiliki tenaga pemasaran 18 orang,” tutur Adi.
Omzetnya pun telah melonjak hingga Rp 3 juta per hari, jumlah rupiah yang sangat besar kala itu. Sementara itu, total produksi mencapai 600 unit per hari. Laiknya roda kehidupan, posisi Adi tak selalu di atas. “Saya pernah kekurangan modal untuk menyelesaikan pesanan sampai harus menjual kendaraan operasional,” tutur Adi.
Masa yang paling suram bagi Adi adalah saat pecah kerusuhan pada Mei 1998. Saat itu, para karyawannya ketakutan dan memilih pulang kampung. Sialnya, barang dagangan juga ikut mereka bawa hingga tak ada yang tersisa. “Saya rugi ratusan juta,” kenang dia.
Toh, semangat Adi tidak pernah surut. Berbekal pinjaman bank, Adi mencoba bangkit. Beruntung, pada 1999 bisnis tas kantor kembali naik daun. Adi pun kembali menggenjot produksi dan mampu mencetak omzet Rp 50 juta per bulan.
Sekarang, dalam sebulan paling sedikit Adi memproduksi lebih dari 1.000 tas. “Omzetnya sekitar Rp 100 juta, dengan margin laba 20 persen sampai 40 persen,” ungkap Adi. Kini, ia punya klien tetap dari instansi pemerintah, seperti Departemen Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia.
Selain tas kantor, Adi juga memproduksi jenis tas lain, seperti tas perempuan. “Ini hasil belajar otodidak,” ujar dia.
Bagi rezeki
Sudah menjadi kodrat, setiap orang membutuhkan orang lain. Begitu juga dalam bisnis. Karena itu, untuk memenuhi banyaknya pesanan tas, Muhammad Adi tak segan-segan membagi order ke konveksi lain. Adi mengatakan, kadang-kadang jumlah pesanan tas memang tak bisa ia tangani sendiri. Alhasil, daripada order lepas, ia membagi lagi (subkontrak) pesanan kepada konveksi lain. “Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lainlah,” ujar Adi.
Untuk pola kerja sama ini, Adi memilih menggunakan sistem bagi hasil yang ia nilai lebih adil. Artinya, keuntungan yang ia peroleh dari penjualan tas akan ia bagi ke pengusaha lain sesuai dengan porsi yang mereka kerjakan.
Soal pesanan, Adi tak terlalu khawatir. Pasalnya, ia sudah memiliki pelanggan tetap, yaitu Kepolisian Republik Indonesia dan Departemen Perhubungan.
Misalnya, Polri biasanya memesan tas kantor dua kali dalam setahun. Satu kali pesanan sebanyak 8.000 unit dengan tenggat waktu pengerjaan selama empat bulan. “Pesanan rutin ini baru empat tahun belakangan ini,” imbuh Adi.
Di luar pesanan Polri, Adi biasanya menerima pesanan tas belanja dari biro perjalanan. “Jumlahnya memang tidak sebanyak pesanan Polri. Rata-rata 500 unit,” kata Adi. (Widyasari/Kontan)
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:10 AM 0 comments
Labels: Kerajinan
Mengintip Basahnya Bisnis Lidah Buaya
Wednesday, May 6, 2009
Budi daya lidah buaya atau Aloevera sangat menjanjikan. Karena lidah buaya bukan semata tanaman hias, tapi bisa menjadi bahan dasar minuman yang menyehatkan. Bahkan, bisa dijadikan tepung untuk bahan dasar kosmetika.
”Lidah buaya yang dapat menambah nilai ekonomis dan jenis unggulan adalah barbadencise dan sinencise. Karena pelepahnya besar dan tebal,” kata Ketua Koperasi Serba Usaha (KSU) Tani Aloevera Syamsuri di Kampus UI Depok beberapa waktu lalu.
Selama ini, KSU Tani Aloevera bekerja sama dengan Pusat Sinergi Riset dan Bisnis Fakultas MIPA UI yang dipimpin Erlin Nurtiyani. Menurut Erlin, pihaknya sudah memiliki lima paten produk lidah buaya dalam bentuk minuman, kapsul, tepung, dan effervescent.
Dengan mendirikan PT Kavera Biotech, Erlin memproduksi semua itu dengan bahan baku yang dipasok dari KSU Tani Aloevera. Namun, kata Erlin, produknya hanya menggunakan lidah buaya organik. ”Dari uji coba laboratorium, aloevera yang menggunakan pupuk kimia hasilnya tidak bagus,” katanya yang meneliti pengolahan lidah buaya sejak 1998 dan baru mematenkannya tahun 2001.
Menurut Erlin, sambutan pasar sangat bagus atas minuman lidah buaya. Petinggi di Mabes Polri menjadi salah satu pelanggannya. Bahkan, pernah dikirim ke Abu Dhabi. ”Namun kami belum siap memenuhi permintaan pasar karena kekurangan bahan baku,” kata Erlin yang berharap minuman lidah buaya bisa menjadi Coca-Cola versi Indonesia. ”Bulan depan sudah ada investor yang sanggup menyediakan mesin untuk pabrik pembuatan minuman dalam kemasan di Sawangan, Depok,” kata Erlin.
Minuman lidah buaya Kavera dikemas dalam botol kaca ukuran 300 ml dijual Rp 7.500 dan untuk ukuran gelas Rp 3.000. Minuman Kavera bisa bertahan sampai satu tahun meskipun tanpa bahan pengawet. ”Namun Kavera tidak dipasarkan ke pasar modern,” kata Erlin.
Rp 1.000 per kg
Sementara itu, Syamsuri mengatakan, KSU Tani Aloevera sudah membina petani-petani di Depok untuk bercocok tanam lidah buaya yang hasilnya mencapai 5 ton sekali panen. Panen lidah buaya rutin dilakukan setiap bulan dengan memetik dua pelepah dari setiap pohon. ”Padahal, kebutuhan lidah buaya dalam satu hari minimal 1 ton,” katanya.
Karena itu, KSU Tani Aloevera mengajak masyarakat menjadi petani lidah buaya dan hasil panennya nanti akan dibeli koperasi dengan harga Rp 1.000/kg. ”Semua lidah buaya hasil dari petani yang kami bina, pasti dibeli oleh koperasi,” ujar Syamsuri.
Syarat untuk mendapat jaminan hasil lidah buaya dibeli koperasi, antara lain wajib menjadi kelompok tani binaan KSU Tani Aloevera, membeli bibit dari koperasi, serta kualitas tanaman standar koperasi, seperti pelepah tidak luka dan cara pemetikan dilakukan dengan benar.
Harga bibit lidah buaya Rp 2.000 per batang umur dua bulan. Sementara, untuk pupuk organik dan pupuk kandang kambing dipasok koperasi. ”Karena pupuk organik dan pupuk kotoran kambing sangat baik untuk pertumbuhan lidah buaya. Jika menggunakan pupuk kotoran ayam hasilnya tidak bagus. Kalau menggunakan kotoran sapi harus direbus dulu,” kata Syamsuri sambil menambahkan petani bisa menjual bibit anakan lidah buaya ke koperasi Rp 1.000 per batang. (Mirmo Saptono/Warta Kota)
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:41 AM 0 comments
Labels: Makanan-Minuman
Martini, Dengan Rp 250.000 Raup Euro dan Dollar AS
Monday, May 4, 2009
PENGUSAHA kerajinan jarang tergusur oleh industri modern. Soalnya, pekerjaan tangan tidak bisa digantikan mesin, bahkan mesin yang canggih sekali pun.
Berkah itulah yang sekarang dinikmati Martini. Ibu seorang putri ini sudah sembilan tahun berbisnis kerajinan. Ia membuat beragam barang anyaman dan mengekspor produknya ke Eropa dan Amerika.
Kini, perusahaan bernama Martini Natural, yang ia dirikan dengan modal Rp 250.000, telah berkembang menjadi besar.
Setidaknya, Martini mempekerjakan 70 karyawan di rumahnya sendiri. Selain itu, ia merekrut 600 pekerja di Bantul dan Kulonprogo. Dari merekalah Martini mendapatkan pasokan anyaman. “Tenaga kerjanya tersebar di DIY, Klaten, dan Solo, Kutoarjo, Purworejo, dan Magelang,” kata Hari Santosa, Direktur PT Sarana Yogya Ventura (SYV), anak perusahaan PT Bahana Artha Ventura, pemberi kredit untuk Martini.
Kebanyakan pekerja yang terlibat dalam usaha Martini adalah perempuan. Di antaranya banyak pula yang berusia lanjut (lansia). Menurut Martini, ada beberapa jenis produk yang memang bisa dikerjakan oleh lansia. “Daripada mereka enggak ada pekerjaan, saya beri nenek-nenek itu kegiatan seperti ini,” ujar wanita 36 tahun ini.
Kisah bisnis Martini cukup unik. Dunia anyam-menganyam sebenarnya bukan hal baru bagi anak ketiga dari empat bersaudara ini. Sejak masih SD, Martini sudah kerap menganyam, untuk tugas sekolah. Namun, begitu berangkat dewasa, Martini mengaku tidak pernah terpikir untuk memakai keahlian tersebut. Bahkan, ia bekerja sebagai pembantu rumahtangga. Menuruti mata pencahariannya itu, Martini sempat berkelana ke Padang dan Lampung.
Sehabis menikah, Martini memutuskan untuk pulang kampung. “Setelah menikah, saya bekerja pada orang lain untuk membuat anyaman,” ujar istri Nurhadi ini. Tak lama kemudian, perusahaan tempatnya bekerja tersebut tutup. Maka, Martini memberanikan diri untuk menjajal bisnis kerajinan miliknya sendiri.
Mulai 1 Maret 1999, di Kulon-progo, Yogyakarta, Martini membuat anyaman dari eceng gondok. Perempuan yang juga pernah berdagang sayur di pasar tradisional ini menguras tabungan untuk modal.
Tanpa ragu, Martini menyerahkan produk anyaman, seperti tas dan karpet bikinannya, kepada pedagang kerajinan. Ia menggenjot sepeda tua peninggalan orangtuanya, sejauh sekitar 40 kilometer, demi mengantarkan dagangan. “Pesanan itu diantar minimal dua hari sekali,” sambung Martini.
Ternyata, kerajinan bikinan Martini disukai. Permintaan dari pedagang makin banyak. “Modal Rp 250.000 itu terus berputar,” kenang Martini. Lama-lama, ia kewalahan memenuhi permintaan. Ia mulai merekrut saudara dan tetangga sekitar untuk menganyam. Adapun ia sendiri mengerjakan desain dan sampel produknya.
Berkat kegigihannya memenuhi tenggat waktu, order buat Martini pun meningkat. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Padahal, Martini tidak punya sumber tambahan untuk modal. Alhasil, kalau terlalu banyak order, ia melemparnya ke pengusaha lain.
Bisnis Martini berkembang pesat tahun 2003, setelah ia ikut pameran. Ia mendirikan agen di Jakarta dan memasok beberapa toko di Bali. Masa kejayaan bisnis Martini sudah berasa sejak tahun 2005.
Malang tak dapat ditolak. Tahun 2006, Yogyakarta diguncang gempa, demikian pula dengan Martini Natural. Rumah produksinya di Bantul luluh lantak, sehingga tidak dapat beroperasi. Ia terpaksa membatalkan beberapa pesanan akibat beragam masalah. Pembayaran dari para pembeli pun seret. “Ada pelanggan yang berutang sampai Rp 400 juta,” kata dia. Bisa diduga, aliran kas bisnis Martini terganggu.
Kendati demikian, Martini tidak menyerah. Kali ini ia mencoba mendapatkan pinjaman dari bank. Bermodal tanah 3.000 meter, dia mengajukan kredit. “Tapi, saya hanya mendapat pinjaman Rp 70 juta, sementara modal yang saya perlukan Rp 600 juta,” ujar dia.
Martini pun jalan terus. Sampai suatu kali ia ikut pendidikan kerajinan di Jawa Timur. Rekan-rekan sesama pendidikan tersebut menganjurkan agar Martini menghubungi Bahana Artha Ventura. Alhasil, setelah kembali ke Jogja, ia pun menghubungi Sarana Yogya Ventura.
Pucuk dicita ulam tiba. Sarana Yogya mengambil alih kredit Martini di bank. Mereka juga memberikan suntikan kredit Rp 50 juta. Martini menggunakan seluruh modal tersebut untuk mengerjakan order yang ada. “Order selesai, kemudian usaha saya stabil lagi secara bertahap,” tutur dia.
Dari Sarana Yogya, Martini tidak hanya mendapatkan bantuan dana. Ia juga memperoleh konsultasi usaha gratis, di antaranya bimbingan untuk bertransaksi dengan pihak ketiga dan keterampilan menggunakan internet. “Kebutuhan usaha saya selalu direspons,” kata Martini yang pernah mendapatkan penghargaan UKM Terbaik III dari Dji Sam Soe Award ini.
Belakangan, batas geografis wilayah Yogyakarta ternyata tidak bisa membendung anyaman Martini. Hasil kerajinannya dibawa agen untuk diekspor. “Sejumlah 95 persen pasar Martini Natural adalah untuk ekspor, misalnya ke Prancis dan Italia,” ujar Hari. Untuk pasar lokal, Martini mendirikan gerai di Magelang dan Jakarta.
Merangkak dari PRT dan pedagang sayur
BISA DIDUGA, Martini tidak pernah menduga akan menjadi wanita pengusaha yang sukses seperti sekarang. Maklum saja, orangtua Martini dulu bercita-cita agar anaknya ini menjadi guru. Maka, mereka memasukkan Martini ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG).
Sayang, karena tidak mampu, sekolah Martini terpaksa putus di jalan. “Maklum, waktu itu keluarga kami ada keterbatasan ekonomi,” ujar dia.
Keterbatasan ekonomi keluarga selanjutnya justru menempa Martini menjadi pribadi yang sekarang. Pelan-pelan, Martini menjadi sosok yang memiliki keteguhan dan kesabaran dalam hidup. Ia pun rela menjalani hidup prihatin sebagai pembantu rumahtangga dan pedagang sayur, kendati sempat mengenyam bangku sekolah yang lumayan tinggi.
Kini, bisa dibilang hidup Martini sudah berkecukupan. Nurhadi, suaminya yang dulu sering bekerja di proyek pembangunan, belakangan ikut terlibat mengelola Martini Natural. “Suami saya itu bekerja apa saja bisa,” kata Martini merendah.
Jelas, tidak seperti keluarganya dulu, Martini tidak merasa kesulitan menyekolahkan putri semata wayangnya. Sekarang, putrinya itu kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (Asnil Bambani Amri/Kontan)
Selengkapnya...
Posted by Admin at 9:51 AM 0 comments
Labels: Kerajinan
Eropa Juga Percaya Klenik, Permintaan Batu Obsidian Tinggi
Friday, May 1, 2009
Pengrajin batu mulia lokal belum banyak yang melirik kerajinan batu obsidian. Pasalnya, batu hasil percepatan pendinginan lahar gunung berapi ini sering disetarakan dengan kaca biasa.
Padahal, peluang ekspornya tinggi, terutama ke Eropa. Menurut Agung Yudyasmara, pemilik workshop kerajinan batu obsidian di Lombok, sebagian orang Eropa yang masih percaya klenik, meminati batu obsidian. "Di Prancis, Italia, dan Belanda batu ini dipercaya jadi salah satu jimat pengusir roh jahat yang harus ada di tiap rumah," ujarnya.
Tak heran, pasar terbesar kerajinan batu obsidian ialah kawasan Eropa. Bahkan, bisnis ekspor batu obsidian ke kawasan tersebut tak terpengaruh krisis. "Walau permintaan Eropa untuk kerajinan lain turun, tapi minat mereka terhadap batu obsidian tetap tinggi," ajar Agung.
Hingga kini, perajin batu obsidian masih fokus menggarap pasar Eropa. Mereka belum mampu menembus pasar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, AS belum menerima 16 jenis warna obsidian Indonesia. Pasar AS, saat ini cuma mau menerima obsidian warna hitam saja. "Karena sering dikira kaca biasa, mereka tak mau beli," keluh Agung.
Agung terjun ke dunia kerajinan batu obsidian sejak 2003 di bawah bendera CV Buana Lima. Dia menawarkan aneka produk batu obsidian. Misal bentuk mini aneka hewan, asbak, perhiasan, sampai batu obsidian yang hanya dipoles karena bentuknya sudah unik.
Agung menjual produknya dengan harga Rp 50.000 sampai Rp 300.000 per unit. Padahal harga batu mentahnya, yakni batu obsidian bongkahan dari pengepul di Jawa hanya Rp 5.000 per kilogram. "Harga batu obsidian itu naik 900 persen setelah dibentuk," ujar pemuda 32 tahun ini.
Lantaran warna batu obsidian tak pernah sama, Agung selalu menyediakan stok bahan baku. Sekali pesan, Agung bisa membeli sampai satu ton. "Kalau ada warna yang unik, saya langsung main borong biar perajin lain nggak ada yang punya," katanya.
Agung memanfaatkan internet untuk menjual produknya. Tak disangka, sambutan pasar Eropa meriah. Tiap bulan, dia bisa mengirim dua boks aneka macam produk ke Belanda, Italia, dan Prancis. "Nilainya Rp 10 juta sampai Rp 16 juta sekali kirim," ujarnya. Saat ini, meski krisis, penjualannya ke Eropa relatif stabil.
Agung juga pernah mengirim dua ton batu obsidian poles natural ke Jepang senilai Rp 60 juta. Tak hanya Agung, perusahaan penjual kerajinan PT Habbamas belakangan juga menggeluti bisnis ini. Sejak lima bulan lalu, perusahaan yang sudah berusia tiga tahun ini membuka unit usaha kerajinan batu obsidian.
Habbamas masuk ke bisnis batu obsidian ini lantaran peminat dari Jepang dan Eropa begitu banyak. "Orang sana sudah bisa membedakan mana yang kaca dan mana yang obsidian. Karena dari massa beratnya saja sudah kelihatan beranya," ujar Sekretaris Perusahaan PT Habbamas Bersama Ricka Noviyant.
Untuk urusan bahan baku, Habbamas menggandeng pemasok tetap di Jambi. Perusahaan ini membeli sekitar lima ton bahan baku batu obsidian per bulan.
Produk buatan Habbamas antara lain replika hewan mini, tugu monas, sampai patung abstrak dan obdisian poles natural. Harganya Rp 28.000 sampan Rp 500.000 per unit.
Sayang, Ricka enggan menyebut omzet perusahaannya. "Yang bisa kami bilang, pasar produk ini sangat bagus ke depan," ucapnya. Dia mencontohkan, saat pameran Inacraft pekan lalu di Jakarta, beberapa ratus produk batu obsidian mereka ludes terjual.
(Aprillia Ika/Kontan)
Selengkapnya...
Posted by Admin at 10:24 AM 0 comments
Labels: Kerajinan
